<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999</id><updated>2011-07-30T23:59:32.075-07:00</updated><category term='poetry'/><category term='legislasi'/><category term='wisata'/><category term='islam'/><category term='cerita muncrut'/><category term='peradilan'/><category term='perempuan'/><category term='my summary'/><category term='personal'/><category term='parlemen'/><title type='text'>Idiosyncracy</title><subtitle type='html'>Laws alone can not secure freedom of expression; in order that every man present his views without penalty, there must be spirit of tolerance in the entire population. (Albert Einstein)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>53</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-4579814361524378196</id><published>2010-03-05T00:40:00.000-08:00</published><updated>2010-03-05T00:44:17.553-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>RT Remeh RW Kerdil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/S5DEUT3uw4I/AAAAAAAAAF4/FZJLVAtfO3I/s1600-h/istriku+seribu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/S5DEUT3uw4I/AAAAAAAAAF4/FZJLVAtfO3I/s320/istriku+seribu.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445067802701382530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="  color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; font-family:'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif;font-size:11px;"&gt;&lt;b&gt;Seri Ilmu Hidup Emha Ainun Nadjib&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Membaca adalah kegiatan yang mencerahkan dan berguna. Ia bisa dilakukan dimana dan kapan saja. Ketika menunggu antrian, di waktu senggang, di angkot, bahkan di kamar mandi sekalipun. Terlebih membaca karya seorang Emha Ainun Nadjib, budayawan yang kemudian mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan seni dalam mencintai Allah lewat Kiai Kanjengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritis, gemas, frustasi tapi masih berusaha menyimpan secercah harapan buat negara Indonesia yang makin carut-marut ini, Emha menerbitkan buku kecil yang disebutnya "Seri Ilmu Hidup". "Istriku Seribu" adalah seri pertama yang diterbitkannya Januari 2007 lalu. Buku ini menarik, karena meski dia mengambil tema diskusi "remeh dan kerdil" seperti poligami, namun ia berhasil menariknya menjadi suatu bahasan yang maha penting. Soal kecintaan pada Allah dan Rasulullah, soal bahaya kecintaan yang membabi buta pada dunia, soal pentingnya misi seorang manusia sebagai khalifah di dunia dan bagaimana keduniawian seharusnya ditempatkan oleh manusia, dan terakhir tapi tidak kalah penting, soal "cinta segitiga" antara Allah, Rasulullah, Suami-Istri dalam konteks ar-rahman dan ar-rahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Polimonogami Monopoligami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Buku yang cuma 64 halaman itu mengawali kisahnya dari perdebatan tanpa henti soal poligami dan perlahan mengdekonstruksi serta memberinya suatu makna baru yang disebutnya sebagai "Polimonogami Monopoligami". Dikemas dalam gaya dialog antara si penulis dan Yai Sudrun, Emha juga memasukkan konteks kekinian negara Indonesia dengan perilaku makhluknya yang "lucu" bagai drama komedi berjilid-jilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gayanya yang tidak menggurui tapi usil menyentil dengan mengajukan pertanyaan dan mengajak pembacanya untuk melihat sisi lain dari suatu persoalan, buku kecil ini direkomendasikan untuk dibaca semua orang. Membaca buku ini, terutama dalam perjalanan dari rumah ke kantor yang hampir selalu dalam suasana kemacetan, bagaikan menemukan oase yang mampu merevitalisasi fisik dan jiwa yang dilemahkan oleh rutinitas keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, membaca tulisan Emha, saya teringat dengan pesan-pesan yang selalu disampaikan oleh KD, terutama untuk tidak terjebak dalam cinta keduniawian yang menyesatkan dan menjadi jiwa yang penakut menghadapi ketidakadilan. Emha sesuai porsinya mengkritik dan melawan sekaligus memberikan pencerahan terhadap situasi Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya makanan, ilmu pengetahuan adalah barang dan konsumsi publik yang baru bermakna bila ia dibagi. Oleh karena itu, beberapa kepingan dari buku itu akan disajikan dalam notes HI Duren Tiga Pancoran. Untuk "dimakan", dihabiskan dan jadi bahan renungan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepingan pertama adalah "RT Remeh dan RW Kerdil" yang menurut saya sangat pas merefleksikan kondisi Indonesia saat ini, terlebih selepas melihat drama "pertandingan" Pansus Century kemarin. Selamat Menikmati! &lt;b&gt;(hsn)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RT Remeh RW Kerdil&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku warga dari suatu negara yang sangat penuh berisi segala sesuatu yang remeh-remeh, dengan para penghuni yang sangat mengagumi kekerdilan.&lt;br /&gt;Aku rakyat dari suatu pemerintahan kerdil yang menjalankan periode-periode remeh.&lt;br /&gt;Aku bagian dari perjalanan sejarah suatu masyarakat kerdil yang sangat sibuk menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang remeh.&lt;br /&gt;Aku dilingkupi oleh kebudayaan kerdil dengan perilaku-perilaku yang remeh.&lt;br /&gt;Oleh ilmu-ilmu remeh yang disangka kehebatan oleh para pemuja kekerdilan.&lt;br /&gt;Oleh pembangunan remeh yang menghasilkan bangunan-bangunan kekerdilan.&lt;br /&gt;Oleh pertimbangan-pertimbangan peradaban yang remeh untuk berpanjang lebar memperjuangkan monumen-monumen kekerdilan.&lt;br /&gt;Oleh ideologi-ideologi besar yang semakin diterapkan semakin memperjelas keremhan dan kekerdilan pelakunya.&lt;br /&gt;Oleh karya-karya remeh yang penciptanya merasa besar sehingga kerdil.&lt;br /&gt;Oleh tayangan-tayangan remeh yang pembuatnya sangat membanggakannya dan memerlukan puluhan tahun serta penderitaan di akhir kehidupan untuk memahami yang mereka lakukan adalah kekerdilan.&lt;br /&gt;Oleh remehnya kekerdilan kepemimpinan.&lt;br /&gt;Oleh kerdilnya organisasi dan institusi remeh.&lt;br /&gt;Oleh produksi kerdil dan konsumsi remeh.&lt;br /&gt;Oleh sekolahan kerdil dan gelar-gelar remeh.&lt;br /&gt;Oleh diskusi kerdil dan ceramah remeh.&lt;br /&gt;Oleh cita-cita hidup yang remeh yang disangka kehebatan sehingga satu persatu kaki kekerdilannya tersandung batu zaman.&lt;br /&gt;Bahkan oleh perilaku ibadah dengan penghayatan kerdil dan perjuangan yang pijakannya adalah keremehan sehingga goalnya hanya dua: kekerdilan atau keremehan.&lt;br /&gt;Oleh suatu bangsa yang sangat bergembira dan menikmati segala yang remeh-remeh. Dan yang paling remeh dari segala yang remeh itu adalah bahwa kami semua sama sekali tidak mengerti bahwa itu semua adalah remeh.&lt;br /&gt;Lebih remeh lagi karena kami marah kalau ada yang menyebut kehidupan kami sangat bergelimang keremehan-keremehan..&lt;br /&gt;Sehingga kamupun lahir sebagai manusia yang sangat remeh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-4579814361524378196?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/4579814361524378196/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=4579814361524378196' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/4579814361524378196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/4579814361524378196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2010/03/rt-remeh-rw-kerdil.html' title='RT Remeh RW Kerdil'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/S5DEUT3uw4I/AAAAAAAAAF4/FZJLVAtfO3I/s72-c/istriku+seribu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5247426573208631191</id><published>2010-01-24T22:33:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T22:35:12.239-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peradilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Akses Keadilan untuk Perempuan (2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Persoalan Besar Akses Keadilan Berperspektif Perempuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Akses keadilan berperspektif perempuan penting mengingat di beberapa bidang, perempuan adalah pencari keadilan dan pengguna terbesar institusi peradilan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;Komnas Perempuan (2008) mencatat peningkatan pelaporan kekerasan terhadap perempuan hingga 80 persen setiap tahunnya pada periode 2001- 2007 dan menunjukkan lebih dari 25 ribu kasus pada tahun 2007. Dari jumlah kasus tersebut, sebagian besar (82 persen) merupakan kasus KDRT dan sekitar 45 persen korban adalah ibu rumah tangga. Sebagai catatan, ada kemungkinan data ini lebih besar dari realitasnya mengingat sebagian masyarakat masih menganggap tabu untuk melaporkan kasus KDRT. Selain itu, data Susenas (2006) menunjukkan bahwa prevalensi kekerasan terhadap perempuan sebesar 3,1 persen dan terhadap anak sebesar 7,6 persen. Atau, sekitar 3-4 juta perempuan dan sekitar 4 juta anak mengalami kekerasan setiap tahunnya .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Mengacu pada kerangka akses keadilan berbasis HAM di atas, maka akses keadilan berperspektif perempuan harus ditopang dengan adanya peraturan perundang-undangan yang menjamin dan memastikan akses diakui oleh hukum. Beberapa peraturan perundang-undangan sudah dibuat untuk menguatkan posisi tawar perempuan di hadapan hukum. Misalnya, UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-language:IN"&gt;UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) sebagai landasan hukum yang kuat bagi pemerintah untuk mencegah dan memberantas kejahatan perdagangan perempuan dan anak, revisi UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri berikut peraturan pelaksananya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Selain itu, pelbagai upaya lain juga sudah dilakukan. Misalnya, pembuatan perangkat yang dibutuhkan seperti ruang khusus pemeriksaan untuk perempuan, pelatihan-pelatihan gender bagi aparat penegak hukum, dan lain sebagainya. Akan tetapi, perempuan masih mengalami hambatan dan kesulitan akses keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Keadilan tidak bergerak dalam ruang yang vakum sehingga dimaknai secara berbeda-beda oleh lapisan masyarakat maupun aparat penegak hukum. Bagaimana keadilan itu diartikan dan diterapkan oleh aparat penegak hukum sangat dipengaruhi oleh struktur, sistem dan budaya yang tumbuh dalam masyarakat, yang belum memperhatikan kepentingan dan pengalaman perempuan. Akibatnya, terjadi jurang pemisah antara keadilan yang dipahami oleh penegak hukum dan perempuan pencari keadilan. Sehingga, pemenuhan hak-hak perempuan masih dibentengi oleh persepsi mengenai hak-hak, keadilan dan akses terhadap keadilan yang masih bias gender baik dalam mekanisme formal maupun informal. Ada beberapa persoalan besar kesulitan perempuan mengakses keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Pertama, keadilan dibuat untuk tidak mendengar dan berjarak dengan realitas perempuan. Pengalaman perempuan seringkali tidak diperhatikan dan bahkan dinegasikan. Buku &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;“Memecah Kebisuan: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan demi Keadilan” (Komnas Perempuan: Jakarta, 2009) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;mengungkapkan salah satu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;perempuan korban penyiksaan di Aceh pada masa konflik bersenjata 2001 yang bercerita tentang keadilan, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;”Adil adalah adanya kesempatan untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi (pada saya) dan itu diterima sebagai sebuah fakta dan kebenaran”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Perempuan-perempuan korban konflik mengalami kesulitan dalam membawa kasus kekerasan yang dialaminya pada masa konflik ke hadapan hukum. Misalnya, kekerasan terhadap perempuan pada masa konflik dianggap sebagai sesuatu yang “wajar” untuk situasi konflik. Sebagai contoh, pengalaman salah satu korban penyiksaan di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;“Mereka tidak tahu kecuali bahwa saya hanya dipukul. Saya tidak cerita kepada suami. Saya sangat takut dan merasa sangat malu. Saya tidak berani ambil resiko dan tidak berani membayangkan kalau suami saya tahu. Kemungkinan besar, dia tidak bisa menerima bahwa saya telah ditiduri oleh orang lain, walaupun itu diperkosa…. Malu, kalau terjadi perceraian dan masyarakat nanti akan cari tahu (apa alasanya).”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt; &lt;i&gt;(Perempuan Aceh korban penyiksaan seksual pada masa konflik bersenjata, 2003)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;Kedua, masih adanya hambatan sosial dan budaya. Dalam kasus &lt;span style="mso-bidi-font-style: italic"&gt;perempuan korban kekerasan pada masa konflik di atas, mereka kesulitan untuk memberikan bukti-bukti tindak kekerasan yang dialaminya serta perspektif kebudayaan umum terhadap tubuh perempuan yang seakan sah dieksploitasi dalam bentuk apapun di ruang privat atau publik. Seandainya pun kasus tersebut di bawa ke muka publik, mereka juga mengalami hambatan psikologis dan sosial untuk menghadapi segala konsekuensi dari masyarakat sekitarnya akibat terbongkarnya kasus mereka di hadapan umum. Hal yang sama juga terjadi pada kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dalam situasi normal. P&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;ersoalan kemiskinan, domestikasi dan subordinasi status sosial perempuan membuat perempuan semakin termarjinalkan dalam akses keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Ketiadaan perspektif perempuan dan pengabaian pengalaman perempuan dalam struktur pengambilan keputusan, terutama di daerah, mengakibatkan lahirnya produk hukum dan kebijakan yang tidak memerhatikan kepentingan perempuan. Hal yang sama juga terjadi dalam berbagai mekanisme pencarian keadilan informal di mana kultur patriarki yang kuat menghalangi akses perempuan untuk memperoleh keadilan. Perempuan dihadapkan pada aturan-aturan adat dan agama yang masih biasa jender dan melemahkan posisi perempuan. Posisi perempuan yang masih disubordinasikan sebagai makhluk yang lemah secara intelektual, di bawah laki-laki, tidak perlu diikutsertakan dalam pengambilan kebijakan, tidak memiliki pilihan sendiri, tidak dihargai kontribusinya baik dalam ruang privat dan publik, membuatnya menjadi pihak yang terpaksa pasrah ketika berhadapan dengan dominasi patriarki dalam struktur dan budaya di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Sebagai gambaran, sejak tahun 2005 menunjukkan bahwa sekitar 50% dari total kasus yang dilaporkan dicabut kembali oleh korban sehingga proses hukum tidak dapat diteruskan (Komnas Perempuan, 2008). Pencabutan laporan ini diakibatkan perempuan korban masih merasa malu, bersalah atas kekerasan yang menimpa dirinya dan khawatir dipersalahkan oleh keluarga dan masyarakat di sekelilingnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Ketiga, tidak semua perempuan memiliki akses keadilan yang sama. Meski data Pengadilan Agama 2007-2009 menunjukkan bahwa dari 97% kasus yang masuk adalah perceraian dimana jumlah perempuan yang mengajukan perceraian adalah dua kali dari laki-laki,&lt;a style="mso-footnote-id:ftn1" href="file:///F:/PSHK%202010/FHUI/Jurnal%20LSD_Herni_Akses%20Keadilan%20terhadap%20Perempuan_revisi%20mbak%20inge.doc#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character:footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:115%; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Calibri; mso-ansi-language:IN;mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; namun perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki kesulitan mengakses keadilan. Sembilan dari sepuluh perempuan kepala rumah tangga tidak dapat mengakses pengadilan untuk mengajukan kasus perceraian mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Sebagai tambahan, hasil temuan LBH-APIK mengungkapkan bahwa kasus-kasus perempuan yang ditangani oleh organisasi perempuan masih terfokus pada kasus-kasus yang terjadi di perkotaan (World Bank, 2008: 6). Kasus-kasus perempuan di pedesaan, masih belum menjadi bagian dari agenda penanganan organisasi perempuan. Akibatnya, perempuan, terutama yang berasal dari kelompok masyarakat miskin dan tidak terdidik mengalami lebih banyak hambatan untuk memperoleh dan mempertahankan hak-haknya di di hadapan hukum, terutama dalam proses peradilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Keempat, perangkat yang diciptakan khusus untuk penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan tidak berjalan efektif karena terbentur dengan lemahnya kapasitas dan keinginan dari aparat penegak hukum. Dalam contoh kasus yang mengenaskan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:FI;mso-fareast-language:IN"&gt;perempuan korban kekerasan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;masih belum terlindungi hak-haknya dan justru &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:FI;mso-fareast-language:IN"&gt;mengalami aksi pembalasan dari pelaku. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-fareast-language:IN"&gt;Sebagai contoh, di tengah persidangan kasus pembagian harta gono-gini di Pengadilan Agama Sidoarjo, Eka Suhartini ditikam mati oleh mantan suaminya, Kol. TNI AL Irfan Djumrono. Pelaku juga membunuh hakim yang sedang memimpin sidang, Achmad Taufik. Peristiwa ini mencerminkan perempuan korban kekerasan belum dapat mengakses perlindungan saksi dan korban.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Quo Vadis&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt; Masa Depan Akses Keadilan bagi Perempuan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Mewujudkan akses keadilan berperspektif perempuan tidaklah mudah. Sebagai langkah awal adalah mendekatkan perempuan dengan proses di tataran legislasi dan peradilan. Pertama, produk hukum yang dihasilkan harus dipastikan mengandung nilai-nilai keadilan jender yang substansial. Peraturan perundang-undangan adalah produk hukum yang dilahirkan sebagai residu dari pertarungan kepentingan-kepentingan dalam proses politik yang pada akhirnya mereduksi nilai keadilan itu sendiri. Meskipun hakim diberi ruang untuk menginterpretasikan hukum, hakim tetap terikat pada peraturan perundang-undangan dalam mengambil putusan. Oleh karena itu, adalah penting untuk melibatkan perempuan dalam proses legislasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Persoalan selanjutnya adalah membuka akses bagi perempuan untuk menggunakan institusi pengadilan, utamanya bagi perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan. Masalah terbesar adalah biaya proses peradilan yang tidak terjangkau. Sebagai gambaran, pada tahun 2008 biaya perkara perceraian rata-rata di pengadilan agama adalah sebesar Rp. 789.666,- dan di pengadilan negeri adalah Rp. 2.050.000,- (tidak menggunakan bantuan advokat) dan Rp. 10.350.000,- (menggunakan bantuan advokat). Jumlah ini sangat jauh bila dibandingkan dengan penghasilan rata-rata 14% masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, yaitu Rp. 200.262,-. Oleh karena itu, bantuan hukum terhadap perempuan yang hidup di bawah garis kemiskinan perlu ditingkatkan, yang meliputi tidak saja biaya perkara namun juga biaya transportasi ke pengadilan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Terakhir namun tidak kalah pentingnya adalah, tekanan publik untuk mendorong perubahan di tataran non-hukum seperti cara pandang dan perilaku para pengambil kebijakan dan aparat penegak hukum. Para pihak yang terkait mulai dari aparat penegak hukum, pemangku adat hingga masyarakat umum yang menjadi bagian dari permasalahan perlu dilibatkan. Kesadaran bahwa persoalan akses perempuan memperoleh keadilan tidak lagi eksklusif menjadi milik perempuan saja, namun persoalan bersama bagaimana menciptakan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan jender. Suatu tata nilai yang perlu diyakini memberikan manfaat bagi semua orang, demi tatanan masyarakat yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="mso-element:footnote-list"&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;    &lt;div style="mso-element:footnote" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="mso-footnote-id:ftn1" href="file:///F:/PSHK%202010/FHUI/Jurnal%20LSD_Herni_Akses%20Keadilan%20terhadap%20Perempuan_revisi%20mbak%20inge.doc#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:10.0pt;line-height:115%;font-family:&amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:Calibri;mso-bidi-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN;mso-fareast-language:EN-US;mso-bidi-language:AR-SA"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Laporan Pengadilan Agama 2007-2009, masih berupa draft dan belum dipublikasikan, halaman. 5.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5247426573208631191?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5247426573208631191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5247426573208631191' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5247426573208631191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5247426573208631191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2010/01/akses-keadilan-untuk-perempuan-2.html' title='Akses Keadilan untuk Perempuan (2)'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2414086791903589706</id><published>2010-01-24T22:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T22:30:30.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peradilan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Akses Keadilan untuk Perempuan (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" align="right" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt; text-align:right;line-height:normal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Keadilan adalah soal hati nurani. Ketika kita kehilangan hati nurani, maka tidak ada keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;Petikan kalimat di atas yang diambil dalam sebuah film seri tentang kriminalitas, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Crime Scene Investigation&lt;/i&gt;, menyampaikan hal yang utama bagaimana keadilan harus dipersepsikan. Keadilan merupakan nilai yang seringkali dipakai sebagai pedoman dalam suatu proses maupun produk hukum, yaitu putusan pengadilan dan peraturan perundang-undangan Pada dasarnya, masyarakat memiliki harapan bahwa hukum yang dihasilkan dan diterapkan merefleksikan nilai-nilai keadilan. Para pihak yang menempuh proses penyelesaian sengketa, formal maupun informal, memiliki tujuan untuk memperoleh keadilan. Publik secara umum juga mengharapkan produk hukum yang dihasilkan merefleksikan nilai-nilai keadilan yang dianut masyarakat. Pertanyaannya adalah bagaimana keadilan itu dipersepsikan dan keadilan untuk siapa?&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Beberapa tahun belakangan ini, pengarusutamaan gender menjadi bagian penting kebijakan di segala bidang, terutama pada penegakan prinsip-prinsip demokrasi dan pembaruan penegakan hukum. Perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan sebagai kelompok rentan mewarnai pelbagai dokumen kebijakan para pengambil keputusan. Adalah tindakan yang salah secara politik bagi seorang pengambil kebijakan untuk tidak mendukung pengarusutamaan gender dan tidak memiliki keberpihakan terhadap perlindungan hak-hak perempuan. Akses keadilan bagi perempuan merupakan salah satu bagian penting dari pengarusutamaan gender tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Namun demikian, masih ada jurang yang besar antara semangat dan implementasi untuk melindungi kepentingan dan hak-hak serta keberpihakan terhadap perempuan. Gagasan ini masih diterima sebagai jargon dan sesuatu yang sekedar secara politik harus diamini dan didukung. Masih ada ketidakpahaman dan bahkan resistensi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan yang mengakar pada budaya, tradisi, struktur, relasi sosial dan sikap serta nilai-nilai yang dimiliki oleh aparat penegak hukum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Ketika perempuan berhadapan dengan hukum, maka dia tidak saja berurusan dengan peraturan perundang-undangan yang mungkin masih diskriminatif, namun juga sistem dan aparat penegak hukum yang seringkali masih dipengaruhi oleh budaya dan cara pandang patriarkal yang kental. Persepsi para pengambil kebijakan dan aparat penegak hukum terhadap keadilan dan akses keadilan itu sendiri acapkali belum memperhatikan pengalaman dan kepentingan perempuan. Akibatnya, hak-hak perempuan semakin tidak terjamin dan posisinya semakin terpinggirkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Tulisan ini mencoba menelusuri perkembangan konsep akses keadilan. Yaitu dari yang tidak memperhatikan persoalan struktural dalam masyarakat menjadi akses keadilan berbasis hak asasi manusia (HAM). Pendekatan ini berusaha meningkatkan akses keadilan kelompok marjinal, terutama perempuan dan anak, serta memperhatikan pengalaman mereka dalam proses hukum. Namun demikian, untuk mewujudkan akses keadilan bagi perempuan tidak saja membutuhkan perbaikan di bidang proses beracara di peradilan saja, namun juga meliputi banyak aspek mulai dari peraturan perundang-undangan, kesiapan institusi negara dan perubahan radikal terhadap nilai-nilai aparat penegak hukum dan masyarakat. Sehingga, akses terhadap keadilan bagi perempuan perlu dilihat dari spektrum yang lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Evolusi Gagasan Akses Keadilan: Dari Pendekatan Ekonomi ke HAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Manusia perlu melindungi hak-haknya dari setiap kemungkinan pelanggaran hak atau kekerasan yang dilakukan oleh manusia lain, terutama ketika terjadi sengketa atau konflik. Ketika itu terjadi, maka perlu ada tindakan koreksi berupa restitusi ataupun kompensasi atas pelanggaran hak atau kekerasan yang dilakukan terhadap korban. Proses ini dapat dilakukan secara formal oleh institusi penegak hukum yang dibentuk oleh negara maupun institusi penyelesaian sengketa atau konflik informal yang hidup dan mengakar dalam budaya masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Namun demikian pada kenyatannya, tidak semua kelompok masyarakat dapat mengakses proses itu dan memperoleh keadilan. Ada kesenjangan relasi kekuasaan dalam masyarakat dan ketimpangan struktural lainnya yang membuat mereka tidak memiliki daya dan kapasitas, tidak merasa perlu untuk menempuh jalur penyelesaian hukum atau sebaliknya dirugikan hak-haknya oleh sistem hukum. Akibatnya, posisi dan kondisi mereka terancam semakin lemah dan terpuruk. Disinilah persoalan akses keadilan bagi kelompok masyarakat marjinal, terutama perempuan, menjadi penting.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Terminologinya akses terhadap keadilan sesungguhnya tidak mudah dijelaskan. Namun, akses keadilan sebagai suatu gagasan bukan suatu hal baru. Gagasan ini dapat ditelusuri setidaknya sejak masa liberalisme klasik. Wacana mengenai akses terhadap keadilan itu sendiri berangkat dari keresahan mendasar setiap orang terhadap sistem hukum. Untuk apakah sistem hukum itu dibuat dan siapakah yang sesungguhnya memperoleh keuntungan dari itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Mauro Cappeletti dan Bryant Garth (1978) mencoba menelusuri perkembangan gagasan ini. Liberalisme klasik memandang akses terhadap keadilan sebagai sebuah hak dasar (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;natural right&lt;/i&gt;) sebagai hak individu untuk menuntut dan memperoleh hak-haknya. Namun demikian, karena sifatnya yang &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;natural right &lt;/i&gt;maka tidak dibutuhkan tindakan afirmatif dari negara untuk melindungi hak-hak tersebut dan memedulikan kelompok masyarakat yang tidak memiliki kapasitas untuk mengakses institusi hukum. Akibatnya, akses terhadap keadilan hanya diperuntukkan bagi mereka yang mampu memanfaatkan institusi ekonomi, politik dan hukum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Konsep ini pun mengalami evolusi, sejalan dengan perkembangan masyarakat pasar bebas yang memunculkan wacana hak asasi manusia dan konsep kolektivitas yang menyeimbangkan karakter individualitas yang menjadi ciri khasnya. Gerakan yang mewacanakan hak-hak sosial dan kewajiban negara, masyarakat, dan individu pun meluas. Hal ini terefleksikan dalam dokumen-dokumen penting seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Bills of Rights &lt;/i&gt;dan Konstitusi Perancis 1946 yang menjadi tonggak perubahan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Perdebatannya tidak lagi terfokus pada pemenuhan hak-hak saja, namun juga bagaimana hak-hak tersebut dapat dimiliki dan diakses oleh semua orang. Sehingga dalam sistem demokrasi modern yang mulai berkembang luas, pemenuhan hak akses terhadap keadilan membutuhkan peran negara untuk menciptakan kondisi dimana hal itu dapat diakses oleh semua orang. Oleh karena itu, gagasan mengenai akses keadilan pun bergeser. Akses keadilan dengan pendekatan berbasis ekonomi bergeser menjadi akses keadilan berbasis hak asasi manusia (HAM).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Peran negara diperlukan karena negara memiliki kewajiban untuk melindungi hak asasi manusia penduduknya. Hak asasi manusia adalah dasar yang sah untuk menuntut kewajiban negara memenuhi hak-hak yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat sebagai manusia. Tujuannya untuk memberdayakan kelompok miskin, marjnal lainnya dan menguatkan tata pemerintahan yang demokratis. Hal ini yang melatarbelakangi munculnya program-program akses keadilan berbasis hak asasi manusia. Membuka akses terhadap keadilan sebagai hak asasi manusia diyakini mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan (UNDP, 2005: 3-6).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Pendekatan akses keadilan berbasis HAM menuntut negara untuk membangun fondasinya melalui kebijakan dan menciptakan kondisi yang kondusif. Hal ini membuat persoalan akses keadilan dilihat dalam spektrum yang lebih luas, yaitu tidak sekedar persoalan prosedur dan mekanisme penyelesaian perkara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Pemerintah melalui Bappenas mengeluarkan strategi nasional akses keadilan pada tahun &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;2009. Dokumen kebijakan ini meletakkan fondasi dan arah akses keadilan di Indonesia. Akses keadilan meliputi pelayanan publik, penanggulangan kemiskinan, otonomi daerah, Selain itu, strategi pengembangan akses keadilan difokuskan pada bidang &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;pertanahan dan sumber daya alam,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perempuan dan anak, Pemerintahan Daerah, pelayanan bantuan hukum,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;reformasi hukum dan peradilan, ketenagakerjaan, dan strategi lintas bidang (kemiskinan, kelompok tertindas dan terpinggirkan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal;mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Instrumen yang digunakan untuk mengidentifikasi sejauh mana masyarakat telah memperoleh akses terhadap keadilan dari berbagai strategi di atas, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l0 level1 lfo1;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;a.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language:DE"&gt;kerangka normatif; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l0 level1 lfo1;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;b.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language:DE"&gt;kesadaran hukum; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l0 level1 lfo1;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;c.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;akses kepada forum penyelesaian konflik yang terjangkau masyarakat; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l0 level1 lfo1;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;d.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language:DE"&gt;penanganan keluhan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;masyarakat &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:DE"&gt;yang efektif; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l0 level1 lfo1;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;e.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;mekanisme &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language:DE"&gt;pemulihan hak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;-hak yang dilanggar&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ansi-language: DE"&gt;; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l0 level1 lfo1;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;f.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;terselesaikannya permasalahan kemiskinan, kelompok tertindas dan terpinggirkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal;tab-stops:36.0pt"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'Times New Roman', serif; "&gt;Dengan kerangka di atas, maka program-program penguatan akses keadilan difokuskan pada (UNDP, 2005: 3-6):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l1 level1 lfo2"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;a.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Perlindungan hukum, yaitu pembentukan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum bagi perlindungan akses keadilan sebagai sebuah hak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l1 level1 lfo2"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;b.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Peningkatan kesadaran hukum, yaitu meningkatkan kesadaran kelompok marjinal, aparat penegak hukum dan pengambil kebijakan mengenai pentingnya akses keadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l1 level1 lfo2"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;c.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Bantuan dan konsultasi hukum, yaitu memberikan jasa-jasa bantuan dan konsultan hukum bagi kelompok marjinal ketika berhadapan dengan aparat penegak hukum dan mengajukan kasusnya ke pengadilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l1 level1 lfo2"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;d.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Ajudikasi, yaitu menguatkan mekanisme penyelesaian sengketa informal (non-negara) agar turut melindungi hak-hak kelompok marjinal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l1 level1 lfo2"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;e.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Penguatan mekanisme penegakan hukum, yaitu menguatkan mekanisme penegakan hukum mulai dari penyelidikan hingga di pengadilan yang memperhatikan kepentingan kelompok marjinal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:-18.0pt; line-height:normal;mso-list:l1 level1 lfo2"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: Arial"&gt;&lt;span style="mso-list:Ignore"&gt;f.&lt;span style="font:7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Pemantauan parlemen oleh kelompok masyarakat sipil, yaitu tekanan publik berupa monitoring dan evaluasi masyarakat sipil terhadap kebijakan terkait akses keadilan yang dikeluarkan oleh parlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top:0cm;margin-right:0cm;margin-bottom:0cm; margin-left:18.0pt;margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Namun demikian, saat ini studi-studi mengenai akses keadilan umumnya baru mengenai tingkat akses keadilan bagi kelompok masyarakat miskin seperti yang dilakukan oleh lembaga-lembaga donor yang besar seperti World Bank (2004, 2006 &amp;amp; 2008), UNDP (2007) dan Asia Foundation (2001). Studi mengenai bagaimana perempuan terutama yang berasal dari kelompok masyarakat miskin tersebut memperoleh akses kepada keadilan masih minim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2414086791903589706?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2414086791903589706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2414086791903589706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2414086791903589706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2414086791903589706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2010/01/akses-keadilan-untuk-perempuan-1.html' title='Akses Keadilan untuk Perempuan (1)'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1538370793477779229</id><published>2009-09-11T20:46:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T20:51:15.933-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan 10: Ciputat Kuningan by Max the Rabbit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SqsZ9mQTxFI/AAAAAAAAAFw/g-jC1lOVapY/s1600-h/traffic_jam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SqsZ9mQTxFI/AAAAAAAAAFw/g-jC1lOVapY/s320/traffic_jam.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380422725855855698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tentang Max the Rabbit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max the Rabbit adalah band rahasia (secret band) pertama di dunia. Secret band adalah konsep baru di mana para musisi yang bermain menyebarkan musiknya melalui berbagai media elektronik, dengan terus konsisten menolak ketenaran walau lagu-lagunya ciamik dan menggetarkan belantika musik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pembentukan band Max The Rabbit dirahasiakan begitu juga dengan nama-nama personelnya. Banyak dugaan bahwa Max The Rabbit membuat karya musiknya melalui metode metafisik lintas dimensi dengan menghadirkan arwah John Lennon dan Bruce Lee melalui medium tubuh para personelnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah lagu mereka, ciputat-kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;English Version&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;About Max the Rabbit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;Max the Rabbit is the first secret band in the world. Secret band is a new concept in the music industry whereas the musicians publicize their music through various electronic medias, and they are continuously resisting their fame, although their songs rock the music world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The players of the band are all anonymous, as well as the date of their establishment. It is suspected that Max the Rabbit produce their songs using a unique method, a cross-dimension metaphysic by calling the spirits of John Lennon and Bruce Lee through their personnel's body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Below is one of their songs, ciputat-kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat-Kuningan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imeem.com/people/sRjvrZb/music/jShJ2GQa/max-the-rabbit-ciputatkuningantrial/" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;daa0f791eede147c74bc4bccd7924f09&amp;quot;, event)" target="_blank" rel="nofollow" style="cursor: pointer; color: rgb(59, 89, 152); text-decoration: none; "&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;http://www.imeem.com/peopl&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;e/sRjvrZb/music/jShJ2GQa/m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ax-the-rabbit-ciputatkunin&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;gantrial/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat-Kuningan&lt;br /&gt;by Max the Rabbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlomba bangun pagi, raih mimpi&lt;br /&gt;Coba kais rejeki, sakit hati&lt;br /&gt;Sikut kanan, sikut kiri, setiap hari&lt;br /&gt;Sampai kapankah pagi terus begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganasnya... jalani hidup ini&lt;br /&gt;Lalui pagi ini, aku letih... kejamnya&lt;br /&gt;Padam gairah ini, redup semangat kita tuk kerja&lt;br /&gt;Kerja.. kerja..&lt;br /&gt;Ciputat-kuningan... ciputat-kuningan..&lt;br /&gt;Ciputat-kuningan.. ciputat-kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang sudah menjelang berkeringat&lt;br /&gt;Macet semakin hebat, tak bersahabat&lt;br /&gt;Sikut kanan, sikut kiri, masih saja&lt;br /&gt;Akan terus begini sampai mateee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganasnya... jalani hidup ini&lt;br /&gt;Lalui siang ini, aku letih.... kejamnya&lt;br /&gt;Padam gairah ini, redup semangat kita tuk kerja&lt;br /&gt;Kerja... Kerja...&lt;br /&gt;Ciputat-kuningan... ciputat-kuningan..&lt;br /&gt;Ciputat-kuningan.. ciputat-kuningan&lt;br /&gt;Never ending...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1538370793477779229?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1538370793477779229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1538370793477779229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1538370793477779229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1538370793477779229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-10-ciputat-kuningan-by-max.html' title='Ramadhan 10: Ciputat Kuningan by Max the Rabbit'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SqsZ9mQTxFI/AAAAAAAAAFw/g-jC1lOVapY/s72-c/traffic_jam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2149204706637763450</id><published>2009-09-11T20:45:00.002-07:00</published><updated>2009-09-11T20:46:26.944-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Ramadhan 09: Tanggal Tua by Max the Rabbit</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Tentang Max the Rabbit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max the Rabbit adalah band rahasia (secret band) pertama di dunia. Secret band adalah konsep baru di mana para musisi yang bermain menyebarkan musiknya melalui berbagai media elektronik, dengan terus konsisten menolak ketenaran walau lagu-lagunya ciamik dan menggetarkan belantika musik dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pembentukan band Max The Rabbit dirahasiakan begitu juga dengan nama-nama personelnya. Banyak dugaan bahwa Max The Rabbit membuat karya musiknya melalui metode metafisik lintas dimensi dengan menghadirkan arwah John Lennon dan Bruce Lee melalui medium tubuh para personelnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah lagu mereka, tanggal tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;English Version&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;About Max the Rabbit&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Max the Rabbit is the first secret band in the world. Secret band is a new concept in the music industry whereas the musicians publicize their music through various electronic medias, and they are continuously resisting their fame, although their songs rock the music world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The players of the band are all anonymous, as well as the date of their establishment. It is suspected that Max the Rabbit produce their songs using a unique method, a cross-dimension metaphysic by calling the spirits of John Lennon and Bruce Lee through their personnel's body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Below is one of their songs, tanggal tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal Tua&lt;br /&gt;by Max The Rabbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.imeem.com/people/sRjvrZb/music/Kbxl0yTB/max-the-rabbit-tanggaltua/" onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &amp;quot;daa0f791eede147c74bc4bccd7924f09&amp;quot;, event)" target="_blank" rel="nofollow" style="cursor: pointer; color: rgb(59, 89, 152); text-decoration: none; "&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;http://www.imeem.com/peopl&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;e/sRjvrZb/music/Kbxl0yTB/m&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="word_break" style="display: block; float: left; margin-left: -10px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;ax-the-rabbit-tanggaltua/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ngajak makan&lt;br /&gt;Di Cafe dan di restoran&lt;br /&gt;Ooooo mending minggu depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ngajak clubbing&lt;br /&gt;Karaoke billiard bowling&lt;br /&gt;Oooooooo kagak penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum sekarang tanggal tua&lt;br /&gt;Tapi hati tetap ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari gini ngajak nonton&lt;br /&gt;Bintangnya sylverster stallone&lt;br /&gt;Ooooo mending nonton jojon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum sekarang tanggal tua&lt;br /&gt;Tapi hati ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak makan, kalau gue udeh gajian&lt;br /&gt;Jalan jalan, kalau gue udeh gajian&lt;br /&gt;Kalau gue udeh gajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini ngajak clubbing&lt;br /&gt;Karaoke billiard bowling&lt;br /&gt;Oooooooo kagak penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum sekarang tanggal tua&lt;br /&gt;Tapi hati tetap ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak makan, kalau gue udeh gajian&lt;br /&gt;Jalan jalan, kalau gue udeh gajian&lt;br /&gt;Kalau gue udeh gajian&lt;br /&gt;Sekarang duit tinggal ceban&lt;br /&gt;Tolong dong cariin pinjeman&lt;br /&gt;Tolong dong cariin pinjeman&lt;br /&gt;Tolong dong cariin…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2149204706637763450?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2149204706637763450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2149204706637763450' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2149204706637763450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2149204706637763450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-09-tanggal-tua-by-max-rabbit.html' title='Ramadhan 09: Tanggal Tua by Max the Rabbit'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-797778336768983670</id><published>2009-09-11T20:45:00.001-07:00</published><updated>2009-09-11T20:51:10.851-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 08: Qur'an and Combating Corruption</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Yesterday, I was going to buy books on "law of attraction", the secret, quantum ikhlas, etc. Books on self-improvement, psychological development, that kind of thing. But then I decided not to buy them. It's so expensive for those tiny books :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I smiled. It's a funny thing that we feel that there is need to "islamized" any new ideas that is so marketable. There is a islamization of laws of attraction, islamization of the secret or probably islamization of the stephen covey's 8th habits. (and the word "islamization" is not even recognized by this automatic spelling check software!!! :D)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The general idea behind the islamization of thoughts is to show to public that Qur'an is the source of any knowledge that was and will be discovered. That you don't have to buy those books, just read qur'an, the master book of knowledge and wisdom. The One book that could give you any knowledge that you need. The One book that could solve every problems that we face. I couldn't agree more on that point. As a trying-to-be-good-moslem person, of course Qur'an is my guidance. But my critic is that you should continuously do research on that powerful book of knowledge and wisdom and discover new ideas that could be contextualized with the current situations, not by doing islamization of the new knowledge and wisdom, looking for any clues that could be the basis of it. For me, such action is only confirming that Qur'an contains universalistic values. Something that all man/woman would agree on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides, it gives an idea that there are two versions/perspectives, the islamic and the non-islamic one. It seems that you should buy the islamic version, as it would be a sin for buying the non-islamic one. For me, they're only taking advantages to intervene and steal the markets of moslem buyers :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 14px;"&gt;So I began to start feeling "overwhelmed" by those books and decided to leave. Few steps from the cashier, suddenly I bumped to this book, "Kisah-kisah Islam Anti Korupsi" (Islamic stories of anti-corruption), and voila, this one looks interesting.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;Will be continued... after I finish this deadly deadline article :)&lt;br /&gt;My mind is so twisted :D&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-797778336768983670?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/797778336768983670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=797778336768983670' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/797778336768983670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/797778336768983670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-08-quran-and-combating.html' title='Ramadhan 08: Qur&apos;an and Combating Corruption'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-3627003749982789913</id><published>2009-09-11T20:44:00.001-07:00</published><updated>2009-09-11T20:44:55.701-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 07: My Childhood Memory of Ramadhan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; color: rgb(51, 51, 51); font-size: 11px; line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;It's only been a week and I'm starting to running out of ideas :) And the fact that I have to finish an article this weekend (but am so lazy on saturday), also contribute for having this slow brain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, I went for a walk. Yup, in the middle of the day (I enjoy walking, so no comment ok? :D) Brought my MP3 to balance my mood a bit for having a hot day during ramadhan. I was checking out my neighbourhood, started with Plaza Cibubur :) A nice and cozy place to go to during weekend. They have a super indo for groceries, couple pharmacies (well, having a 73 old mom is like having a big baby, you have to locate the nearest pharmacies, hospitals, labs, etc), and a book store. The three things I need most from a plaza. Mind all those shoe, bags and clothes stores. After I bought what my mom needs, I went to a book store, of course, a place that you can always find quiteness and peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I looked at those books and realized how this reform era has made so many books available. A good thing, actually. But forgive me for had been living under a tyrany regime for 32 years where books are monitored and controlled by the government, this freedom of publishing books somehow made my mind go nuts. Yes, I do understand that freedom is about having choices, but not that many! Please, deh :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And giving too many choices is not good for business, either. There is one chapter in galdwel's blink, a story about a research on whether giving many choices is good for business or not. The research was conducted in two supermarkets. The first supermarket was given only 5 choices of jams: strawberry, apricot, peanuts, burberry and mix fruits while the second one was given more than 10. It turned out that having more choices confused the customers and didn't boost-up the sales of those jams. And it seems people tend to categorize their choices, the classic, the contemporary or the crazy one (test-out). So the choices is whether you go with the classic, the contemporary/fushion or choosing a more risky-one. And people tend to go to the first or second choices. Few of them are the risk-takers customers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And that's what I did. I went for the classic one, sorry. Comics! :) Why? Well, suddenly my mind went back to my childhood. The idea of having comic for ramadhan. I remember dragging a table outside, having my comics to be rented for couple hundreds of rupiahs and so happy to get some money from my small business. And as an additional value, I also sold a traditional breakfasting snacks and drinks. Yes, they're all super sweet. We all have sugar-tooth in this country :) It is either sweet, sour or spicy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some people see ramadhan as a time for break from the business. They're closing their business for a month. Some people see it the other way around. Ramadhan is a time for doing more and more business. It is a time where all those moslems would spend all of their money for.. almost anything. They would go for new shoes, new clothes, new bed, new paints, new car, new house, you name it. And we even don't have a giving gifts tradition! Only a tradition of forgiving. But of course you have to look nice when you do that. And when I mean you being nice, is not just what you wear, but your house, your everything have to look nice :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mind all those nice people, but for the sake of my childhood memory, I prefer to see ramadhan as a time for the kids to learn earning their own money, to be creative and responsible for their own ideas, and to be independent. Although they have to cheat their parents a bit while they're doing that :) It's not cheating. It's what the business people call it as, how to negotiate and influence people :)) Let's have a nice ramadhan for our kids! Not just learning how to fasting but how to make the best out of it :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No smart idea for today. Have to go back to work.. or somebody would kill me for not finishing this one chapter by tommorrow morning :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-3627003749982789913?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/3627003749982789913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=3627003749982789913' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3627003749982789913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3627003749982789913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-07-my-childhood-memory-of.html' title='Ramadhan 07: My Childhood Memory of Ramadhan'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-7402019884284338699</id><published>2009-09-11T20:42:00.002-07:00</published><updated>2009-09-11T20:43:09.162-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan 06: Keyakinan dan Kegundahan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; color: rgb(51, 51, 51); font-size: 11px; line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Dalam qur'an, kadang ada pasangan nilai, sifat atau kondisi yg saling bertentangan namun berpasangan. Contoh yang paling gampang dan sering adalah kesulitan dan kemudahan. Kemarin saya menemukan satu lagi, keyakinan dan kegundahan. Ini sebenarnya terinspirasi dari film Doubt yang dibintangi oleh Merryl Streep. Ceritanya tentang seorang kepala sekolah agama (lupa, kristen atau katolik) yang sangat kolot, kaku dan penuh prasangka. Berbeda dengan koleganya, seorang pendeta yang moderat, open-minded, berpikiran positif dan percaya bahwa manusia perlu belajar, berinteraksi serta berkembang dengan keimanannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan dan kegundahan adalah satu paket yang dihadapi oleh manusia yang beriman. Keyakinan dan kegundahan tidak bisa diposisikan secara tegas sebagai sesuatu yang berlawanan dalam pengertian, yang satu baik dan satunya lagi buruk. Sebaliknya, keduanya perlu dilihat sebagai sesuatu yang memiliki baik dan buruk secara bersamaan. Persoalannya adalah, apa yang membuatnya jadi baik dan buruk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan, adalah fase dimana manusia bertanya dan karenanya, menjadi berpikir. Saya bertanya, maka saya berpikir. Dan pikiran saya, yang menunjukkan bahwa saya (masih) ada :). Dalam konteks ini, kegundahan menjadi sarana bagi manusia untuk berinteraksi dan berkembang dengan dirinya sendiri, dengan keyakinan dirinya sendiri. Suatu proses yang tidak serta-merta harus dilihat negatif sebagai sesuatu yang mendegradasi keyakinan, bahkan sebaliknya justru bisa merevitalisasi keyakinan itu sendiri. Iman dan keyakinan, layaknya sebuah tanaman, perlu dirawat, dipelihara dan dicintai. Tidak saja perlu disiram dan diberi pupuk, namun kadang kala perlu dipangkas sana-sini, terutama bagian-bagian yang kering dan busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan, juga bisa jadi sarana untuk mengindentifikasi dan positioning diri sendiri. Pertanyaan "what makes a NGO, NGO" yang selalu dilontarkan, mengstimulus teman-teman untuk berpikir ttg jati diri/identitas dan positioning organisasi. Sebagai seorang muslim, pertanyaannya bukan apakah kita Islam atau tidak, tapi lebih pada orang Islam seperti apakah kita? Apakah kita muslim yang penyayang terhadap saudara, "tetangga" dan lingkungan atau sebaliknya yang hanya membawa kebencian, fitnah dan kerusakan di dunia? Apakah kita orang Islam yang santun dalam bertutur, menghormati dalam perdebatan, sportif dalam bertanding dan ulet serta penuh integritas dalam bekerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahanlah yang menjaga kita untuk terus berusaha agar menjadi orang yang lebih baik, karena kita tidak yakin bahwa kita sudah menjadi baik atau amal kita sudah hebat. Yakin yang satu ini, justru perlu dihindari. Sifat yakin yang berlebihan pun dapat mengarah pada kerusakan. Para teroris, para pasukan moral, memiliki keyakinan yang berlebihan. Yakin bahwa mereka akan dapat surga dengan melakuakan pengeboman. Yakin bahwa mereka lebih bermoral, doing something for a greater cause. Yakin yang membuat dirinya merasa orang lain tidak sebaik dirinya dan karenanya perlu "diajari". Keyakinan seperti ini justru mengarah pada orang Islam yang hanya mengenal satu kata, kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi buat saya, keyakinan dan kegundahan merupakan satu paket nilai yang membantu kita untuk selalu berinteraksi dan berkembang dengan keimanan kita sendiri, dalam artian yang positif. Jadi, bila kegundahan itu muncul, ikuti saja dan berpikirlah! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngantukkkkk...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-7402019884284338699?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/7402019884284338699/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=7402019884284338699' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/7402019884284338699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/7402019884284338699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-06-keyakinan-dan-kegundahan.html' title='Ramadhan 06: Keyakinan dan Kegundahan'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-3904188143862284558</id><published>2009-09-11T20:42:00.001-07:00</published><updated>2009-09-11T20:55:17.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 05: Khalifah Umar dan Sop Buntut</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Di antara para sahabat, Umar bin Khatab adalah sahabat Rasulullah dan khalifah yang paling menarik dalam pandangan saya. Daya tariknya terletak pada sosok pendekar (hehe..), ketegasan dan integritasnya. Benang merah dari ketiga daya tariknya adalah sifat kehati-hatiannya. Hati-hati sebagai pendekar dan hati-hati sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar (sok akrab bin gak sopan banget sih) terkenal berhati-hati menggunakan pedang. Alasan untuk menggunakan kekerasan, jadi penyebab utama. Beliau bukan tipe pendekar yang emosinya dengan mudahnya tersulut dengan provokasi yang menyerang dirinya sendiri. Buatnya sederhana saja, perlu ada satu alasan besar yang menjadi dasar penggunaan kekerasan dan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin, integritas Umar bisa dibilang luar biasa. Dia sangat hati-hati menggunakan kekuasaannya. Memisahkan mana yang menjadi hak dan harta komunitas dan mana yang merupakan hak dan aset pribadinya. Contoh kecil, untuk urusan penggunaan lampu saja, Umar bin Khatab sangat ekstra hati-hati. Apakah si lampu digunakan untuk pelaksanaan tugas kepemimpinannya, atau kepentingan pribadi. Prinsipnya dalam pekerjaan pun sederhana saja, ada ketegasan antara mana yang dipakai untuk kantor/negara/publik dan mana yang tidak/pribadi. Buat Umar, kekuasaan adalah soal tanggung jawab, tanggung jawab, tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal sederhana yang saya pikir sudah ditinggalkan oleh pemimpin kita, di institusi negara, di lembaga profit, dan bahkan di lembaga saya atau lembaga non-profit lainnya. Sudah mafhum bila power leads to access, to rights and privileges, incentives and even greater power. People who have given power tend to addicted to it and that's why we need check and balances mechanism. Kualitas manusia seperti Umar jarang ditemukan dan karenanya kita butuh sistem untuk memastikan nilai-nilai integritas seorang Umar bisa tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungannya dengan sop buntut? Rasanya tidak mungkin bagi seorang Umar bin Khattab, seandainya memimpin rapat para kapten-kapten dibawahnya, akan bicara sop buntut dan bukan substansi. Sop buntut, yang masa emasnya sudah lewat, sebagai hidangan sebuah acara penting. Seorang Umar tidak mungkin menggunakan waktu kerjanya yang berharga untuk membahas hal-hal yang tidak penting, yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dan kewajibannya sebagai pejabat negara. Sayangnya, kita seringkali tidak dipimpin oleh pemimpin sekualitas Umar bin Khattab. Sehingga kita masih menghadirkan isu sop buntut, dan bukan hal-hal yang lebih substansial, ke meja rapat :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It's not what we eat but what we digest that makes us strong; not what we gain but what we save that makes us rich; not what we read but what we remember that makes us learned; and not what we profess but what we practice that gives us integrity.” (Francis Bacon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisannya jelek.. karena ngejar kejar tayang satu ide/tulisan satu hari, tapi udah ngantuk kecapean :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-3904188143862284558?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/3904188143862284558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=3904188143862284558' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3904188143862284558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3904188143862284558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-05-khalifah-umar-dan-sop.html' title='Ramadhan 05: Khalifah Umar dan Sop Buntut'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-3725019847711615641</id><published>2009-09-11T20:41:00.001-07:00</published><updated>2009-09-11T20:41:57.490-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 04: Semua Tangan Perlu Tau</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51); line-height: 14px; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Bulan Seribu Musim&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ramadhan biasanya adalah bulan seribu musim. Sebut saja mulai dari musim beribadah, musim tobat, musim bersedekah, musim artis sinetron pake jilbab, musim tayangan sahur, musim kultum pengantar berbuka, musim rejeki nomplok buat para artis, musim kaca restoran dan warung-warung makan ditutupi kain atau karton, musim orang punya alasan ngeles untuk tidak produktif sampaiiii musim kolang-kaling, cincau, dan nata de coco cepat habis terjual di supermarket dan oh ya, musim timun suri (ujung-ujungnya kok ya selalu makanan :D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik utama bulan ramadhan tentu saja janji pahala, rahmat dan berkah yang berlimpah. Obral gila-gilaan. Di hari-hari biasa di bulan Ramadhan saja, pahala bisa berkali-kali lipat. Belum lagi, bila dapat "jackpot" malam lailatul Qadar. 1000 bulan! Yang berpikir hitung-hitungan mungkin serasa dapat tabungan pahala lebih dari seumur hidup. Pikirnya, kalau dapat, setelahnya bisa ongkang-ongkang kaki dalam beribadah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi positifnya, semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan, terutama dalam beramal jariyah. Sedekah lebih afdol di bulan puasa. Mungkin ini salah satu latar belakang munculnya THR. Bukan cuma untuk ketupat, sayur jakarta lengkap pakai petay, sambal goreng ati, daging, opor ayam dan kue-kue manis serta pakaian, sepatu, mukena, baju koko, dan sajadah baru, tapi juga untuk bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THR saya saja biasanya habis untuk memberi hadiah sana-sini. Sebagian ditukar lima ribuan untuk&lt;br /&gt;pasukan anak-anak kicing. Bedanya, dulu sih ditukar segepok uang seratusan. Namun sekarang, uang angpau itu pun kena inflasi! :D Belum lagi, anak-anak kicing sekarang makin pinter-pinter. Kecil-kecil sudah tau kalau uang yang berwarna biru bergambar gunung lebih rendah nilainya dibanding yang warna coklat, apalagi pink. Atau membedakan merahnya 10.000 dengan pink-nya 100.000. Jadi maunya, "Minta yang pinkkkkkkkk..." Pinter ya kalian, udah bisa membedakan antara merah dan pink :) Kita aja yang udah gede masih suka ketuker-tuker :P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Tangan Kiri Tidak Boleh Tau?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda banget dengan bulan biasa. Saya teringat waktu plamus (planet muslim) masih berdiri dan aktif dulu. Setiap ramadhan kita selalu berlimpahan uang-uang ummat yang memberikan sumbangannya, sementara sisa bulan di luar ramadhan rata-rata musim paceklik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngobrol soal sedekah dan amal jariyah ini, ada satu ungkapan yang diajarkan dari mulut ke mulut. Bersedekah itu, tangan kanan bersedekah, tangan kiri tidak boleh tau dan demikian sebaliknya. Maksudnya sih mulia, agar kita terhindar dari sifat riya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal bila dilakukan secara diam-diam lebih bernilai lebih dibandingkan yang dilakukan secara gembar-gembor, apalagi kalau pakai konferensi pers segala. Kalau jaman sekarang, mungkin sarana gembar-gembornya nambah. Fesbuk, misalnya, yang memang selalu jadi ajang narsis yang paling asik buat banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari si tangan kiri gak boleh tau tadi umumnya adalah penulisan "hamba Allah" di lembar-lembar sumbangan. Mungkin mereka harusnya punya banyak nama seperti saya, hehe.. Bisa pakai herni, molly, atau hermun :P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau dipikir-pikir, pertanggungjawabannya gimana ya? Bagaimana sebuah amal bisa dipertanggungjawabkan ke publik kalau banyak sekali "hamba Allah". Saya sih tidak suudzon dng yg menyumbang, namun lebih ke persoalan manajemen pengelolaan dana amalnya. Bagaimana kita tau panitia atau pihak yang berinisiatif mengelola itu jujur dan berintegritas tinggi? Bagaimana kita bisa percaya bahwa uang yang disumbangkan benar-benar diterima dan disalurkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi persoalan takut riya tadi jadi membuat orang malu-malu kucing dalam menyumbang. Uang digenggam di tangan dan dimasukkan ke amplop tanpa terlihat. Dan benar, jangankan oleh orang lain, oleh si tangan kiri pun tidak terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu-malu yang kedua, umumnya orang malu-malu untuk menyumbang, apalagi bila nilai sumbangannya kecil. Padahal, Allah tidak bodoh seperti kita, yang sering melakukan penilaian dengan standar yang picik. Rahmat sumbangan itu bukan terletak dari besaran sumbangannya, namun prosentase dibandingkan harta yang kita punya plus keikhlasan. Keduanya merupakan informasi yang susah untuk diakses. Apalagi yang terakhir, cuma Allah yang bisa menilai hal itu. Udah gitu, akibatnya ternyata tidak mampu mengstimulus derasnya arus dana amal yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau melirik tradisi "tetangga" dimana sumbangan selalu dikoar-koarkan. Herni menyumbang 100 juta bulan ini...!!! dengan sebelum dan sesudahnya didoakan bersama. Dan orang jadi berlomba-lomba riya untuk menyumbang dalam jumlah yg lebih besar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun terpikir, mengapa tidak kita tiru? Mari berlomba-lomba... resiko menjadi riya pun tak apa. Toh itu bukan urusan kita... yang penting ada uang yang tersedia yang bisa dioptimalkan penyalurannya. Kalau orang mau riya, ya silakan saja. Toh itu urusan dia dengan Allah. Urusan kita adalah bagaimana kita bisa menerapkan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola dana amal tersebut. Jadi, logika berpikirnya terbalik. Bukan sekedar tangan kanan menyumbang, tangan kiri harus tau. Namun, semua tangan perlu tau :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-3725019847711615641?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/3725019847711615641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=3725019847711615641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3725019847711615641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3725019847711615641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-04-semua-tangan-perlu-tau.html' title='Ramadhan 04: Semua Tangan Perlu Tau'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8511147265426456504</id><published>2009-09-11T20:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T20:41:08.555-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 03: Puasa dan Produktivitas</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; color: rgb(51, 51, 51); font-size: 11px; line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Sewaktu di Belanda, teman saya bercerita soal pengalamannya di kampus. Dia menggunakan lift kampus untuk naik dari lantai satu ke dua. Kebetulan didalamnya ada seorang dosen kami (my opa! :D) yang bisa berbahasa Indonesia. Ketika opa melihat teman saya ini cuma naik 1 lantai, dia cuma berkata, "Kamu naik lift untuk naik ke lantai 2?". Teman saya pun tersenyum kehilangan kata-kata dan mengangguk. Segera keluar begitu pintu lift terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah lain, sudah mafhum buat kami yang seringkali bolak-balik ke Aceh ini, bahwa sulit sekali mengadakan training di Aceh selama bulan puasa. Jangankan bulan puasa, bulan biasa saja sulit. Adalah suatu prestasi yang besar bila kami berhasil mempertahankan jumlah peserta hingga training usai. Itupun umumnya cuma sampai jam 5. Yang seringkali terjadi, peserta minta training dipercepat, dan kita harus agak sedikit licik untuk tidak memenuhi permintaan mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat, terutama Aceh, ada beberapa ritual yang harus dilakukan. Umumnya seminggu sebelum puasa dan seminggu setelah puasa. Disinilah pengaruh adat dalam memberi warna pada pelaksanaan ritual agama terjadi. Sebagai "orang luar" tentunya kita harus mengerti dan sadar mengenai tradisi-tradisi lokal setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sudah mafhum juga bila beberapa bulan menjelang ramadhan, semua hotel yang biasa digunakan untuk pelaksanaan acara sudah penuh di-booking. Semua instansi dan organisasi agaknya "sepakat" untuk tidak mengadakan acara formal apapun selama bulan ramadhan. Alasannya lebih pada karena bulan puasa menurunkan produktivitas kerja sehingga melaksanakan kegiatan di bulan puasa bukan saja tidak efektif namun juga pasti diprotes orang banyak :) Tapi pertanyaannya adalah, apakah bulan puasa selalu harus dijadikan alasan untuk tidak produktif? Lantas, bagaimana kebijakan yang bisa diterapkan agar selama bulan puasa kita tetap bisa produktif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ramadhan Produktif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini berkah bulan ramadhan, alhamdulillah bulan ini kegiatan sedang banyak-banyaknya. Saya menamainya, bulan yang sinting jilid II :-) Saking sintingnya, meski tindakan pencegahan agar jadwal di bulan puasa bisa lebih longgar sudah dilakukan, namun masih ada rangkaian kegiatan yang terpaksa dilakukan pada bulan puasa. Kalau kegiatannya buat kita-kita saja tidak masalah, namun karena obyek dari kegiatan justru orang lain, ini yang jadi masalah. Minggu ini, ada serangkaian kegiatan dari senin hingga jum'at, full dari pagi hingga sore. Itupun sudah didiskon dari jam 10 pagi hingga 5 sore. Inipun saya sudah dibilang "dzolim" karena membiarkan orang mengikuti kegiatan dari jam 10 sampai 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu memang tergantung cara pandang. Mari kita coba ganti kacamatanya, jadi kacamata kuda (toh kuda lambang hewan kuat dan hewan pekerja, hehe..). Bulan puasa, adalah bulan yang sangat produktif, baik untuk urusan pekerjaan dan ibadah. Bayangkan saja, tengah malam sudah bangun sambil ngucek-ngucek mata menyiapkan makanan sahur dengan sebelumnya bertahajud bila sempat, makan makanan yang sehat dan bergizi (menjaga kesehatan adalah sebagian dari iman :D), menunggu beduk shubuh sambil fesbuk-an atau mengerjakan hal yang lain, sholat shubuh, baca qur'an sebentar kalau lagi mood, beres-beres rumah dan berangkat kerja! Itu baru pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor? Berkah ramadhan kali ini membuat perhatian terfokus pada pekerjaan. Di hari yang biasa pun, seringkali makan dan minum terlupakan bila pekerjaan datang tanpa henti (hayo sapa tuh, ngakuuu..!!! :D). Di bulan puasa ini, karena kita sudah sahur dan minum air putih berbotol-botol (tapi kemudian pipis terus jadi impas dong ya? hehe..), persoalan sakit karena kurang gizi, dehidrasi, ginjal dsb insha Allah tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belum kelar.. dilanjut nanti ajah.. mau berangkat ke kantor :)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-8511147265426456504?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/8511147265426456504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=8511147265426456504' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8511147265426456504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8511147265426456504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/09/ramadhan-03-puasa-dan-produktivitas.html' title='Ramadhan 03: Puasa dan Produktivitas'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8096002111417668918</id><published>2009-08-22T16:37:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T16:38:51.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 02: Berpuasa Itu Biasa Saja</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; color: rgb(51, 51, 51); font-size: 11px; line-height: 14px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Suatu hari, saya ikutan rombongan "karpet merah" ke daerah. Dibilang karpet merah karena memang kami selalu mendapat sambutan yang spesial sejak turun dari pesawat. Selalu ada rombongan yang menyambut dan menggiring kami ke ruang khusus untuk beristirahat dengan disuguhi makanan kecil dan teh manis hangat, meminta kupon bagasi dan mengambil, mengantar dan membawakannya hingga ke kamar hotel, serta memberikan jamuan makan istimewa setiap hari. Tentu saja, saya bukan siapa-siapa di rombongan itu, sekedar pengikut yang kena "cipratan" :) Makin tinggi "selebriti" yang berada dalam rombongan, makin ok servisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kejadian yang menarik. Dalam salah satu perjalanan, tokoh "selebriti" yang ada dalam rombongan kami rupanya terbiasa berpuasa. "Badan saya lebih sehat bila berpuasa, jadi hampir tiap hari saya puasa." Wah, nabi Daud aja kalah, pikir saya. Lucunya, kebiasaan ini membuat panitia penyambutan kikuk dan salah tingkah. Seharusnya rombongan berhenti di restoran mewah sebelum check-in di hotel. Karena si bapak sedang berpuasa, rencana cadangan secara kilat dibuat. Pasukan segera saja tidak jadi membawa si bapak ke restoran, namun langsung ke hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kami, yang level kemampuan puasanya ini bahkan tidak mampu menyamai nabi Daud, mendapat kelimpahan rejeki makanan berlimpah! :) Selemah-lemahnya iman, bila tidak mampu berpuasa di luar bulan ramadhan, maka yang dapat dilakukan adalah tidak meninggalkan makanan berlimpah ruah sia-sia begitu saja. Mubazir adalah temannya setan. Sehingga pilihannya adalah makan atau jadi pengikut setan. Tentu saja kami memilih yang pertama :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai situ, puasanya bapak jadi mengacaukan semua rencana yang terkait dengan makanan hari itu. Yang lebih lucu, si bapak yang berpuasa santai-santai saja. "Ah, saya sih sudah biasa. Silakan saja, kalian makan. Jangan sungkan-sungkan". Lalu dengan santainya, dia mengambil koran dan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman di atas bercerita tentang menghargai mereka yang minoritas (oleh mereka yang mayoritas). Suatu nilai demokrasi yang perlu kita tegakkan. Idenya berangkat dari gagasan untuk menghindari adanya sikap otoriter dan bahkan penindasan dari mayoritas terhadap minoritas. Suatu nilai, yang saya yakin selaras dengan nilai keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Menghormati Kelompok Minoritas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama pernah saya alami sewaktu di Belanda. Kala itu kami mencicipi nongkrong di sebuah kafe di dekat kampus. Waktu itu kami cuma berempat, Eka, Kay, Meezan dan saya. Kebetulan Meezan sedang tidak puasa. Ketika hendak memesan makanan, Eka dan Kay kaget karena saya sedang puasa. Mereka lantas tidak enak memesan makanan. Saya sibuk meyakinkan mereka, "Tidak apa-apa. Pesan saja. Gak akan ngiler hehe.." Sepanjang sore itu kami ngobrol-ngobrol dengan ditemani makanan, kue-kue manis, teh hangat, yang tentu saja tidak bisa saya nikmati. Buat saya, puasa tidak bisa dijadikan alasan untuk mengubah kondisi di sekitar saya agar saya lebih "enak" berpuasa. Ini bertentangan dengan law of attraction, dimana semesta kali ini tidak perlu mengikuti mau-nya saya :) Nyontek dari ERK, berpuasa itu biasa saja :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mayoritas, kita tetap perlu memperhatikan kepentingan minoritas, yaitu mereka yang tidak berpuasa. Yang tetap butuh makan siang, minum, nongkrong-nongkrong menikmati kue-kue manis atau cemilan. Sehingga restoran tetap bisa buka (kecuali dengan pertimbangan ekonomis, lebih rame bila dibuka sore). Yang makan masih bisa makan. Yang mau minum masih bisa minum. Tidak perlu sembunyi-sembunyi, dan silakan saja bila hal itu dilakukan di depan yang berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat, yang terjadi adalah sebaliknya. Tujuannya mungkin untuk membantu mereka yang berpuasa. Namun tanpa sadar, jadi bentuk pemaksaan terhadap minoritas untuk ikutan berpuasa. Restoran ditutup atau ditutupi kacanya. Gak boleh makan atau minum di depan mereka yang berpuasa. Dan bila tidak berpuasa, bukan cap temennya setan lagi yang ditempelkan dikeningnya, tapi naik derajat jadi "pengikut setan". Laki-laki tentu kelompok yang paling serba salah dan paling gampang untuk memperoleh cap ini karena relatif tidak ada alasan untuk tidak berpuasa. Kalau perempuan, masih bisa "ngeles" dengan berkata, "Saya lagi tidak berpuasa." atau "Saya lagi M". Malas, maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Awas, Jangan Kepeleset!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya, usil dengan ketaqwaan itu perbuatan yang tidak berguna. Wong ketaqwaan diri sendiri aja masih perlu diusilin, hehe.. Jalan menuju taqwa bukan tangga yang kita tau dimana posisi kita berada sehingga kita bisa nengok ke belakang dan bilang ke orang di belakang kita "Payah lo, masih di bawah sana" :) Kita gak pernah tau sampai dimana ketaqwaan kita sebenarnya. Yang kita bisa tau adalah bahwa menjadi orang yang lebih baik itu adalah sebuah pilihan yang bisa kita ambil. Manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan pilihan. Manusia adalah tempatnya salah. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berefleksi dan berusaha lagi. So I guess the point is not necessarily doing the right thing, but do the things right.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, jangan juga kita menghakimi mereka yang keliatannya sok-sok bertaqwa, lantas berkata, ah mereka itu saking taqwanya malah jadi busuk. Generalisasi dan pen-cap-an adalah penyakit sosial yang perlu diberantas. Ini biasanya dilakukan oleh mereka yang mengadvokasikan "Hormatilah orang yang tidak berpuasa". Saya setuju idenya dalam konteks menghargai hak-hak kelompok minoritas, namun bukan berarti kita jadi menghakimi semua orang yang berpuasa dan beramal shaleh mengikuti jejak dan memiliki mental yang sama dengan para pasukan FPI dan pasukan pembela moral lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang Islam di negeri ini adalah FPI atau muslim berpandangan kolot :) Satu hal yang menurut saya, adalah tindakan "kepeleset" yang kadang dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai muslim moderat atau liberal :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama tidak bergerak dalam ruang yang vakum. Masing-masing punya persepsi bagaimana kewajiban dan ritual agama diaplikasikan. Satu hal yang perlu kita bangun adalah bagaimana tradisi saling-menghormati dan tidak menghakimi bisa dibangun. Bukan cuma sekedar nafsu kepingin makanan padang yang harus kita kendalikan, namun juga nafsu kepingin makan orang :) Dengan cara tindak kekerasaan, kata-kata, maupun pikiran negatif terhadap sesama muslim. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-8096002111417668918?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/8096002111417668918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=8096002111417668918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8096002111417668918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8096002111417668918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/08/ramadhan-02-berpuasa-itu-biasa-saja.html' title='Ramadhan 02: Berpuasa Itu Biasa Saja'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-7607404315541176193</id><published>2009-08-21T20:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T20:25:07.264-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Ramadhan 01: Maaf Memaafkan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Di milis WM (wanita-muslimah), pernah ada tradisi yang coba kita bangun selama ramadhan. Posting artikel ramadhan setiap hari selama sebulan penuh. Ide ini saya ambil, meski tentu dilakukan dng cara yg berbeda. Yang pasti sih tidak spt tulisan teman2 di WM yg super huebat. Wong isinya rata2 ustadz dan ustadzah, hehe. Tulisan saya sekedar tulisan asbun dng jurus sotoy. Jadi jangan harap akan ada kutipan ayat, hadist, dan kata-kata mutiara. Sekedar pikiran saya yg asbun dan gelar master of sotoy saja :) Mari kita lihat, sampai hari ke berapa ide asbun bin sotoynya masih bisa tersalurkan.. hehe.   &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ramadhan 01: Maaf Memaafkan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Bulan ramadhan buat banyak orang dipraktekkan sbg bulan ritual maaf-memaafkan. Ia diawali dan diakhiri dengan maaf-memaafkan. Tahun ini, tumben cuma 2 sms soal maaf-memaafkan yang masuk. Biasanya hp penuh dengan sms itu. Dan biasanya pula, orang mengirimi beberapa kali dengan pelbagai media, mengucapkan langsung, sms, ym, email, fesbuk, dll. Bagus aja sih, asal kata maaf jangan jadi kata yang ringan diucapkan seperti kata makan (apa-apa kok ya dihubungi dng makan hehe).   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Paku dan Lubang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Maaf memang jadi soal yang penting. Ada yg bilang, menyakiti hati orang itu seperti menancapkan paku. Bila pakunya dicabut, dia masih meninggalkan lubang yg menganga. Intinya sih, hati-hati dalam bertingkah dan berkata kepada orang lain. Jangan sampai menyakiti. Tapi kadang kita gak pernah tau, apakah orang lain tersakiti dng tingkah laku dan kata kita atau tidak. Bisa jadi karena standar ke-sensitif-an yang berbeda, kemampuan memaklumi orang yg berbeda, tidak semua orang bisa mengutarakan bahwa mereka sebenarnya tersakiti dll.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Jadi buat saya, minta maaf itu tindakan yang cukup penting. Saking pentingnya, sampai-sampai pernah ada teman yang bilang, "Lo sering banget sih minta maaf". Lhaaaa, minta maaf untuk sesuatu yang mereka pikir belum atau bahkan tidak perlu. Rupanya, saya kadang bisa lebih sensitif dari orang lain hehe. Saya pikir orang marah dng tindak dan ucapan saya, ternyata gak, hehehe.. Dan kalau saya sudah merasa bersalah, duh, ampun deh. Jadi baik banget hehe.. ngerayu abis dng cara saya sendiri.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Tindakan memaafkan juga perlu, termasuk memaafkan diri sendiri (yg mungkin lebih sulit). Saya justru agak bingung sama memaafkan, dibandingkan minta maaf, terutama untuk perbuatan yang punya dampak atau kerugian nyata. Ini lebih kompleks dibandingkan sekedar menyakiti perasaan. Entah hati saya terbuat dari batu hingga susah dirobek (halah...) atau memang dia punya kemampuan untuk memaafkan yang besar atau memang saya tipe orang yang tidak perduli (dan cepat lupa juga sih hehe).   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ada beberapa kejadian dimana orang yang tadinya memaki-maki atau memusuhi yang keterlaluan sama saya, lha... beberapa tahun kemudian malah jadi temen. Saya jadi tempat curhat dan bahkan minta diterapi pula. Kata tita, mungkin cuma lo yg bisa bikin orang begitu. Bukannya saya malaikat, cuma memiliki musuh itu tidak nyaman dibanding memiliki teman. Kalaupun orang sempat melakukan kegilaan dalam melabrak, biasa bukan? Because some people are simply nuts :) Tinggal digoreng dan dinikmati, selagi si kacang masih panas dan crunchy :))  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Yang saya bingung, maaf yang menimbulkan dampak kerugian. Dua bulan ini, saya lagi terlibat program yg cukup sinting. Belum pernah saya pegang program se-sinting ini hehe. Suatu hari, salah satu staff yang harusnya membantu saya, resign mendadak di tengah persiapan serangkaian kegiatan yg riweuh lah pokoknya kalau ada yg resign. Dia melakukannya pun dengan tidak penuh etika. Udah mendadak, hari ini resign, besok langsung gak bisa bantu lagi, eh dia gak bantu untuk mencarikan pengganti pula.  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Dia datang ke meja saya dengan muka yang takut. Maklum, muka saya memang setelannya jutek :) Ketika dia bilang maaf, saya jawab jujur dengan nada datar. "Maafnya sih saya terima, tapi itu tidak membantu menyelesaikan masalah saya karena kamu resign kan?" Dia minta pengertian saya kalau siang itu dia harus ke depnaker untuk pekerjaan barunya. Saya tidak menjawabnya dengan serentetan omelan, padahal dalam hati membatin, udah gw yg dirugikan, eh dia minta pengertian pulak... Saking speechlessnya, cuma mampu berkata, tolong diberesin kerjaan sebelum resign. Saya minta ini itu, anu ani dibereskan. Ignorance and order. Walhasil, dia nongkrong sebentar di kantor untuk membereskan ini itu.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Cabut Pakunya, Tutup Lubangnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Buat saya, minta maaf kadang tidak cukup. Ini bukan soal hati yang tidak mampu memaafkan, but it is about cleaning your mess you created. Kita tidak saja harus mencabut pakunya, tapi juga menutup lubang akibat tertancapnya si paku tadi. Baru deh, minta maafnya jadi afdol.  Di program yang sama, saya sempat melakukan kesalahan yang cukup fatal. Banyak yang bilang, itu tidak murni kesalahan saya. Buat saya, itu alasan yang mungkin mengurangi tapi tidak membenarkan secara penuh. Tadinya saya bingung, kok saya tidak dibenci atau setidaknya dimarahin hebat. Terus saya runut lagi apa yg saya lakukan setelah kejadian itu.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Seharian itu saya sibuk nelpon sana-sini. Yang pertama saya lakukan adalah menceritakan kesalahan yang saya lakukan, minta maaf, menjelaskan konteks masalahnya kenapa bisa itu terjadi and last but not least, clean up the mess. Mungkin tidak bisa mengembalikan kepada kondisi seharusnya, tapi yang saya lakukan adalah meminimalisir kerugian dan mencarikan jalan keluar.   Entah saya dimaafkan karena itu, atau karena semua orang maklum itu terjadi dalam kondisi program yang super sinting (tapi penting, meski ada yg bilang ini kerjaan technicalities.. mudah2an yg bilang gitu tidak bermaksud jadi menurunkan nilai pekerjaan yang saya lakukan karena alasan saya ambil program ini karena komitmen ke lembaga tempat saya bekerja juga :D).  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Dalam tingkat yang lebih tinggi lagi, bila terkait dengan tindak pidana. Mencuri, misalnya. Masa iya, habis mencuri terus minta maaf, maka persolan  jadi selesai? Masalah alasan si pencuri karena persoalan ekonomi, adalah persoalan yang meringankan si pencuri. Yang dicuri boleh memaafkan, tapi baiknya mencari jalan keluar juga untuk "menghukum" si pencuri. Kalau masalahnya karena miskin, ya kasih pekerjaan sekalian biar gak mencuri lagi. Selemah-lemahnya iman, itulah "hukuman'nya. Kecuali mencuri hati, saya gak ngerti tuh penyelesaiannya gimana hehe.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; white-space: pre-wrap;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Udah ah. Ngantuk, mo tidur. Kok penutup tulisannya kaya gini sih? :D   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:'lucida grande';font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" white-space: pre-wrap;font-size:11px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-7607404315541176193?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/7607404315541176193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=7607404315541176193' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/7607404315541176193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/7607404315541176193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/08/ramadhan-01-maaf-memaafkan.html' title='Ramadhan 01: Maaf Memaafkan'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8441266808159656620</id><published>2009-04-20T18:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T20:43:25.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>The Privacy Invaders</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px; font-style: italic; font-weight: bold; font-family: georgia;font-family:-webkit-sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; font-style: normal;"&gt;Wikipedia defines privacy as: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; font-weight: normal;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Privacy"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Privacy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px; font-family: georgia;font-family:-webkit-sans-serif;font-size:85%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Privacy&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; is the ability of an individual or group to seclude themselves or information about themselves and thereby reveal themselves selectively. The boundaries and content of what is considered private differ among cultures and individuals, but share basic common themes. Privacy is sometimes related to &lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anonymity" title="Anonymity" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;anonymity&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;, the wish to remain unnoticed or unidentified in the public realm. When something is private to a person, it usually means there is something within them that is considered inherently special or personally sensitive. The degree to which private information is exposed therefore depends on how the public will receive this information, which differs between places and over time. Privacy can be seen as an aspect of &lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Security" title="Security" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;security&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt; — one in which trade-offs between the interests of one group and another can become particularly clear.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-style: italic; font-weight: bold; font-family: georgia;font-family:georgia;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;The concept of privacy is most often associated with &lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Western_culture" title="Western culture" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Western culture&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;, English and North American in particular. According to some researchers, the concept of privacy sets &lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anglo-American" title="Anglo-American" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Anglo-American&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; culture apart even from other Western European cultures such as French or Italian.&lt;/span&gt;&lt;sup id="cite_ref-0" class="reference" style="line-height: 1em; font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Privacy#cite_note-0" title="" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none; white-space: nowrap;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; The concept is not universal and remained virtually unknown in some cultures until recent times. A word "privacy" is usually regarded as &lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Untranslatability" title="Untranslatability" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;untranslatable&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup id="cite_ref-TranslationToday_1-0" class="reference" style="line-height: 1em; font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Privacy#cite_note-TranslationToday-1" title="" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none; white-space: nowrap;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt; by linguists. Many languages lack a specific word for "privacy". Such languages either use a complex description to translate the term (such as Russian "Неприкосновенность частной жизни") or borrow English "privacy" (as Indonesian "Privasi" or Italian "la privacy")&lt;/span&gt;&lt;sup id="cite_ref-TranslationToday_1-1" class="reference" style="line-height: 1em; font-family: georgia;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Privacy#cite_note-TranslationToday-1" title="" style="text-decoration: none; color: rgb(0, 43, 184); background-image: none; white-space: nowrap;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;Blog is a place where people share stories. It could be their own stories, this is when blog is our own online journal. Or, it could be other's people stories. We tell other people stories in our blog. Some do it by hiding the subject's real identities, creating imaginary or symbolic names, some just totally reveal their identities, probably accompany by all those swearing and nasty words. This is when our blog is our own personal trash can. You can throw anything in it, and you can even throw it to your most hated person.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;We tell other people's stories  for different reasons. The noblest one is probably to share the lesson learnt from their experiences. The shallowest one of course, when you do it for your own personal revenge plan. While there others who make their real life (including people surround them) into one big smashing hits novel :), which then, someone is making a movie out of it. Raditya the "kambing jantan" and andrea hirata with his tetralogy are only the samples. Despite the funny and touchy parts of their stories,  have you ever wonder about Raditya's girlfriend (they broke up now) or A Ling's --andrea's first love crush-- or Andrea's girlfriend (forgot the name of the girl)? I mean, do you really want your ex-boyfriend telling stories about you two together, both in a novel and movie (and let's also count the infotainment too)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We call it "privacy" because for some reasons, we would like  keep it from the public realm. I always have questions and dilemmas whether I should bring other's people stories or not in this blog, in order to respect their privacy. Even, if they did some shittiest thing upon me. I did bring up those two bitches (should have brought up the third and the bitchiest :P) and then, erased them for good. At first, I didn't want to bring them up, until Tita asked me too, since they are the most important thing ever happened, hehe. But then again, I decided to erase them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I did make some stories, true stories, which involve other people's, but I tagged them. I think it is the question of ethical that you should let them know that you're writing about them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have I ever been brought up to other people's blog? Yes, couple times. A friend told me that she wrote my experience but of course, she made fake names to hide my identity. There is one article which  I didn't know I was part of it. And to be honest, I found the subject to be "sensitive". Something that I don't even want to talk about.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wanted to tell that person to delete it, but I guess that person has the rights to tell it. And that person seems a kind of person that tells other people's stories in blogs anyway. For whatever reasons, just assumes that person uploaded it for a good reason :) Thank God, that person spared my name. It's funny, though.. to see other people's perspectives about yourself.  Probably, I'd write about that subject.  It is now a public material anyway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Privacy invaders? Well, I am a privacy invaders. People who can read beyond what a normal eyes see, are automatically privacy invaders. But that is totally different issues hehe..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 19px;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-8441266808159656620?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/8441266808159656620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=8441266808159656620' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8441266808159656620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8441266808159656620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/04/privacy-invaders.html' title='The Privacy Invaders'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2380700746912137101</id><published>2009-04-16T08:20:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T16:41:50.090-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Me, Tita &amp; Porky</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SefA5SDofWI/AAAAAAAAAFM/AJwvTnUAEvA/s1600-h/Tita+n+porky.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SefA5SDofWI/AAAAAAAAAFM/AJwvTnUAEvA/s320/Tita+n+porky.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325437174721052002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SefA5SBYavI/AAAAAAAAAFE/oSYgogAwrA4/s1600-h/Herni+dan+babi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SefA5SBYavI/AAAAAAAAAFE/oSYgogAwrA4/s320/Herni+dan+babi.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325437174711610098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namanya Porky, si boneka babi berwarna pink. Dibeli tahun 2005, sebelum ke Belanda, dari Ole. Seketika dijadikan obyek foto dengan berbagai macam pose, tentu saja. Sayangnya, hanya dua foto ini yang tersisa, thanks to dek Iphe. Foto-foto dengan porky harus lenyap bersamaan dengan hp lama yang tiba-tiba mati total.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keberadaan porky sekarang? Tadinya ada di rumah. Tapi karena si gemblung suka sekali dengan boneka ini hingga dijadikan teman tidur tiap malam dan si porky jadi "bau laki-laki gemblung", maka diselamatkanlah oleh mbak helly. Bersama-sama dengan boneka teddy bear yang berwarna coklat, beli di scheveningen sebagai bentuk charity untuk anak-anak yang terkena penyakit kanker. Cuma sayangnya, status mereka berdua sekarang MIA (missing in action). Entah disembunyikan dimana keduanya oleh mbak Helly. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Porky adalah koleksi pertama boneka atau pajangan berbentuk babi, mulai dari boneka babi dari kayu (dari Endah, oleh-oleh dari Prague), boneka babi berdaun irlandia (dari Avi, oleh-oleh juga), pasukan babi-babi mungil dari kaca bening (dari Kay, oleh-oleh dari Cina), dan celengan babi dengan corak keramik khas Belanda (yang ini beli sendiri di Volendam, tapi entah dimana sekarang).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2380700746912137101?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2380700746912137101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2380700746912137101' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2380700746912137101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2380700746912137101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/04/me-tita-porky.html' title='Me, Tita &amp;amp; Porky'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SefA5SDofWI/AAAAAAAAAFM/AJwvTnUAEvA/s72-c/Tita+n+porky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1001265781936119519</id><published>2009-04-14T00:43:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T01:07:03.343-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>On Sorry</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"   style="color: rgb(51, 51, 51);   font-family:'Lucida Grande';font-size:12px;"&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;It’s sad, so sad&lt;br /&gt;It’s a sad, sad situation&lt;br /&gt;And it’s getting more and more absurd&lt;br /&gt;It’s sad, so sad&lt;br /&gt;Why can’t we talk it over&lt;br /&gt;Oh it seems to me&lt;br /&gt;That sorry seems to be the hardest word&lt;br /&gt;(Elton John).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Buat sebagian orang, kata maaf menjadi satu kata yg sulit untuk diucapkan. Entah teman, pacar, orang tua yang enggan meminta maaf pada anaknya, dan bahkan Pemerintah. Ya, adalah sangat tidak masuk akal ketika Parlemen Belanda memutuskan untuk menolak permohonan seorang wakil negara Indonesia untuk sebuah permohonan maaf karena telah menjajah rakyat Indonesia selama beratus-ratus tahun. Atau dalam film &lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic;"&gt;Civil Action&lt;/span&gt;-nya John Travolta, yang bercerita tentang sebuah perusahaan yang membuang limbahnya sembarangan dan melukai pemuda-pemudi setempat, namun menolak untuk sekedar mengucap kata maaf dan memilih untuk memberikan ‘uang damai’ sebesar 8 juta dollar, atau sekitar 375ribu dollar (setelah dipotong biaya pengacara, biaya perkara dll) per orang untuk anak-anak mereka yang meninggal jadi korban. I mean, how do they sleep? How do they forgive themselves? Or maybe they don’t feel guilty at all.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;In personal sphere, if you still have consciouness, to ask forgiveness is to forgive yourself. Untuk mengucap kata ‘maaf’ adalah bagian dari proses untuk memaafkan diri sendiri, yang telah melukai orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Tapi, ternyata persoalan tidak semudah itu. Pertanyaannya kemudian adalah, sampai sejauhmanakah kata maaf dianggap sudah cukup? Cukupkah kata maaf ketika perbuatan tersebut sudah mengakibatkan kerugian material maupun immaterial bagi orang lain? For some people, in some cases, maybe ’sorry’ would not be enough… to compesate. Otherwise, we wouldn’t have any legal action to deal with it, right? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img src="http://hermun.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":-)" class="wp-smiley" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-style: initial; border-color: initial; border-top-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-bottom-width: 0px !important; border-left-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-color: initial !important; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Terlebih ketika bagi sebagian orang, kata maaf menjadi satu kata yg mudah untuk diucapkan. Just say "Sorry" and the problem is considered solved. The person who said sorry is considered has redemption for any actions he/she may caused. And then, case closed. But, is it? Accepting other person's apology is one thing, restoring things to normal before it was impaired by his/her doing is a totally different thing. You probably would look at him/her in totally different perspective. Like a song from the Corrs, you are forgiven, but not forgotten. People may say it is already forgotten, but perhaps there is levels or degrees of forgetting something or someone that they don't aware of . Sometimes, you unconsiously make a note and keep it somewhere within you.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;Another option is, to talk over, including between you and yourself. So, ’sorry’ is something to negotiate. Something that we  have to compromise. Something to be agreed and deal with.  But in personal sphere, it doesn’t always work that easy. Kadang-kadang, kita terpaksa harus ‘ikhlas’ menerima kata maaf, bahkan ketika perbuatan yang dihasilkan sudah menimbulkan kerugian… immaterial maupun material. And you wish that something would suddenly hit your head and take your memories away. Atau kita berharap, kita dikaruniai sifat pelupa.  You simply just want to forget it, by not necessarily talking about it.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:georgia;"&gt;Dan maaf, menjadi sebuah kata yg tidak saja sulit tapi juga penuh dilema &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:georgia;"&gt;&lt;img src="http://hermun.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":-)" class="wp-smiley" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-style: initial; border-color: initial; border-top-width: 0px !important; border-right-width: 0px !important; border-bottom-width: 0px !important; border-left-width: 0px !important; border-style: initial !important; border-color: initial !important; " /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-size:13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:georgia;"&gt;Yeah, sorry…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="line-height: 1.5em; margin-top: 1.2em; margin-right: 0px; margin-bottom: 1.2em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style=" ;font-family:georgia;font-size:13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1001265781936119519?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1001265781936119519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1001265781936119519' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1001265781936119519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1001265781936119519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/04/on-sorry.html' title='On Sorry'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2477078369268645746</id><published>2009-04-11T08:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-11T08:59:47.088-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poetry'/><title type='text'>On Leader and Leadership</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.poetryfoundation.org/archive/poem.html?id=173018"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;http://www.poetryfoundation.org/archive/poem.html?id=173018&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;The Lost Leader &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;By Robert Browning&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" line-height: 18px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Just for a handful of silver he left us, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Just for a riband to stick in his coat—&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Found the one gift of which fortune bereft us, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Lost all the others she lets us devote;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;They, with the gold to give, doled him out silver, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      So much was theirs who so little allowed:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;How all our copper had gone for his service! &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Rags—were they purple, his heart had been proud!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;We that had loved him so, followed him, honoured him, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Lived in his mild and magnificent eye,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Learned his great language, caught his clear accents, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Made him our pattern to live and to die!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Shakespeare was of us, Milton was for us, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Burns, Shelley, were with us,—they watch from their graves!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;He alone breaks from the van and the freemen, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      —He alone sinks to the rear and the slaves!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;We shall march prospering,—not thro' his presence; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Songs may inspirit us,—not from his lyre;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Deeds will be done,—while he boasts his quiescence, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Still bidding crouch whom the rest bade aspire:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Blot out his name, then, record one lost soul more, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      One task more declined, one more footpath untrod,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;One more devils'-triumph and sorrow for angels, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      One wrong more to man, one more insult to God!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Life's night begins: let him never come back to us! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" line-height: 18px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      There would be doubt, hesitation and pain,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Forced praise on our part—the glimmer of twilight, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Never glad confident morning again!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Best fight on well, for we taught him—strike gallantly, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Menace our heart ere we master his own;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Then let him receive the new knowledge and wait us, &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-indent: -1em; padding-left: 1em; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;      Pardoned in heaven, the first by the throne!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.authorsden.com/visit/viewPoetry.asp?AuthorID=73862"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;http://www.authorsden.com/visit/viewPoetry.asp?AuthorID=73862&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: Arial; font-size: 13px; -webkit-border-horizontal-spacing: 4px; -webkit-border-vertical-spacing: 4px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Am I a Leader? &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;By Mike Wash&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you care about others &lt;br /&gt;Are you willing to give them time &lt;br /&gt;Can you get angry about the failure &lt;br /&gt;And waste caused by crime? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you have a passion to make a difference &lt;br /&gt;Can you help others see another option &lt;br /&gt;Are you prepared to make a stance &lt;br /&gt;And communicate clearly your position &lt;br /&gt;Standing boldly stating what’s possible &lt;br /&gt;And excite those around you, &lt;br /&gt;Who in turn you inspire &lt;br /&gt;To work beyond the ordinary &lt;br /&gt;With passion, zeal and fire. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can people read you and your values &lt;br /&gt;Know what you stand for &lt;br /&gt;See your bold and good intent &lt;br /&gt;So they can rely on your candour. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you seek out opportunities to learn &lt;br /&gt;From your own and indeed others mistakes &lt;br /&gt;Thriving on new knowledge and yearn &lt;br /&gt;For the opportunity to release the brakes &lt;br /&gt;On people’s potential so they can grow &lt;br /&gt;From the seeds you sow. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can you cry about other’s pain &lt;br /&gt;Shout about injustice &lt;br /&gt;Guard against false fame &lt;br /&gt;And listen carefully in case you miss &lt;br /&gt;The wisdom of others. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you put into practice &lt;br /&gt;Those values you hold dearly &lt;br /&gt;Those principles you preach &lt;br /&gt;Those behaviours you desire &lt;br /&gt;And those standards you hope to reach. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can you reflect on your day &lt;br /&gt;And admit to learn &lt;br /&gt;That maybe another way &lt;br /&gt;May lead you to earn &lt;br /&gt;The respect of others who say &lt;br /&gt;We have ideas too &lt;br /&gt;If you let us follow through &lt;br /&gt;And do &lt;br /&gt;For you &lt;br /&gt;To &lt;br /&gt;Achieve extraordinary results &lt;br /&gt;That reflect the spirit and pride &lt;br /&gt;You often hide &lt;br /&gt;Until the applause and roar &lt;br /&gt;Of success are so evident &lt;br /&gt;You may as well sit back and enjoy the ride. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leaders are big, leaders are small &lt;br /&gt;Leaders don’t always walk tall &lt;br /&gt;Quite often they talk with their actions &lt;br /&gt;Quite often they speak with knowledge &lt;br /&gt;And confidence that within a fraction &lt;br /&gt;They can and will take themselves to the edge &lt;br /&gt;Of the unknown to achieve that bit extra &lt;br /&gt;So others learn and benefit &lt;br /&gt;From the legacy of a unique contribution &lt;br /&gt;That makes a difference. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If deep down, these qualities highlighted here &lt;br /&gt;Stir with recognition and instil &lt;br /&gt;That sense of purpose to be true &lt;br /&gt;To an ideal and way of being &lt;br /&gt;Then yes, &lt;br /&gt;Perhaps this is you. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2477078369268645746?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2477078369268645746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2477078369268645746' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2477078369268645746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2477078369268645746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/04/lost-leader.html' title='On Leader and Leadership'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5884995194566553963</id><published>2009-04-09T09:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T10:35:19.268-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='parlemen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Dari Golput-ers untuk Caleg Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/Sd4gEzaQD6I/AAAAAAAAAEk/TF1Tm-ztbRk/s1600-h/women+election+perangko.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/Sd4gEzaQD6I/AAAAAAAAAEk/TF1Tm-ztbRk/s320/women+election+perangko.png" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322727076490383266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Ada yang berbeda dengan Pemilu 2009. Pertama, saya akhirnya memutuskan untuk memilih! Kedua, saya tidak lagi memilih partai, tapi individu. Ketiga, dan ini yang mungkin paling penting, semua ini adalah gara-gara: perempuan! :-)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="white-space: pre-wrap; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terakhir saya memilih adalah tahun 1999. Pemilu 2004 yang lalu, saya golput. Tadinya, pemilu kali ini pun saya berencana untuk golput, berdasarkan alasan-alasan yang sebelumnya sudah saya ungkapkan di blog ini. Tapi rupanya, ada yg membangunkan salah satu kawanan singa tidur bernama golput ini: caleg perempuan. Hal ini didorong juga dengan file daftar caleg perempuan yang perlu didukung dari mbak Dewi Tjakrawinata APAB (Aliansi Pelangi Antar Bangsa).  Daftar caleg perempuan yang selama ini memang terbukti komitmennya untuk memperjuangkan keadilan jender. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya memilih mereka, meskipun saya tidak suka dengan partai yang direpresentasikannya. Pilihan saya jatuh pada caleg perempuan yang berasal dari salah satu partai yang kental dengan nuansa Islam (tapi bukan PKS, hehe), namun saya kenal dan tau baik sepak terjangnya selama ini dalam advokasi RUU Pelayanan Publik. Dia aleg yang bersuara lantang dan mampu bersikap tegas dalam rapat-rapat. Dia sangat akomodatif dan selalu menyediakan waktu untuk memahami substansi dari advokasi kita. Dia juga sangat terbuka dengan kritik, ketika pers release yang dikeluarkan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3) membuat Pak Sayuti, konon katanya, kecewa. Dia mampu menerima kritik kami terhadap DPR sebagai lembaga dan secara legowo mengakui kelemahan-kelemahan institusi itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buat saya, ketika kita bicara soal partai yang tidak memiliki platform, yang masih tidak profesional, dan segala masalah lainnya, kita bicara soal sistem. Dan memperbaiki sistem itu, tidak semudah membalikan telapak tangan. Ikut pemilu dan mencontreng nama salah satu caleg perempuan pun, tidak serta merta membuat sistem itu menjadi demokratis. Tapi yang pasti, kita butuh individu-individu yang terbuka dan memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki sistem. Kita membutuhkan individu-individu yang bisa memberikan "sentuhan perempuan" dalam sistem. Membawa semangat keadilan jender di parlemen.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bicara caleg perempuan tentu tidak bicara soal representasi, jumlah dan muka perempuan di parlemen. Bicara caleg perempuan juga bicara bagaimana caleg perempuan bisa memberikan kontribusi bagi perubahan di parlemen pada tidak saja pada tataran manajemen, namun juga pada tataran aras. Perubahan yang mengajak baik perempuan maupun laki-laki untuk peduli pada isu keadilan jender.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dan bila ada yang mengatakan, pemilu akan selalu bentuk kompromi untuk memilih yang lebih tidak buruk dari buruk-buruk, maka bentuk kompromi itu buat saya adalah, saya memilih individunya meskipun saya tidak terlalu "sreg " dengan partainya. Tentu saja, tiap kompromi memiliki batas toleransi. Demikian pula dengan pertimbangan partai yang direpresentasikannya. Saya memiliki batas toleransi saya sendiri.&lt;div style="text-align: justify; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; "&gt;Jadi pemilu kali ini, saya sebagai anggota kawanan golput, bangun hanya untuk menyontreng, demi parlemen dan pelaksanaan fungsi representasi yang berkeadilan jender.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5884995194566553963?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5884995194566553963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5884995194566553963' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5884995194566553963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5884995194566553963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/04/dari-perempuan-untuk-caleg-perempuan.html' title='Dari Golput-ers untuk Caleg Perempuan'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/Sd4gEzaQD6I/AAAAAAAAAEk/TF1Tm-ztbRk/s72-c/women+election+perangko.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-3806099441159989048</id><published>2009-04-08T21:29:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T10:55:31.469-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Home Sweet Home</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/Sd4AWive0wI/AAAAAAAAAD8/2GJQtk0E2eQ/s1600-h/tampak+depan+2a.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/Sd4AWive0wI/AAAAAAAAAD8/2GJQtk0E2eQ/s320/tampak+depan+2a.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322692196881584898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:'times new roman';"&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;What is home? A place where we experience independence, safety, privacy, and where we can dispense hospitality. The family is the true unit. Kerja keras terbayar sudah! This one is from us, for you, mommy!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Home Sweet Home&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:'times new roman';"&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Mid pleasures and palaces though we may roam,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Be it ever so humble, there's no place like home;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;A charm from the sky seems to hallow us there,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Which, seek through the world, is ne'er met with elsewhere.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Home, home, sweet, sweet home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;There's no place like home, oh, there's no place like home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;An exile from home, splendor dazzles in vain;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Oh, give me my lowly thatched cottage again!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The birds singing gayly, that come at my call --&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Give me them -- and the peace of mind, dearer than all!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Home, home, sweet, sweet home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;There's no place like home, oh, there's no place like home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;I gaze on the moon as I tread the drear wild,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;And feel that my mother now thinks of her child,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;As she looks on that moon from our own cottage door&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Thro' the woodbine, whose fragrance shall cheer me no more.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Home, home, sweet, sweet home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;There's no place like home, oh, there's no place like home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;How sweet 'tis to sit 'neath a fond father's smile,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;And the caress of a mother to soothe and beguile!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Let others delight mid new pleasures to roam,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;But give me, oh, give me, the pleasures of home.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Home, home, sweet, sweet home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;There's no place like home, oh, there's no place like home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;To thee I'll return, overburdened with care;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The heart's dearest solace will smile on me there;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;No more from that cottage again will I roam;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dt&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Be it ever so humble, there's no place like home.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Home, home, sweet, sweet, home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;There's no place like home, oh, there's no place like home!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;John Howard Payne&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-3806099441159989048?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/3806099441159989048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=3806099441159989048' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3806099441159989048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3806099441159989048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/04/place-called-home.html' title='Home Sweet Home'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/Sd4AWive0wI/AAAAAAAAAD8/2GJQtk0E2eQ/s72-c/tampak+depan+2a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-3283216442583326572</id><published>2009-03-11T06:34:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T02:08:36.836-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan?</title><content type='html'>Waktu SMA, kita punya satu kegiatan ekstra kurikuler yang "wajib". Mengapa diberi tanda kutip, karena diwajibkan secara sosial, pengajian kelas! Saya ingat dulu, saya sering kabur dari pengajian kelas ini.  Namun kemudian ketika masuk jurusan A3 (sosial) malah membuat satu wadah pengajian alternatif, buletin dakwah pengajian kelas (BDPK) Sosial. Ini proyek usil saya yang pertama. Usil karena buletin ini kami dirikan dengan dana yang diperoleh dari "memangkas" infaq jum'at (yang lagi-lagi merupakan paksaan sosial sumbangan kelas ke mushola sekolah). Selain itu, usil juga karena materi laporan utama pertamanya tentang pengajian kelas yang tidak laku dan sepi pengunjung hihihi. Soal harga, saya iseng juga memasang "infaq: seikhlasnya". Suatu bentuk protes terhadap infaq-infaq yang keliatannya meminta keikhlasan cuma tidak lebih dari paksaan sosial. Gaya penyampaiannya pun populer bin nge-pop. Buletinnya sukses besar, terbukti dari dukungan keuangan dari teman-teman yang menyumbang lebih dari modal fotokopi dan cara-cara kami ditiru oleh buletin resmi terbitan musholla hihihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya tidak mau cerita soal keusilan masa SMA. Benang merah ingatan yang melempar saya ke masa-masa penuh warna itu adalah doktrin-doktrin pengajian kelas, dakwah-dakwah di liqo (yang saya juga tidak tahan mengikutinya ini hehe..) yang rupanya tanpa sadar terpatri di kepala. Salah satunya, adalah satu ayat di Qur'an yang diulang-ulang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Sesi soal nikmat. Satu sesi yang saya bisa terima, dibandingkan sesi-sesi tentang kebencian terhadap agama lain atau sesi-sesi tentang segala macam larangan, dosa dan azab dimana agama ditempatkan sebagai alat opresi dan wajah Tuhan ditampilkan sebagai Sang Maha Kejam, bukannya Yang Maha Pengasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal nikmat, sama halnya bicara tentang seseorang yang sifat spesialnya baru kita sadari setelah dia tidak ada. Kita baru sadar betapa nikmatnya kesehatan yang diberikan, manakala sakit. Kita baru sadar betapa nikmatnya punya duit banyak, manakala ketika miskin. Ah, contohnya kok kaya gitu sih! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru merasakan betapa kondisi bisa mengunyah, menelan dan merasakan perut mencerna makanan itu hingga keluar melalui anus adalah suatu kenikmatan, manakala tubuh saya tidak mampu melakukan itu. Makan apapun, selalu dimuntahkan dalam bentuk yang persis ketika dikunyah. Saya coba nasi dan ikan, keluarnya demikian. Saya coba roti dan meses, keluarnya juga demikian. Seolah tidak menyerah untuk makan :), saya coba biskuit dengan teh hangat (ceritanya kaya makanan bayi hehe), saya muntahkan juga dalam bentuk persis seperti  ketika masuk mulut. Nikmat kecil ini baru terasa setelah diberi obat dan akhirnya saya bisa mengunyah, menelan dan makanan itu diam di perut saya, diolah sampe keluar lewat anus. Menikmati perut yang kenyang ternyata hal yang luar biasa! Nikmat yang merasakan makanan masuk, "diam" diolah oleh lambung, kenyang.... Kita pun duduk dengan penuh rasa lega dan mungkin sambil mengelus-elus perut :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu nikmat kecil yang baru terasa nilainya adalah menikmati udara yang semilir di sela-sela rambut hingga ke tengkuk, tanpa harus menjadi gatal-gatal karena itu. Ya, ini karena kebaikan tita yang menularkan penyakit menahunnya ke diriku. Mungkin ini namanya persahabatan bagai ke...pom..pong :D. Gatal-gatal. Alergi dingin. Dalam kondisi ini, tubuh merupakan termometer alami dimana setiap penurunan suhu sedikiiiiit saja, langsung menyebabkan gatal-gatal. Tubuh juga merupakan detektor  hujan yang baik, karena biasanya 2-3 jam sebelum hujan, pasti serangan gatal-gatal itu muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari segala "keuntungan" dari alergi dingin ini, sialnya,  saya tidak bisa sembarangan menikmati semilir angin. Posisi kipas angin terpaksa harus diubah agar tidak langsung masuk ke kamar saya. Berenang adalah sesuatu yang sebaiknya tidak dulu dilakukan (apalagi dalam kondisi masih hujan). Mandi sore jadi sesuatu yang harus dilakukan lebih awal atau dengan memasak air panas terlebih dahulu (maklum, belum punya pemanas air :P). Ritual mandi pagi harus selalu diikuti oleh ritual minyak kayu putih dan bedak (dan bahkan jadi ritual ketika gatal-gatal  menyerang). Jadi, rasa dingin-dingin enak ketika angin semilir memainkan rambut dan rasa dingin itu terasa di tengkuk, adalah suatu nikmat yang luar biasa! Kali ini saya sepakat dengan mbak-mbak akhwat di pengajian dulu, "Nikmat mana lagi yang kau dustakan?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-3283216442583326572?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/3283216442583326572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=3283216442583326572' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3283216442583326572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3283216442583326572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/03/nikmat-mana-lagi-yang-kau-dustakan.html' title='Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan?'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-9220968156687809269</id><published>2009-03-04T01:46:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T10:37:36.245-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><title type='text'>Partai Tidak Milih</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 14px; font-family: georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;Sekarang lagi ramai soal fatwa MUI yang mengharamkan golput. Ulasan yang mengkritik rasanya sudah banyak, ya. Toh, MUI tetap tidak bergeming mempertahankan kebodohannya. Konon katanya, obatnya orang bodoh ya diajari. Tapi kalau tidak jua bisa diajari, apa dong obatnya? Ah, sudahlah. Tulisan ini tidak mau menambah koleksi kekesalan masyarakat terhadap MUI yang kian memuncak. Tapi menelusuri kenapa golput jumlahnya masih banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang memahami golput sebagai sebuah sikap tidak peduli, acuh, abai atau bentuk ketidakpercayaan terhadap (elit) politik dan bagaimana sistem politik bekerja di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kebetulan lagi terlibat menulis dan bantu mengedit catatan awal tahun (Cawahu) atas kinerja DPR di sepanjang tahun 2008. Satu hasil bacaankami adalah tentang bagaimana DPR mengelola berbagai kepentingan dan meramunya menjadi sebuah kebijakan yang menyelesaikan masalah sehingga diterima semua pihak. Tahun-tahun lalu, kami sudah terlalu sering berkata, DPR jarang sekali mengeluarkan produk kebijakan yang menyelesaikan masalah. Nambah masalah sih sering. Tahun ini kami menampilkan bagaimana DPR mengelola dan mengolah aspirasi masyarakat menjadi suatu kebijakan… yang merugikan semua pihak. Niatnya sih mungkin win-win solution, kompromi… tapi apa daya semua pihak merasa tidak diuntungkan. Contoh sederhana, UU Pornografi yang kontroversial. Baik pihak yang mendukung, yang kontra, yang liberal dan yang fundamentalis sebenarnya ditipu. Tidak heran, dari kaum pekerja seni, aliansi bhineka tunggal ika, aktivis HAM, kelompok perempuan, sampai HTI pun mau mengajukan uji UU ke MK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kompromi pada interpelasi kasus lapindo dan BLBI juga begitu. Tim dibentuk dan Lapindo diharuskan bayar ganti rugi (meski dibilang penyebabnya adalah fenomena alam), tapi toh lapindo bebas. UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah akhirnya dihadirkan, tapi masih dengan pendekatan lama yang lebih mirip basa-basi dibanding kebijakan yang benar-benar mendorong UMKM yang punya kontribusi signifikan ke perekonomian negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia politik kita memang suram. Produk yang dihasilkan dari senayan memang selalu produk politik. Sedimentasi atau bahkan residu dari proses politik. Tapi apakah yang residu tadi menyelesaikan masalah dan menguntungkan buat masyarakat ke depan, nah itu die masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau menelusuri lagi, banyak hal yang membuat dunia politik kita makin suram dan mendorong orang berpikir untuk menjadi golput (untuk beberapa di antaranya, lihat: http://public.kompasiana.com/2009/03/06/simulus-fiskal-2009-stimulus-golput-2009/) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai politik jarang ada yang punya platform yang jelas. Yang menampilkan kebersihan pun, bukan tanpa cela. Fundamentalis gaya baru, yang dibungkus dengan kesopanan yang membumi. Keliatannya terbuka, tapi kadang menipu. Kenapa dibilang menipu, karena kadang-kadang keliatan aslinya, yang ironisnya, terlihat berseberangan dengan segala hal-hal baik yang dikampanyekan sebagai trade marknya. Mungkin memang itu tantangannya kalau mengaku-ngaku baik dan bersih. Tuntutannya lebih tinggi. Toh katanya, barang siapa menempuh jalan kesucian, siap-siaplah menghadapi kelokan yang berliku, terjal dan berbatu! Mending kita, yang memang tidak mengaku mengambil jalan itu, sekedar menjalani kehidupan bagai menikmati secangkir sanger (kopi susu khas Ulee Kareng, Aceh) dan setangkup roti srikaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke laptop, platform politik ini pun seringkali berubah-ubah, tergantung isu yang dibahas. Yang mendasarkan pada nasionalisme (dan sekulerisme), cuma bisa walk-out. Secara politik, memang terlihat sebagai aksi yang keren, berani dan keliatan "beda dari yang lain. Tapi tidak menimbulkan pengaruh apa-apa pada level kebijakan. Yang keliatan islami tetapi tidak mau disebut partai islam dan mengagungkan pluralisme serta mengandalkan tradisi intelektualitas, tetap saja tidak berani mengatakan tidak untuk kebijakan-kebijakan yang mengarah pada membuat negara ini menjadi sektarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak punya platform yang jelas, persepsi mereka mengenai diri sendiri sebagai partai politik pun tidak jelas. Mereka yang berusaha memperbaiki hal ini dan menawarkan konsep yang “berbeda” pun, masih punya cela. Ambil contoh, partai politik yang mengadopsi konsep dakwah dan politik menjadi satu yang diterjemahkan ke dalam bungkusan amal sekedar semakin menguatkan betapa agama ditempatkan sebagai alat politik. Dari ilmu politik pun menimbulkan pertanyaan, apa bedanya partai politik dengan lembaga amal/sosial?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa politik dan partai politik harus mengandung unsur kepekaan, saya setuju sekali. Tapi masalahnya adalah, bagaimana kepekaan ini seharusnya dilakukan oleh partai politik. Apa sih porsi partai politik yang dalam hal ini jelas beda dengan lembaga amal? Atau bentuk amal seperti bagaimanakah yang seharusnya dilakukan partai politik? Kuncinya satu: keberpihakan dalam kebijakan! Saya teringat teman saya, salah satu councilmen di district II Maryland, US. Dia secara reguler melaporkan “amal”nya dia kepada para konstituen. Bahwa dia membantu memfasilitasi kebijakan di bidang pendidikan yang berdampak pada pembentukan atau perbaikan sekolah, pelayanan publik yang lebih baik dsb di wilayahnya. Ini bentuk "amal" yang sustainaibilitasnya terjamin. Bukan jenis amal yang hit and run, yang sifatnya kondisional, bila ada bencana… sedia rekening, kumpulin bahan, kirim mobil, dan pasang bendera partai. Amal jariyah anggota parlemen yang tetap menjaga relasinya dengan konstituennya. Mendengar, merespon dan melakukan. Memberi bukti, bukan sekedar janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal lain yang membuat dunia politik suram terlihat tanpa harapan adalah anggota parlemen yang tidak mandiri, masih terikat pada fraksi, aturan internal DPR yang banyak mengandung logika demokrasi terbalik, budaya, ketidakmampuan, de el el. Dalam konteks ini, slogan “satu suara anda sangat berarti” menjadi sesuatu yang tidak logis. Tidak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah golput tidak dapat disebut kekuatan politik? Salah. Tidak bisa bermain di kancah politik? Ah, salah juga! (kok tiba-tiba ke golput ya? hehehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golput justru pemilih yang sadar dan peduli. Singa yang tidur. Singa yang produktif, kok. Mengaum-ngaumnya hampir setiap hari dan tidurnya cuma sehari, waktu pemilu aja. Seperti layaknya singa yang tidak mau tunduk pada relasi kekuasaan yang tidak jelas, dia tidak bisa dihentikan hanya dengan fatwa. Singa yang akan bangun sendiri tanpa harus dipecuti dan ditakut-takuti oleh kata “haram”, bila memang aumannya didengar dan diikuti hingga membawa perubahan. Kalau gak, ya dengar aja lagunya efek rumah kaca, "Mosi Tidak Percaya" :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golput bisa juga bermain di kancah politik. Siapa bilang golput tidak bisa bikin partai? Saya ingat waktu memantau pemilu di Belanda. Banyak terdapat partai-partai dengan nama lucu, salah satunya “Partai Tidak Milih” (geen vote partij, bener gak mam, terjemahannya?). Saya rasa, ini bisa saja terjadi, kalau singa-singa tidur ini pada kompak melakukan keusilan :P. Jumlahnya cukup besar, kok. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-9220968156687809269?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/9220968156687809269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=9220968156687809269' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/9220968156687809269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/9220968156687809269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/03/partai-tidak-milih.html' title='Partai Tidak Milih'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5205347338039110200</id><published>2009-02-16T03:38:00.000-08:00</published><updated>2009-03-06T19:58:39.254-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Valentine dan Solidaritas Antar Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SZlRuy1ZIBI/AAAAAAAAAD0/_22C-FaWR8Q/s1600-h/rose.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SZlRuy1ZIBI/AAAAAAAAAD0/_22C-FaWR8Q/s320/rose.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303359900567019538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;14 February 2009. Hari sabtu. Malam minggu. Valentine. Sebagian orang mungkin tidak merayakan. Entah karena diharamkan atau memang tidak peduli. Sebagian orang merayakan valentine dengan caranya masing-masing. Romantic candle light dinner? Se-box coklat, setangkai bunga mawar merah dan secarik puisi? Datang bersama ke pasangan ke event-event valentine? Mencari sudut gelap di pelosok kota hanya untuk mojok berduaan? Posting kalimat atau tulisan cinta kiriman sang terkasih? Atau posting agak nyinyir soal valentine itu sendiri, kaya gue hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine kali ini, dihabiskan berdua sama tita. I know, for some of my friends, the fact that I'm spending a valentine with tita, worries them :-) But hey, kapan lagi dua makhluk muncrut bin gembyul bisa menghabiskan akhir pekan bersama-sama, mulai dari bangun tidur sampe tepar ngorok (dalam arti yang sebenarnya... tapi gue gak denger kok, ta..:P) karena kecapean? hihihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine tahun ini didedikasikan untuk perempuan, utamanya solidaritas antar perempuan. Suatu hal yang saya rasa susah dibangun, bahkan di antara perempuan feminis sendiri. Yang nge-gosip orientasi seksual perempuan lain di belakang lah, yang merasa keilmuan dan pengetahuannya tentang feminismenya lebih jago lah, yang hobi mendamprat perempuan lain (padahal laki2nya yang suwek) lah, de el el.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valentine kali ini hadir dalam dua peristiwa yang menyangkut dua isu perempuan yang berbeda. Yang pertama, pelatihan perancangan peraturan berperspektif gender di Aceh. Sebenarnya, pelatihan ini melanjutkan apa yang Bibip sudah mulai rintis. Saya hanya tinggal meneruskan saja. Pelatihannya sangat menarik karena cuma diikuti 6 orang, saya berkesempatan lebih membumikan metode MPM, dan topiknya tentang penyelesaian kasus perempuan korban konflik di Aceh. Yang saya suka dari pelatihan ini, kami membahas tuntas mulai dari mencoba keluar dari kebiasaan merancang peraturan --mengubah dari membenarkan yang biasa menjadi membiasakan yang benar-- sampai persoalan-persoalan strategi advokasi kepentingan perempuan, yang selalu saja dipertanyakan dan ditentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, program percontohan penguatan penyelesaian sengketa informal di 7 nagari di Sumatera-Barat. Program yang serupa juga akan dilaksanakan di NTB. Peran PSHK (dan LeIP) melanjutkan perjuangan teman-teman di daerah untuk advokasi di tingkat nasional. Sum-Bar yang terkenal dengan sistem matrilinealnya, rupanya tidak kuasa melawan dunia patriarki yang justru melemahkan peran perempuan, terutama bundo kanduang, dalam proses penyelesaian sengketa adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah dua kegiatan menarik inilah, saya merayakan valentine, bersama sahabat-sahabat saya, toni dan timun (ih, kompak deh pake huruf "t" hihihi). Perayaan valentine lengkap dengan aksesoris pelengkapnya. Di Aceh, nongkrong di ulee kareng dengan sanger hangat dan roti srikaya dengan obrolan santai teman-teman dari ACSTF, agung, toni dan dua "bule asia" dari UNIFEM. Di Padang, disuguhi pemandangan pantai di pesisir selatan Sumatera Barat, diapit pegunungan, di warung seorang nenek tua yang sedang menjemur pinang yang akan dijual dengan harga Rp. 3500/kilo. Di pedalaman Solok, dijamu di rumah seorang nenek-nenek bundo kanduang yang tomboy masih naik motor di umurnya yang mungkin sudah mendekati kepala 7 dan membuka tempat penitipan anak (termasuk untuk cucunya). Dan oh ya, diiringi ucapan selamat valentine juga dari mas har, selamat rahardjo, hihihi.... garing abis deh mas-mas Jawa satu ini :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan valentine ke pasangan? ah... kita terlalu terdoktrin untuk menyatakan perasaan secara langsung. Satu hal yang kami pelajari dari kearifan masyarakat Sumatera-Barat adalah kepandaiannya dalam berpantun. Mereka mungkin tidak mengenal bahasa minang untuk "I love You". Tapi mereka punya jutaan pantun dari pelbagai aspek dan gaya, untuk menyatakan perasaan... hehe.. Amboiiii seminggu tidak bersua rasanya bagai bulan merindukan bertemunya dengan matahari (wah, gerhana dong hehehe..).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal teori tentang cinta dan bercinta? Ah, silakan saja berteori soal cinta. Kali ini saya sepakat dengan ulum. Yang lebih enak, memang yang mengalir. Gak pake teori-teori gitu. Teori, menurut richard robison (supervisor saya dulu), sederhananya adalah cara manusia menjelaskan kekonteksannya. Membantunya memahami situasi. Kadang, teori dikeluarkan hanya untuk diri sendiri, sebagai pengarah. Belum tentu benar-benar dipahami, apalagi dilakoni. Dan seringkali jadi lubang jebakan bagi diri si penteori sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, beberapa feminis seringkali mendorong perempuan untuk mengambil kontrol terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. Untuk memiliki otonomi terhadap dirinya dan menyadari seksualitasnya sebagai suatu kekuatan. Asumsinya, dengan cara begini perempuan bisa terbebaskan dari belenggu patriarki dan menjadi manusia yang otonom. Dan dalam hitungan ini, relasinya dengan laki-laki umumnya selalu jadi patokan, sejauh mana perempuan mampu menjadi manusia yang otonom itu. Mampukah perempuan mengatasi relasi yang tidak seimbang selama ini. Dari segi teori, memang indah. Mana ada teori yang tidak indah, kecuali dari makhluk yang nyinyir hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ironisnya, perempuan suka terjebak dengan teorinya sendiri, hehe. Perempuan bisa (merasa sudah) menjadi makhluk yang otonom dan sekaligus (tanpa sadar masih) tergantung pada laki-laki. Lebih parahnya, bila solidaritas antar perempuan tidak mampu dibangun dan terjadilah apa yang teman saya, yang mengaku seorang feminis radikal, katakan, "selalu ada laki-laki di antara perempuan". Otonomi yang malah menempatkan laki-laki sebagai barang, yang harus diraih, dipertahankan mati-matian, dikerangkeng, dirantai (bila perlu) dan tentunya, tidak mengubah apapun di tingkat relasi. Keliatannya memang perempuan berkuasa (di atas laki-laki), tapi tentu harus menjadi monster dahulu. Tidak saja bagi laki-lakinya, bahkan melihat perempuan lain pun, yang sebenarnya juga berada dalam posisi yang sama sebagai korban, sebagai musuh... yang perlu dihajar, dengan cara yang jalang khas perempuan atau santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dalam hal ini perempuan (yang tanpa sadar sudah berubah jadi monster tadi) tetaplah menjadi perempuan pada umumnya. Sumber energi. Sumber pemberi dan, ironisnya, penuntut cinta. Sebuah pertanyaan untuk cinta, menurut seno gumira, "apakah kau mencintaiku?" Sebuah, namun selalu ditanyakan tanpa henti hihihi.. Entah tidak dijawab-jawab atau tidak yakin-yakin.. Atau terjebak pada hubungan dimana dirinya tidak dihargai, tidak diakui eksistensinya sebagai pasangan, tidak memiliki relasi kekuasaan yang seimbang (maksudnya tidak terjajah atau sebaliknya, menjajah :P), tapi ya itu... sifat perempuannya yang selalu memberi dan menjadi energi dalam bercinta, membuatnya susah keluar dan bahkan menjadi monster, baik bagi si laki-laki maupun perempuan lain. Menciptakan ilusi bagi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan memang harus otonom. Perempuan memang harus menjadi kuat. Perempuan memang harus menciptakan dunianya sendiri yang penuh kreativitas. Tapi memiliki otonomi terhadap diri sendiri dan menjadi kuat, bukan berarti menjadi monster, bukan? Jadi, valentine kali ini saya dedikasikan untuk solidaritas antar perempuan, untuk tidak lupa mencintai dirinya sendiri...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5205347338039110200?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5205347338039110200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5205347338039110200' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5205347338039110200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5205347338039110200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/02/valentine-dan-solidaritas-antar.html' title='Valentine dan Solidaritas Antar Perempuan'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SZlRuy1ZIBI/AAAAAAAAAD0/_22C-FaWR8Q/s72-c/rose.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-7475989878102562779</id><published>2009-01-19T17:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T17:30:27.258-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Tentang Twilight Saga</title><content type='html'>Pencapaian liburan tahun baru kemarin adalah menghabiskan 10 keping DVD dan buku ke-2 dan ke-3 dari serial twilight saga, new moon dan eclipse (edisi bahasa Indonesia). Buku ke-1nya, Twilight, malah belum baca karena sudah nonton filmnya. Buku ke-4nya terpaksa pesan di kinokuniya untuk edisi yang bahasa Inggris. Sebenarnya buku ini sudah lama terbit dan booming di US, jadi terhitung telaaaat. Apalagi dibandingkan ayu yang sudah khatam berkali-kali hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini bercerita tentang kisah cinta dua remaja yang bertemu di pertengahan masa SMA. Isabella Swan, produk keluarga cerai yang pindah ke Forks untuk tinggal dengan ayahnya. Edward Cullen, satu-satunya bagian dari keluarga vampir vegetarian (hanya minum darah binatang) yang masih single. Di tengah-tengahnya ada Jacob (yup, di buku 2-3 jadi percintaan segitiga), sahabat bella dari suku Quilette, suku Indian di Forks yang punya sejarah panjang dengan keluarga Cullen (Carlisle-Esme, Rosalie-Emmet, Alice-Jasper dan Edward). Perjanjian antara Cullen dan Quilette adalah Cullen tidak boleh mengubah manusia menjadi vampir dan menarik garis perbatasan antar mereka. Sejarah Quillette juga membawa gen untuk bisa mengubah keturunannya menjadi serigala sebesar beruang yang tugasnya melindungi manusia yang ada di Forks dari serangan vampir. Bila bahaya vampir ini menguat, jumlah mereka yang awalnya hanya tiga orang pun bertambah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-7475989878102562779?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/7475989878102562779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=7475989878102562779' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/7475989878102562779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/7475989878102562779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/01/tentang-twilight-saga.html' title='Tentang Twilight Saga'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-990204886511011188</id><published>2009-01-18T17:41:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T06:42:45.016-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my summary'/><title type='text'>Membangun Profesi Pustakawan yang Profesional: Pelajaran dari Amerika</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SXc0McCPL7I/AAAAAAAAADs/XSWFXQU-_6Y/s1600-h/P1010018.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293757275285958578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 287px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SXc0McCPL7I/AAAAAAAAADs/XSWFXQU-_6Y/s320/P1010018.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;--ini waktu nemenin farli jadi moderator diskusi... akibat gak berani ngomong inglisssh :P&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan Januari ini, Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev kedatangan tamu, Judith Henchy, Head Southeast Asia Section University of Washington. Judith berbicara mengenai profesi pustakawan di Amerika di hadapan komunitas pustakawan hukum Indonesia pada Selasa, 13 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judith merupakan salah satu sahabat baik Pak Dan. Pertemuan pertama Judith dengan pak Dan berlangsung di University of Washington, ketika pak menjadi interviewernya. Dari Pak Dan lah Judith tertarik dengan studi-studi mengenai asia. Keduanya menjadi rekan sekerja dan teman dekat bertahun-tahun setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun didahului dengan disclaimer dari Judith bahwa beliau bukanlah seorang pustakawan hukum, namun demikian Judith akan berbicara mengenai profesi pustakawan di Amerika Serikat, tuntutan kualifikasi pustakawan profesional, bagaimana mengenalkan dan mengintegrasikan pengetahuan keperpustakaan ke dalam kurikulum akademik di perguruan tinggi, agenda riset dan publikasi pustakawan yang dapat dilakukan, tantangan pustakawan di era elektronik, dan advokasi yang dapat dilakukan oleh komunitas pustakawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pustakawan dan Konsep Negara Modern&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Satu hal penting mengapa profesi pustakawan dihargai di Amerika adalah bahwa dari sejarahnya, perkembangan profesi pustakawan di Amerika Serikat sejalan dengan sejarah pembentukan Amerika Serikat sebagai negara modern dan juga perkembangan dunia akademik. Pada masa kolonial, tradisi kepustakawanan di dunia akademik merupakan bagian dari konsep negara modern, utamanya berkaitan dengan fungsi negara untuk menyediakan dan menyimpan informasi. Oleh karena itu, profesi purstakawan (bibliographist) dan ahli pengarsipan (archieving specialist) mulai berkembang pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu, posisi pustakawan mengakar kuat di universitas-universitas dan tuntutan profesionalitas pustakawan pun meningkat. Untuk menjadi seorang pustakawan, Seseorang harus mendapatkan gelar pada jenjang S1 pada area tertentu terlebih dahulu untuk bisa melanjutkan ke jenjang S2 di bidang perpustakaan. Khusus untuk pustakawan hukum, beberapa sekolah perpustakaan memiliki jurusan khusus pustakawan hukum. Umumnya gelarnya berupa MLS atau MLIS (Master of Library and Information Science). Pendidikan jenjang S2 ini ditempuh selama dua tahun. Sistem pendidikan yang seperti ini sangat kondusif untuk menciptakan spesialisasi dalam profesi pustakawan itu sendiri, yang tidak hanya mampu membuat dan menyusun katalog namun juga memiliki pengetahuan khusus di bidang tertentu, misalnya pustakawan yang juga memiliki pengetahuan di bidang hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memastikan hal ini, dibentuklah panduan profesi pustakawan yang memastikan seorang pustakawan harus memiliki gelar profesional pustakawan. Selain harus memiliki sertifikat, para pustakawan profesional ini pun juga terus mengembangkan pendidikan profesinya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan di area tertentu yang berkaitan dengan pengolahan dokumen. Hal ini penting untuk menghadapi perkembangan dunia elektronik yang juga berpengaruh terhadap kebutuhan pengguna dan proses pengolahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relasi Pustakawan dengan Staf Teknis dan Profesi yang Didukungnya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sementara itu, pekerjaan-pekerjaan teknis yang berkaitan dengan manajemen dan pengelolaan perpustakaan seperti scanning dokumen, jaringan internet, memasang sistem katalog dalam jaringan komputer, dikerjakan ahli-ahli yang berfungsi sebagai staf teknis perpustakaan. Umumnyam mereka memiliki latar belakang pendidikan di bidang Teknologi Informasi. Mereka staf teknis dan bukan pustakawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu berbeda dengan kondisi di Indonesia. Profesi pustakawan seringkali ditempatkan hanya sebagai pekerjaan teknis, tukang mengolah katalog, mencari dan mengembalikan buku perpustakaan ditempatnya, serta memfotokopi dokumen yang dibutukan pengguna. Tidak ada pembagian fungsi dan tugas yang tegas antara pustakawan dan staf teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lainnya juga terletak pada relasi antara pustakawan dengan profesi yang didukungnya. Sebagai contoh, pustakawan yang bekerja di universitas memiliki kontribusi bagi dunia akademik dengan melakukan riset-riset. Misalnya, riset mengenai efektivitas perkuliahan. Selain itu, mereka juga mengenalkan ilmu keperpustakaan kepada mahasiswa melalui kurikulum dengan menyediakan satu sesi di setiap mata kuliah untuk berdiskusi megnenai akses informasi. Pustakawan mempresentasikan dan berdiskusi megnenai bagaimana menggunakan layanan perpustakaan dan menggunakan alat-alat yang disediakan untuk mencari informasi yang dibutuhkan serta etika akademis dalam mengutip tulisan orang lain. Selain itu, juga disediakan panduan online yang diintegrasikan dengan situs mata kuliah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah hubungan profesi pustakawan dengan profesi ahli bahasa. Pustakawan di Amerika Serikat bekerjasama dengan &lt;em&gt;The Modern Language Association&lt;/em&gt; menyusun panduan yang berkaitan dengan informasi linguistik yang berisi materi-materi, metode-metode dan bahkan hal-hal mengenai etika yang berkaitan dengan linguistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi pustakawan hukum pun seyogyanya dapat melakukan riset yang dapat berkontribusi bagi profesi hukum. Banyak pustakawan hukum di Amerika Serikat yang juga memiliki gelar hukum dan aktif melakukan penelitian dan kontribusi lainnya terhadap profesi hukum. Sehingga, pustakawan tidak berfungsi sekedar sebagai supervisi dan kolektor dokumen saja. Selain itu, hubungan antar pustakawan dengan profesi yang didukungnya, misalnya dalam dunia akademik, menjadi setara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komunitas Pustakawan yang Kritis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Hal yang menarik lainnya adalah komunitas pustakawan di Amerika Serikat yang sangat kritis terhadap perkembangan yang bisa berdampak pada perpustakaan dan profesinya. Komunitas pustakawan di Amerika Serikat terlibat aktif dalam gerakan akses terbuka terhadap informasi. Perpustakaan berfungsi sebagai penghubung dan penyedia informasi yang lebih murah bagi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bekerja dengan para akademisi dan organisasi-organisasi penting. Salah satunya, adalah advokasi kepada para akademisi untuk tidak mempublikasikan tulisannya melalui penerbit-penerbit yang mahal. Sebaliknya, mereka mendorong pendirian penerbit-penerbit di universitas-universitas dan menerbitkan tulisan-tulisan para dosennya sendiri. Hal ini merupakan upaya untuk menyediakan tulisan akademik dengan harga yang lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, komunitas pustakawan juga terlibat dalam advokasi hak cipta. Misalnya, menyebarluaskan informasi mengenai hak-hak penulis terutama dalam penandatangan kontrak dengan penerbit. Di Amerika Serikat, penerbit umumnya memasukkan pasal yang mengharuskan penulis untuk membayar mereka untuk melakukan distribusi karyanya di lingkungan pengajarannya. Komunitas pustakawan melakukan advokasi kepada penulis untuk meminta pasal ini dihapus sehingga distribusi karya yang diterbitkan kepada lingkungan ajarannya tidak dikenakan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas pustakawan juga mengadvokasikan posisi dan pandangan mereka terhadap UU Hak Cipta. Misalnya, hak untuk membuat duplikat tambahan untuk perpustakaan dari bahan-bahan yang diperuntukan untuk kepentingan penyimpanan. UU Hak Cipta Amerika Serikat membolehkan untuk membuat micro film dari koran-koran lokal atau bahan-bahan yang sudah jarang ditemukan dibolehkan untuk kepentingan penyimpanan. Namun demikian, komunitas pustakawan di Amerika Serikat berpandangan, perpustakaan memiliki hak untuk membuat duplikasi tambahan dari &lt;em&gt;micro film &lt;/em&gt;yang sudah dibuat untuk kepentingan penyimpanan itu. Komunitas pustakawan di Amerika Serikat juga menentang privatisasi informasi yang diatur dalam WTO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas pustakawan ini memiliki organisasi yang efisien. Biaya keanggotaan digunakan untuk membiayai staff dalam skala kecil di Washington DC. Visinya adalah untuk melindungi kepentingan perpustakawan. Fokus pekerjaan mereka adalah isu-isu yang berdampak pada perpustakaan, hak cipta. Selain melakukan kegiatan di atas, mereka juga seringkali melakukan presentasi di hadapan kongres agar mengetahui isu-isu yang dihadapi oleh para pustakawan. Mereka juga aktif bila ada kebijakan nasional yang melanggar hak untuk memperoleh informasi demi alasan keamanan nasional. Sebuah kisah yang seharusnya menginspirasi profesi pustakawan di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-990204886511011188?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/990204886511011188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=990204886511011188' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/990204886511011188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/990204886511011188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/01/membangun-profesi-pustakawan-yang.html' title='Membangun Profesi Pustakawan yang Profesional: Pelajaran dari Amerika'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SXc0McCPL7I/AAAAAAAAADs/XSWFXQU-_6Y/s72-c/P1010018.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-6440970447967140561</id><published>2009-01-04T21:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-05T00:15:18.227-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita muncrut'/><title type='text'>Lost in Translation in France: Paris dan Pantat Babi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SWGxTk2tOVI/AAAAAAAAADc/VnT8JvI1lgI/s1600-h/zodiac-pig-pic.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287702387378436434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 250px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SWGxTk2tOVI/AAAAAAAAADc/VnT8JvI1lgI/s320/zodiac-pig-pic.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kisah ini terjadi sekitar bulan akhir Oktober- awal November 2005, segera setelah ujian Term IA, kalau tidak salah.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Harap maklum kalau banyak bunga-bunga kalimat yang meloncat sana-sini tidak karuan. Tanda bahwa si monster berkepala banyak belum berhasil ditaklukkan :-) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Eropa merupakan benua yang sangat menarik. Sebuah benua yang membentangkan pelbagai negara yang letaknya berdekatan dan relatif terjangkau, baik dari urusan transportasi maupun ijin masuk. Bila memegang visa &lt;em&gt;schengen&lt;/em&gt;, lebih memudahkan untuk menjelajahi beberapa negara yang dapat ditempuh hanya dengan kereta api dan tanpa perlu mengurus visa seperti Paris, Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Perancis jadi tujuan pertama jalan-jalan di Eropa? Karena negara ini konon kotanya penuh dengan bangunan yang tidak saja megah namun juga eksotik dan romantis. Negara yang ibukotanya merupakan pusat kuliner, pusat fashion dan pusat belanja. Negara dimana bahasanya menjadi salah satu bahasa resmi PBB. Negara yang konon katanya bahasanya paling romantis di dunia. Tidak heran bila negara ini adalah tujuan pertama jalan-jalan kami segera setelah selesai ujian pada termin I di bulan November 2006 (benar-benar segera dalam pengertian, ujian selesai jam 13.00 dan kami berangkat pukul 14.00 tepat!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm, sebenarnya saya juga kurang paham dengan pemahaman umum yang diperoleh tentang Perancis dan romantis. Atau mungkin, saya adalah salah seorang yang berhasil lari dari konstruksi sosial yang menyatakan bahwa "Perancis" dan "teromantis di dunia" selalu berjalin kelindan. Segala sesuatu tentang perancis pasti romantis. Entah apa yang digunakan sebagai parameter romantis, mungkin karena pengucapan bahasanya yang rumit. Untuk melafalkan huruf "u" Perancis saja, mulut kita harus dimonyongkan membentuk "o" sementara secara bersamaa lidah kita membentuk huruf "u". Itu hanya untuk huruf u! Dan mereka tidak mengucapkan huruf "h", jadi nama saya dibaca "erni". Apa bedanya dengan erni, kalau gitu? Ah, sudahlah. Yang rumit-rumit kan sepertinya keliatan punya nilai teristimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepala saya, bahasa perancis adalah suara vokalis perempuan yang sering disetel Kay, dengan suaranya yang tidak serak namun mendesah sepanjang lagu (ya, sepanjang lagu!), "Je ta'ime.... je ta'ime.... je tai'meeeeeee...". Itu saja isi liriknya. Atau, cerpen bahan lomba cerita dalam bahasa perancis yang dulu saya ikuti waktu SMA "Rund rund moi ma jambe". Ini adalah kisah tentang hantu paha sapi yg tergantung-gantung (bingung kan? saya juga!). Atau kalau mau ilmiah dikit, teringat akan tulisan seorang profesor bahasa dari Belanda yang dalam bukunya tentang evolusi bahasa di dunia mengatakan bahasa perancis adalah mirip (atau bahkan tidak lebih bagus) dengan bahasa katak. Atau setidaknya, bukan jenis bahasa yang sepantasnya didudukan pada tahta bahasa yang membuat para linguist terpesona. Jadi, Perancis = romantis? Ah, rumus yang salah! :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita, dari sekian banyak tujuan wisata di Perancis, kami memfokuskan pada dua kota saja, Marseilles dan Paris, tentu saja. Marseilles adalah kota di belahan selatan Perancis yang dekat laut. Mereka adalah contoh dari penarikan "sample" yang tepat dari indikator keterwakilan wilayah, sekedar untuk memberikan aroma yang berbeda. Meskipun demikian, konsistensi kedua kota ini dalam menyuguhkan kemegahan yang eksotik tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis level turis. Level pertama yang paling standar dan paling sering dilakukan adalah turis hit and run. Datang hanya beberapa hari sekedar untuk mengunjungi landmarks, mencicipi masakan lokal di restoran setempat, foto-foto, beli suvenir, upload di jaringan sosial di dunia maya and they’re done. Turis level kedua adalah turis penikmat dan pencinta kebudayaan. Mungkin mereka datang sama lamanya dari turis level satu, namun mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah kenalan “orang lokal” yang sering berfungsi sebagai personal guide, mencicipi masakan rumah setempat, menghabiskan waktu dengan mengobrol hingga larut malam, singkatnya merasakan budaya lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk alasan yang murni keterbatasan sumber daya :-), kami jenis turis level pertama. Tepatnya, turis level pertama yang &lt;em&gt;kere&lt;/em&gt;. Pergi dengan tiket yang paling murah dan menginap di penginapan murah karena hanya difungsikan untuk menyimpan barang. Membawa &lt;em&gt;rice cooker &lt;/em&gt;kecil, beras, piring, sendok-garpu, dan gelas. Dan ini yang paling parah, membawa lauk-pauk untuk dimakan selama perjalanan karena benar-benar menghemat biaya. Biasanya, ini tugas rutin berdua dengan endah. Lauk yang selalu menjadi andalan adalah ayam goreng, daging gepuk, kerling tempe, teri dan kacang (karena bikinnya pake kedipan mata hehe), serta sambal jahanam khas kami berdua. Makin pedas, makin irit karena makannya lebih sedikit hehe. Sementara untuk urusan akomodasi, Adrian dan Partono. Jadi, kami berempat, saya, endah, adrian dan partono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berjalan-jalan seharian setiap hari. Dalam perjalanan inilah, kali pertama saya terpaksa memakai body lotion. Kulit saya yang biasanya baik-baik saja dengan iklim kering Eropa, terpaksa menyerah kalah. Sekujur paha saya merah-merah dan rasanya sedikit perih. Berkat body lotion Endah :-), saya pun nyaman berjalan-jalan ke menara eiffel, chateau de versailles, moulin rouge, sacre de coure, museum louvre, disneyland, dll (I hope these are the correct spelling for those place). Entah karena sudah memasuki musim dingin atau memang kami kelaparan karena berjalan jauh, persediaan bahan makananpun menipis. Pikir punya pikir, kami harus membeli makanan. Lebih memikirkan lagi sebagai muslim (hanya Adrian yang Kristen tapi karena kita berdemokrasi, jadi minoritas harus nurut ke mayoritas hehehe), ayam panggang merupakan pilihan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang dari sacre de coure, kami melihat ayam panggang menggiurkan dijajakan di depan toko daging di pinggir jalan. Ayam-ayam itu baru saja digiling. Saya hitung, tinggal 3 buah ukuran satu ayam. Warnanya coklat gelap habis dipanggang. Karena turis kere, kami mau tau dulu berapa harganya. Tapi ah, ya! Kami kesulitan berkomunikasi. Satu hal yang saya tidak suka lagi tentang Perancis, arogansi masyarakatnya terhadap dirinya sendiri. Narsis. (Padahal katanya, narsis adalah salah satu sifat dari psikopat, hihihi...). Mereka hampir mirip dengan orang Jerman atau Jepang, yang hanya mengakui bahasanya sendiri. Sampai ada joke, kalau di Perancis sebaiknya berbahasa jawa, jangan bahasa Inggris, atau bahasanya negara maju. Dijamin, tidak akan dijawab. Tetapi, yang kami hadapi adalah para imigran. Jadi, mereka punya dua bahasa, bahasa Perancis dan bahasa asalnya, bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko daging itu cukup kecil. Memanjang 6 meter ke belakang dengan lebar 3m. Pintu masuk ada di sisi kanan. Di sebelah kiri, ada etalase kaca memanjang yang memajang berbagai macam daging. Namun, yang menarik perhatian saya adalah daging --well, benda tepatnya--- mirip pantat babi, saya yakin lengkap dengan ekor kecilnya yang berwarna pink! Saya sampai terpana beberapa saat. Bukan karena saya hobi mengoleksi boneka babi dalam segala bentuk dan materi. Bukan juga karena ternyata si pedagang daging yang kami anggap saudara seiman ini menjual babi, tapi si pantat babi itu begitu nyata-nya sehingga bila ada babi dipotong dua, bagian pantatnya dipajang, nah itulah dia! Apakah itu pajangan? Karena tidak mungkin si babi dijual masih dalam bentuk utuhnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah dan partono pun berdebat. Tadinya saya dan adrian ikut campur, namun akhirnya saya cape dan duduk agak jauh dari toko. Buat saya, entah itu pajangan atau pantat babi beneran, saya tidak perduli. Toh, ayam panggangnya terletak di depan. Di box yang terpisah pula. Saya sebenarnya juga tidak terlalu peduli apakah ayamnya disembelih dengan baca bismillah atau dengan kejamnya disetrum listrik oleh orang kresten, budha, hindu atau atheis sekalipun. Ini keadaan darurat, bung. And please forgive me, God. I know that You are the most merciful, the most understanding, terutama untuk hamba-Mu yang sedang kelaparan ini :-) Sementara adrian, dia kristen. Kalimat singkat ini sudah menjawab pertanyaan, bukan? Namun demi kata toleransi, meski jumlah kami seimbang kali ini, kami biarkan mereka berdiskusi sendiri. Memutuskan apakah ayam itu layak dimakan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endah dan Partono masih berdebat dengan saudara seiman kami, untuk memastikan kehalalan para ayam. Mereka berdebat lama soal itu. Laki-laki tua bermuka Arab itu hanya bisa berbahasa Perancis atau Arab. Sementara endah dan partono, berbahasa Indonesia, Inggris dan mungkin Jawa, sedikit. Kemudian mereka terlibat dalam pembicaraan yang lebih sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan adrian pun ikut nimbrung. Karena tampaknya urusan perut lebih penting ketimbang si pantat babi, kami pun mencoba berbicara dengan bahasa Inggris kami yang pas-pasan, "We want to buy these chicken, sir. How much is it? Lalu dia mengucapkan, "bldkdywls;erthtosketh;s.ndt;thwe" yang terdengar seperti bahasa Arab (maafkan keyboard latin saya :P) dan tidak kami mengerti, meskipun kami Islam dan meskipun kami membaca Qur'an dalam bahasa Arab (salah satu yang karim tidak habis pikir, bagaimana bisa kami membaca dan meyakini tanpa memahami dan hanya mengandalkan terjemahan?). Tapi mukanya masih keliatan bingung. Mulut-mulut kami memang terlalu cerewet. Lantas dia masuk ke dalam, memanggil saudara seiman kami yang lain. Kami pun lagi-lagi serempak bertanya dan berdiskusi di antara kami, apakah mau membeli 1, 2 atau ketiganya. Saudara-saudara seiman kami tampak bingung dihadapkan pada keempat saudara jauh yang bawel dengan bahasa yang tidak jelas. Ikatan saudara itu terjalin hanya karena jilbabku dan endah. Simbol Islam yang diterima dimana-mana. Kali ini, jilbab kami benar-benar bermanfaat, tidak lagi jadi penanda caci-maki orang Eropa yang super bodoh tidak memahami dunia Islam yang spektrumnya sangat luas, dimana muslim Indonesia jauh sangat moderat dibanding muslimnya Arab!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keributan itu, dia akhirnya mengerti.. Lantas dia mengacungkan tangannya, 5 jari! Oh, rupanya sudah sampai pada pemahaman bahwa harga satu ayam itu 5 euro. Wah, cukup murah! Satu ayam itu bisa untuk 2-3 kali makan. Cukup untuk menahan perut kami selama 2 hari. Kami berdebat lagi soal berapa jumlah ayam yang harus dibeli. Dasar turis kere, berdebat untuk skala 5-15 euro saja, hahaha! Angka 2 seolah-olah keputusan yang baik, ditengah-tengah, jadi kami pun mengacungkan dua jari. Tapi dua orang itu diam saja, tidak ada tanda-tanda akan membungkus si ayam. Kami pun ribut lagi, berusaha menjelaskan maksud kami dari bahasa yang kami bisa, bahasa Inggris dengan logat Indonesia :-) Laki-laki penjual ayam itu kelimpungan menghadapi kami berempat yang bersuara secara bersamaan. Belum lagi, dalam bahasa yang mereka tidak mengerti betul. Yang tertua mengambil si ayam, dua buah. Kemudian, "bldkdywls;erthtosketh;s.ndt;thwe.. shabar.." Aha! shabar! Saya tau kata itu. "Eh.. eh.. dia bilang shabar.. kita musti tunggu, kali.. disuruh sabar.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saudara kami yang tidak kami kenal namanya itu membungkus dua ayam yang tadi dia ambil dan memberikan pada kami. Uang 10 euro pun kami berikan. Tapi mereka menolak. Lho? Kami pun lagi-lagi kompak bersuara memaksa mereka menerima. Namun mereka lagi-lagi memaksa kami untuk menerima dua ayam yang dibungkus itu dengan bahasa "bldkdywls;erthtosketh;s.ndt;thwe.." yang tidak kami mengerti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ayam itu diberikan ke kami secara gratis. Dan rupanya pula, saudara-saudara kami itu tadi berdiskusi mengenai pemberian ayam ini, buat kami. Ah, baiknya! Kami sudah lupa sama si pantat babi. Dan, kami sudah lupa pada bahasa percakapan standar Perancis atau Inggris. Yang terpikirkan oleh saya saat itu adalah penutup-penutup di kop surat atau yang seringkali dikemukakan oleh teman-teman saya yang aktivis Mushola. Saya tidak teringat "merci beaucoup". Saya juga tidak teringat "thank you". Yang saya ingat dan langsung katakan adalah, "Jazakillah khayran katsiran!". Bahasa yang buat teman saya yang aktivis musholla mungkin lebih romantis dari bahasa Perancis. Bahasa yang untuk bapak-bapak saudara semuslim kami adalah bahasa yang mereka pahami. Karim terbahak-bahak ketika saya bercerita tentang itu. Dia bilang, bahasa yang saya gunakan adalah bahasa yang tua. Kuno. Bahasanya kakek-kakek. Saya cuma tersenyum, mengingat saudara semuslim kami yang berbaik hati memberikan ayam pada musafir seiman (bukan turis :P), memang sudah beranjak kakek-kakek. Berarti, pas! Masalah aktivis mushola di Indonesia yang dengan bahasa romantisnya ternyata kuno dan gak gaul untuk ukuran masyarakat Arab jaman sekarang, saya tidak peduli!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-6440970447967140561?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/6440970447967140561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=6440970447967140561' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6440970447967140561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6440970447967140561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/01/lost-in-translation-in-france-paris-dan.html' title='Lost in Translation in France: Paris dan Pantat Babi'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SWGxTk2tOVI/AAAAAAAAADc/VnT8JvI1lgI/s72-c/zodiac-pig-pic.gif' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1687740515374633591</id><published>2009-01-02T19:51:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T18:30:09.429-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>Soal Israel dan Jihad (lagi)</title><content type='html'>Menutup akhir tahun, lagi-lagi kita dihadiahkan berita tentang penyerangan Israel (yang didukung Amerika, tentu saja) ke jalur Gaza, Palestina. Seperti biasa, hal ini memicu pelbagai perdebatan dan tindakan yang sudah "ketebak". Jum'at kemarin (2/1/2009), ribuan orang berdemonstrasi dari bundaran HI ke kedutaan Amerika Serikat yang dimotori oleh PKS, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatan lainnya pun meruak, seolah membenarkan bahwa bahkan orang sekelas Obama pun yang dengan lantangnya berbicara tentang "Change. Yes, we can" dan mendapat simpati banyak orang di dunia mungkin benar akan melakukan perubahan di Amerika Serikat seperti yang dijanjikannya, kecuali satu: kebijakan Amerika Serikat dalam konflik Palestina dan Israel. Bukannya saya tidak mendukung Obama, tetapi saya hanya ragu seorang Obama bisa melakukan perubahan sedrastis itu di jaringan pemerintahan Amerika Serikat. Kalaupun dia berani melakukan perubahan itu, saya jadi bertanya juga, akankah nasib dia akan sama seperti Presiden kulit hitam di film 24? Buat saya, Amerika Serikat, baik demokrat maupun republik punya kata yang sama dalam hal yang satu itu. Cuma bedanya, republik memakai kekuatan senjata, sementara demokrat memakai kekuatan ekonomi. Caranya saja yang beda, tapi at some point, kebijakannya masih sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perdebatan "klasik" yang muncul adalah soal semangat ribuan jihaders muslim Indonesia yang bertekad untuk pergi ke Palestina, meski hanya dengan modal dengkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, gama posting satu artikel di facebook mengenai apakah tidak biadab bila berteriak bahwa Israel tidak biadab? ---Saya sebel sama penulisan model gini, bikin bingung hehehe. Berikut artikelnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Dia bilang, "Israel tidak biadab."&lt;br /&gt;Dia bilang, "Ini perang, dan wajar Israel (dan Amerika Serikat) menyerang habis2an."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak banyak fakta yg bisa saya utarakan utk mendukung argumen saya menentang pendapatnya.Kita sedang melihat serangan membabi-buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tdk melihat balasan serangan yg proporsional.Kita membicarakan korban&lt;br /&gt;tewas dan luka dari umat manusia.&lt;br /&gt;Kita tdk bicara ttg korban tewas dan luka dari umat Islam saja, Yahudi saja, atau Kristen saja.&lt;br /&gt;Kita prihatin, tanah Palestina terus diganggu oleh kelompok yg tdk berhak&lt;br /&gt;atasnya.&lt;br /&gt;Kita sedih, anak2 Palestina itu kehilangan masa depannya setelah mortir menerjang nyawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah diam.&lt;br /&gt;Dia bilang lagi, "Hamas juga akan berbuat hal sama (seperti tindakan Israel) jika punya kekuatan hebat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak banyak fakta yg bisa saya utarakan utk mendukung argumen saya menentang pendapatnya. Tapi, lihat di layar kaca. Israel digdaya, binasakan Palestina, mengsarakan umat manusia. Dan bukan hanya saat ini, tapi sejak lebih enam puluh tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terus berkata.&lt;br /&gt;Saya tetap diam.&lt;br /&gt;Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama.&lt;br /&gt;Sementara dia pengacara.&lt;br /&gt;Maka, saya memilih diam.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Buat saya, yang menarik kalimat "sementara dia pengacara" yang seolah mengamini stereotype bahwa pengacara itu makhluk bawel yang belum tentu argumennya bermutu hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, persoalan konflik Israel-Palestina dan keterlibatan Amerika Serikat didalamnya dengan persoalan FPI pergi jihad ke Palestina adalah dua persoalan yang berbeda, bila memiliki cara pandang tertentu, tentu saja :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang pertama, lebih menyangkut kemanusiaan dan penghargaaan terhadap hukum internasional utamanya perlindungan terhadap hak-hak masyarakat sipil (baca: perempuan dan anak) dalam perang termasuk proses negosiasi perdamaian diantara keduanya. Dalam konteks ini, kita tidak butuh identitas agama tertentu untuk berposisi dan berpihak, karena keberpihakan kita sudah jelas, pada rasa kemanusiaan. Bukankah ini adalah inti dari ajaran agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel di atas sekedar melemparkan pertanyaan menggelitik berandai-andai, bila posisinya dibalik, Palestinalah si singa yang berkekuatan besar menyerang Israel, akankah kita masih seribut dan semarah sekarang? Bila kita punya perspektif yang saya kemukakan tadi, kita akan sama marahnya terhadap tindakan yang menyerang membabi-buta dan menyebabkan perempuan dan anak-anak menjadi korban perang. Saya belum pernah bertemu Rasulullah, tapi saya yakin Rasulullah pun membenci muslim yang seperti itu. Cuma mungkin, menjadi batu ujian yang lebih berat. Karena kalau kata J.K. Rowling, &lt;em&gt;to stand against your friends is much harder than to stand against your enemies&lt;/em&gt;. Meningatkan dan bertindak adil terhadap teman jauh lebih berat daripada melawan musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara persoalan yang kedua, adalah persoalan bagaimana umat manusia memahami dan memaknai jihad itu sendiri. Siapakah yang perlu kita bela? Allah? Muslim? Allah yang seperti apa? Muslim yang mana? Dan, bagaimana kita mengatasi masalah itu, apakah juga dengan kekerasan? Ironis rasanya, bila kita pergi jauh-jauh membela "saudara" di pelupuk mata sana tanpa mempedulikan sedikitpun "saudara" kita yang hanya sejengkal jaraknya dari rumah kita? Bukankah masalah ketidakadilan, kemanusiaan dll di bumi pertiwi yang konon katanya muslim masih menjadi mayoritas ini masih banyak? Belum lagi, cara menyelesaikan masalah itu tidak jarang dengan bahasa kekerasan dan laku tangan besi? Mengkriminalisasi, menghancurkan, mengeluarkan fatwa-fatwa yang absurd?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir yang praktis, mungkin tidak terlalu peduli dengan para jihaders dari FPI yang tidak sabar untuk mati syahid di Palestina. Mungkin ini win-win solution. Mereka mendapatkan jihad dan peluang menjadi syahid, sementara kita disini merasakan ketenangan sejenak dari ulah mereka selama ini yang menganggap dirinya tentara Allah. Sementara soal konflik Israel - Palestina? Ah, siapa yang mampu memberi jawaban terhadap pertanyaan satu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps. Kemarin tidak sengaja nemu satu ayat, yang menurut saya menunjukkan keironisan kaum berkitab, " Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. &lt;strong&gt;Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang diberi (kitab),&lt;/strong&gt; setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, &lt;strong&gt;karena kedengkian di antara mereka sendiri. &lt;/strong&gt;Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus" (Al-Baqarah: 213). Sebenarnya dari ayat ini muncul banyak pertanyaan. Sayangnya, saya belum menemukan buku asbabun nuzul yang menurut saya cukup baik. Mungkin karena kurang pengetahuan who's who dalam bidang ini juga sih hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1687740515374633591?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1687740515374633591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1687740515374633591' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1687740515374633591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1687740515374633591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/01/soal-israel-dan-jihad-lagi.html' title='Soal Israel dan Jihad (lagi)'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-6915914114999248311</id><published>2009-01-01T21:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T22:38:55.057-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>1 Januari 2009</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SV2yrEf07bI/AAAAAAAAADM/AmmKdh7BOhQ/s1600-h/20050713_08_BirthdayCake.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286577990614183346" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SV2yrEf07bI/AAAAAAAAADM/AmmKdh7BOhQ/s320/20050713_08_BirthdayCake.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;1 Januari selalu kami rayakan. Bukan karena pergantian tahun masehi. Bukan karena mengikut arus sekitar yang merayakannya. Bukan karena kami senang meniup trompet. Karena 1 januari adalah ulang tahun mama. Tahun ini, mama berganti umur menjadi 73 tahun. Tua, ya? Orang tua yang pecicilan tidak bisa diam, masih kepingin ini itu sehingga diam-diam memakan coklat dua keping, es krim semangkok dan bakso dari abang-abang yang lewat hingga gulanya naik mencapai 530! Untung anaknya sudah kebal dan tidak hobi kagetan, so I guess I was cool in handling her.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;For her kids, she's always been the uniquest person we ever known. Even for aki dan nini, also her sisters and brothers. For years, I've been trying to understand her. All her decisions, all her actions and those dramas, gosh, especially those dramas. And, I still can't understand her. I was at the point where I just accept her as she is. A unique person. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;There are times that I feel I hate her so much (yes, i know.. karim told me --the non-english speaking person-- that "hate" is a strong word), but I can't hate her. I simply can't. It's not just because she is my mother so i owe her my life no matter what (kata ustadz sih gitu). But if I looked at her, especially during her sleep, I'm having a feeling... like a mommy watching her naughty girl sleeping. The way she sleeps, the way she hugs that guling, how her face looks innocent after what she is done which drive us all crazy. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;I know that what happened between us is totally screw the general idea of mother-daughter relationship. I'm supposed to be the girl who always do the naughty things and drive my mom crazy. But with her, it's like the opposite. But still, I can't hate her.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Two reasons why I love her. I owe her my life when she was giving me birth (Yes, I listened to what those ustadz told us, I didn't fall asleep during their preaching :D). I was such a big baby. And she was getting old, too old to have a baby. She said it was an accident, forgot to take those birth-control pills and she was injected 16 times by the doctor during labour. The second reason is, she's my dad's wife. The light of his life. The person that i treasure the most in this life (halah...gombalnya keluar). I knew him for like, 6 years and 1 month (because he passed away exactly a month after my 6th birthday) but I'm taking him with me always. They said that a person is not really died. There's always a piece of him/her that is still with us. And he's one of that person to me. And through his unconditional love to her, is the way that I could understand her.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apart from her hobby to make drama out of everything, she's a cool mom. The one who doesn't make too many rules. The one that told us to have fun in life. The one who initiatevely without being asked by her kids, gave us permission to date at the age of 12 (And ironically, I didn't date until I was 26 haha..). The one who basically, trusts her kids. The one who let us grow and be the person we want to be. The one who may not understand our world but since we're happy with ourselves and what we do, she simply loves and proud of us. And I could not imagine if she has a different character, the old, conventional and ordinary parents. Of course, among our cousins, we're a little bit weird for them. But I think, we're just turn out ok. I think, I've grown to be a decent woman. And she is part of it. So am glad that she could live this long. And I don't mind postponing my study plan, just for her. Happy birthday, mom!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-6915914114999248311?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/6915914114999248311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=6915914114999248311' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6915914114999248311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6915914114999248311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2009/01/1-januari-2009.html' title='1 Januari 2009'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SV2yrEf07bI/AAAAAAAAADM/AmmKdh7BOhQ/s72-c/20050713_08_BirthdayCake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-6104993647243670461</id><published>2008-12-31T02:32:00.000-08:00</published><updated>2009-04-20T18:18:18.037-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Personal Kaleidoskop 2008</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtUcFj698I/AAAAAAAAADE/Nap6Z6-Y5jg/s1600-h/bankruptcy+image2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285911429155321794" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 228px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtUcFj698I/AAAAAAAAADE/Nap6Z6-Y5jg/s320/bankruptcy+image2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini tanggal 31 Desember 2008. Sebagai bagian dari latihan mengaktifkan sel-sel kelabu memoriku yang pelupa ini, baiklah kita mengingat-ingat apa saja yang terjadi selama setahun belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerjaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, masih dipercaya menjadi Direktur Dokumentasi dan Informasi. Cuma, tahun ini Wiwid, pemred Jurnal Jentera, resign dan kami belum mendapatkan penggantinya. Ada beberapa perkembangan menarik. Pertama, tahun ini akhirnya berhasil memperoleh dana penerbitan sendiri, hasil dari kerja farli dan saya mengkompilasi peraturan perundang-undangan dan membantu rangkaian training panitera di padang, makassar dan jakarta. Kedua, kami membantu DPR menjadi bagian dari sebuah jaringan hukum yang katanya cukup prestisius, meskipun ada konflik di sana-sini (cuma, sikap kami tegas.. kami gak mau ikut2an urusan "politik", lempeng wae di urusan teknis). Ketiga, alhamdulillah dapet dana dari TAF untuk membeli buku perpustakaan. Sholikin dapet laptop (pinjeman) baru dari kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini juga adalah tahun "ban serep". Pertama, menggantikan ery sang dirop (direktur operasional -red) yang cuti sakit akibat back pain. Kedua, menggantikan erni sang dirprog (direktur program -red) yang cuti menikah dan menyelesaikan thesis. Saking seringnya menjadi ban serep, ery sampe becanda, mungkin perlu pasang iklan: "Anda butuh pengganti direktur sementara? Hubungi Herni, 0817 sekian sekian" :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk eksplorasi pekerjaan, tahun ini program MJD yang diplesetkan menjadi Mudah-mudahan Jadi Dong :-) keliatannya sudah menghasilkan. Tepatnya, satu buku yang cukup tebal dijadikan bantal. Training panitera menghasilkan teman-teman baru di padang, makassar dan jakarta, belinda, yunita, ida, icha, sheila, bobby, panji, dida, pak rudi, pak erwan, ibu putu dll. Beberapa ide penelitian yang dulu sempat digagas alhamdulillah mulai terlaksana. Yang paling baru, penelitian kinerja DPRD di 9 wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini juga penuh keanehan di beberapa program, soal interpretasi, faktor politik yang kental untuk kerjaan yang sebenarnya sangat teknis dan pekerjaan training assisstant yang harus disamarkan jadi translator. Ada juga yg mengecewakan. Kerjasama dengan CILC yang tadinya menyenangkan karena servaas, my dutch brother, yang memegang program itu akan datang ke Indonesia, eh servaasnya pindah ke Jerman. A part of me is sad, but a part of me is so happy to hear that he moves on with his life. He loves his wife so much that when she passed away, it seems impossible for him to live again. The only way I could think of is that to move to other place. So, it's good that he finally decided to start his life at a new place. So yes, am happy for him.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, kerjaan di dua koalisi yang sedang hangat-hangatnya di tahun ini. Pertama, UU Pornografi yang penuh kontroversial, termasuk di dalam PSHK. Kedua, RUU Pelayanan Publik yang sampai sekarang belum disahkan DPR. Bikin lobby paper, talkshow, seminar, konferensi pers, lobby, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, sakit diabetes mama makin parah. Obat gulanya termasuk obat yang paling keras, dosisnya pun dinaikkan dari 1mg menjadi 2 mg. Diminum 2x sehari, pagi dan sore. Belum lagi, ditambah dengan suntikan insulin di malam hari. Tipe insulin 24 jam, dosisnya berkisar antara 7-10ml, tergantung kadar gula di pagi hari. She once almost lost her sight, but after 4 times laser, obat ini obat itu, she finally could see. Text tv jadi patokannya hehe. And she can read qur'an again now, even still have to use the binocular. It's kind of cute, though.. watching her reading qur'an with kaca pembesar. But as always, I'm acting that her diabetis still can be managed. And always, always gives her reasons to live. That's how humans survive, right? Hope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One big thing happened this year. I took a major commitment. A house! Yes, baby.. i finally keep my promise to buy us a house. Well, mas ade paid for most of the downpayment. I owe him around 44 mil. I don't how I'm going to pay it, but I'll pay it soon or later. He said that it's our house, but I intend to make it my house. So, although he's my brother, am going to pay him. But now, I need the money to buy the house stuffs, from teralis to kitchen set, from the bed to the stove. You name it. It's like I were marry or something, hehe. But hopefully, it's a place that we can always call... home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another big thing is mbak Helly went to UK for her Ph.D. Finally, she get a quite full scholaarship. I wish I could follow her step... but not know. Have to be a good girl, taking care of her mother. And that's totally fine with me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Social Life&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;I took a guitar lesson at farabi. Took my first exam, actually. Hope I pass, am the oldest student there hahaha. Joined the fitness first, trying to be healthy and lose my weight. Went to US couple times, one for GLIN training, the other one is for NGS 18th. Become an US Embassy Agent, for the welcome back slank concert, hehe. Bagi-bagi tiket konser slank buat anak-anak Puri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Made new friends and some old friends came to visit me. Mr. Brown came to visit, with Anthony, a blogger from Australia. Eka came to visit. We met in Palangkaraya, during Kay's wedding. Some of them changed their status: Maria is finally engaged and will going to get married in February 2009. Erni is married to Ardi, Cholil to Irma (finally!), and my others friends (sorry, totally forgot! :P).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Well, that's a short kaleidoskop for my personal life.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-6104993647243670461?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/6104993647243670461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=6104993647243670461' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6104993647243670461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6104993647243670461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/personal-kaleidoskop-2008.html' title='Personal Kaleidoskop 2008'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtUcFj698I/AAAAAAAAADE/Nap6Z6-Y5jg/s72-c/bankruptcy+image2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1951674887448160298</id><published>2008-12-17T23:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:08:12.778-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><title type='text'>MP3 di Koalisi Transport Demand Management</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ini catatan sewaktu menghadiri diskusi FGD yang diadakan oleh ITDP. Kala itu, hadir sebagai perwakilan dari MP3 (Masyarakat Peduli Pelayanan Publik) -herni&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MP3 diundang untuk hadir dalam FGD yang diadakan oleh Institute for Transport and Development Policy (ITDP) pada Rabu, 3 Desember 2008 di Restoran Handayani, Matraman. Tujuan dari FGD ini adalah membicarakan kerangka kebijakan di bidang transportasi. FGD dibuka dengan presentasi mengenai tiga hal yaitu hasil penelitian tentang parkir di Jakarta, kebijakan road pricing sebagai salah satu alternatif menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta dan pengenalan konsep Transport Demand Management (TDM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Bagus dari FAKTA memaparkan hasil penelitian yang dilakukan Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) tentang revenue watch sektor perparkiran dalam memberi sumbangan bagi PAD APBD Propinsi DKI Jakarta. Persoalan parkir di Jakarta berawal dari paradigma dimana parkir ditempatkan sebagai sub sitstem public service dengan fokus manajemen untuk cari untung saja dan penerapan sistem jasa sewa lahan sehingga tidak ada tanggung jawab dari penyewa bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tataran implementasi, dibedakan antara parkir on street dan off street. Persoalan yang menyangkut biaya parkir on the street adalah biaya penarikan yang terlalu besar, disewakan pada para pedagang, sistem borongan/jual beli lahan, target petak parkir (misalnya Rp. 7 juta/hari di blok M), bayar dua kali (blok m dan senayan dll), mekanisme setor ke polisi, pembagian area resmi dan area fiktif, serta dikelola oleh petugas dan preman. Sementara persoalan yang menyangkut parkir off street adalah pihak pengelola swasta menganggap telah membayar double taxation sejak UU Pajak dan restribusi (1997) dan mengklaim bahwa biaya operasional tidak sesuai dengan pendapatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan juga ada di kelembagaan, BP Perparkiran yang diberi wewenang untuk mengelola parkir di DKI Jakarta. BP Perparkiran mengelola parkir on street saja, itupun tidak termasuk di wilayah ruang parkir yang bersinggungan dengan instansi lain seperti PD Pasar Jaya. Peraturan SK Gubernur No. 177/2000 yang menjadi dasar acuan dianggap sudah usang karena ada titik-titik parkir yang sudah hilang sehingga harus direvisi. Kondisi ini diperparah dengan masalah status kelembagaan yang tidak jelas, wewenang dan otoritas, persoalan kapasitas yang rendah dan tidak adanya lembaga pengawas. Persoalan lain yang tidak kalah penting, adalah tingkat kebocoran yang mencapai 112%. Sangat besar dibandingkan dengan potensi sesungguhnya yang belum tergali atau sudah tergali tapi bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi kedua dari Masyarakat Transparansi Indonesia mengenai road pricing, yaitu salah satu kebijakan transportasi dimana pengguna kendaraan dikenakan biaya apabila melewati jalan atau area tertentu. Kegunaannya cukup penting sebagai sumber pendapatan untuk perbakan sistem transportasi, mengurangi kemacetan dan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Road pricing berbeda dng toll pricing. Toll pricing adalah kutipan pada ruas2 jalan tertentu, jembatan, tunnel dengan tujuan utama untuk membiayai sebagian atau seluruh biaya modal, operasi dan perawatan dari infrastruktur tsb. Sementara road pricing adalah kutipan ruas-ruas jalan atau area ttt sbg bagian dari TDM dengan tujuan menggunakan biaya sebagai alat untuk mempengaruhi sebagian pemakai jalan untuk mengubah perilkaku perjalanan mereksa sehingga kinerja lalu lintas yang telah ditentukan dapat tercapai. Sehingga, road pricing bertujuan untuk mengubah perilaku, bukan sebagai pembiayaan atas pembuatan dan pemelihraan infrastruktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara lain, road pricing terbukti efektif menurunkan tidak saja traffic kendaraan namun juga perpindahan dari kendaraan pribadi ke transportasi atau angkutan publik dan juga lingkungan yang lebih bersih serta penghematan energi. Namun demikian, perlu ada faktor pendukung lain seperti adanya dukung kebijakan di sektor lain, political will, peran serta masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi terakhir dari ITDP mengenai TDM, yaitu segala macam strategi untuk mengefisiensikan pererakan manusia dan barang serta pemanfaatan sdtransportasi, ruang, bahan bakar, waktu perjalanan dll. TDM mempersoalkan demand dan supply. Komponennya terdiri dari faktor-faktor pull measure yaitu faktor yang menarik orang dari kendaraan pribadinya dan faktor-faktor push measures yaitu yang menekan penggunaan kendaraan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, forum ini membicarakan isu-isu penting yang perlu diperhatikan dalam membentuk koalisi TDM, yaitu pentingnya mengumpulkan contoh yang sudah ada, keterlibatan NGO dan masyarakat, kelemahan pemerintah dalam PR dan komunikasi kebijakan, proses eksplorasi hingga implementasi dengan seluruh stakeholder, studi cost benefit masyarakat, daftar prioritas upaya TDM, sosialisasi dan governance, serta perlu adanya juru bicara atau champion untuk membawa isu-isu transportasi publik di media massa. Tujuan koalisi ini memperhatikan aspek-aspek hukum, ekonomi, lingkungan dan sosial demi pelayanan publik di bidang transportasi yang baik di DKI Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1951674887448160298?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1951674887448160298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1951674887448160298' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1951674887448160298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1951674887448160298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/mp3-di-koalisi-transport-demand.html' title='MP3 di Koalisi Transport Demand Management'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8229641988788093700</id><published>2008-12-17T23:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:03:18.263-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>UU Pornografi tidak Menjamin Hak Perlakuan Khusus untuk Perempuan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ini catatan ketika memoderasi diskusi yang dilakukan dalam rangka seri diskusi mengkaji UU Pornografi  -herni &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pshk.or.id/site/details.viewer.php?catid=7b8302aeaec8a3ce743058fabd0deefc&amp;amp;cgyid=58ff1b71f40474859fda135ce3a4d433"&gt;http://www.pshk.or.id/site/details.viewer.php?catid=7b8302aeaec8a3ce743058fabd0deefc&amp;amp;cgyid=58ff1b71f40474859fda135ce3a4d433&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Undang-Undang Pornografi untuk melindungi perempuan dan anak-anak perlu dipertanyakan. UU Pornografi tidak saja berpotensi mengkriminalkan perempuan korban trafficking, namun juga tidak melindungi hak untuk memperoleh perlakuan khusus yang dijamin oleh konstitusi. Hal ini muncul pada diskusi “Kritisi UU Pornografi dari Aspek Hukum Pidana” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum  &amp;amp; Kebijakan Indonesia (PSHK) bekerjasama dengan Kalyanamitra di Perpustakaan Hukum Daniel S. Lev Selasa (2/12/2008) kemarin. Diskusi ini merupakan bagian dari seri diskusi kajian terhadap UU Pornografi dari pelbagai aspek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hak Memperoleh Perlakuan Khusus&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Narasumber dari LBH APIK, Sri Nurherwati, menggugat Pasal 23 UU Pornografi yang menyatakan bahwa proses beracara UU Pornografi mengacu pada KUHAP, utamanya mengenai penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang Pengadilan, kecuali diatur secara khusus oleh UU Pornografi. Hal ini tidak sejalan dengan hak mendapat perlakuan khusus yang dijamin Pasal 28 H ayat (2) konstitusi yang berbunyi, “Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan”. Padahal, pelaksanaan hak ini sudah dilakukan pada UU KDRT dan UU Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) dengan menyediakan prosedur atau hukum acara khusus untuk perempuan korban KDRT dan trafficking. Hal ini merupakan pelanggaran hak konstitusi yang serius, mengingat target terbesar traffiking adalah industri pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak memberikan prosedur khusus untuk perempuan korban trafficking  yang dijamin oleh konstitusi, UU Pornografi juga berpotensi mengkriminalkan korban trafficking. Pasal 8 UU Pornografi menyatakan “Setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi”. Meski tidak secara eksplisit menyebutkan perempuan dan ada unsur “sengaja” atau “persetujuan dirinya”, UU Pornografi tidak melihat relasi dan struktur sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi korban pada industri pornografi dan sebaliknya, mengambil pendekatan yang represif dengan mengkriminalkan korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narasumber lain dari Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP), Arsil, mengangkat persoalan kerumitan pengaturan tindak pidana dalam UU Pornografi. Pasal yang mengatur ketentuan pidana harus dibaca berbarengan dengan Pasal 1 dan Pasal 4 ayat (1) berikut penjelasannya. Bandingkan dengan model yang dipakai oleh KUHP dalam merumuskan pasal yang lebih sederhana. Selain itu, substansi yang diatur dalam UU Pornografi telah diatur dalam KUHP. Salah satu peserta, Ali dari kantor hukum Adnan Buyung Nasution, menambahkan hal baru yang ditambahkan di UU ini adalah alat bukti digital. Keanehan prosedur hukum acara di UU Pornografi juga terlihat di Pasal 43 yang mengatur gugatan perwakilan (class action) yang merupakan mekanisme perdata dan bukan pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelanggaran terhadap Asas Hukum dan Pasal Konstitusi Lainnya&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Patra dari YLBHI juga mengemukakan beberapa pelanggaran lain yang dilakukan oleh UU Pornografi ini. Pertama, UU Pornografi melanggar asas kepastian hukum. Definisi pornografi sangat tergantung pada konteks waktu dan norma kesusilaan masyarakat. Definisi pornografi yang berlaku di negara lain pun tidak detail sehingga tidak ada perumusan definisi pornografi yang ideal yang dapat digunakan sebagai pedoman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, parameter untuk mengkategorikan apakah suatu tindakan merupakan tindakan pidana atau bukan adalah niat jahat, tindakan jahat, kerugian, kapasitas pidana dan tanggung jawab pidana yang memerlukan parameter untuk membuktikannya. Dolus, atau kesengajaan, mensyaratkan adanya unsur pengetahuan bahwa perbuatan tersebut adalah ilegal (wetten) dan unsur perbuatan itu dikehendaki oleh si pelaku (willen). Unsur-unsur ini sulit diaplikasikan dalam UU Pornografi sehingga berpotensi melanggar asas kepastian hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dari persepektif HAM, UU Pornografi juga melanggar Pasal 28I ayat (2) yang menjamin bahwa setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Suatu UU dikatakan diskriminatif bila melakukan pembatasan yang merujuk pada orang atau sekumpulan orang.  Penjelasan Pasal 4 ayat (1) a menyebutkan materi pornografi yang memperlihatkan persenggamaan lesbian dan homoseksual termasuk persenggamaan yang dianggap menyimpang dan dilarang oleh UU Pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cukup Kuat untuk Uji UU ke MK?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Namun demikian, cukup kuatkah untuk menjadi bahan argumentasi mengajukan uji undang-undang ke MK? Menyusun dan mengemas argumentasi menjadi sebuah permohonan uji undang adalah persoalan tersendiri. Patra menambahkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun argumentasi untuk uji undang-undang, yaitu persoalan legal standing dan hubungan kausal antara pasal yang bermasalah dan potensi kerugian. Dalam kaitannya dengan kepentingan perempuan, UU Pornografi tidak secara spesifik menyebutkan diskriminasi atau kriminalisasi terhadap perempuan. Namun demikian, pelanggaran terhadap hak perlakuan khusus terhadap perempuan merupakan substansi yang dapat diajukan ke Mahkamah Konstitusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Arsil mengingatkan mengenai tujuan dari pengajuan uji undang-undang dan konsekuensi hukum yang terjadi bila uji undang-undang itu dikabulkan oleh MK. Pengajuan uji undang-undang terhadap Pasal 2 berdasarkan hak untuk memperoleh perlakuan khusus yang diatur pada Pasal 28 H (2) merupakan ketentuan hukum acara. Bila ini dikabulkan, maka bukan berarti UU Pornografi ini tidak memiliki ketentuan hukum acara dan tidak bergigi lagi. Pengaturan hukum acara pidana tetap merujuk pada KUHAP.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-8229641988788093700?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/8229641988788093700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=8229641988788093700' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8229641988788093700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8229641988788093700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/uu-pornografi-tidak-menjamin-hak.html' title='UU Pornografi tidak Menjamin Hak Perlakuan Khusus untuk Perempuan'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5795337407107065367</id><published>2008-12-17T22:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:00:08.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Menggugat Landasan Filosofis RUU Pornografi</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ini dibuat sebagai brief paper untuk advokasi RUU Pornografi yang dilakukan Jaringan Kerja Prolegnas Pro-Perempuan (JKP3) -herni&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Akademik adalah tempat yang tempat untuk menggali landasan filosofis suatu RUU. Latar belakang filosofis RUU Pornografi adalah keinginan untuk meluruskan moralitas bangsa Indonesia di tengah perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi dimana Masyarakat Indonesia telah mengadopsi nilai-nilai budaya tertentu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan mengancam persatuan dan kesatuan dengan perbuatan yang tidak bermoral, melanggar etika, tidak sopan, serta tidak menghargai dan menghormati kepentingan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah akademik RUU ini juga menempatkan RUU Pornografi sebagai: (i) pedoman bagi masyarakat dalam memilah budaya di era globalisasi; (ii) alat transformasi bagi masyarakat yang tidak menganut budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila; (iii) alat untuk mengurangi terjadinya kasus-kasus kejahatan seksual dan perbuatan a-moral atau a-susila yang mengganggu tujuan nasional dalam Alinea IV UUD 1945; (iv) instrumen tambahan yang mengurangi kemungkinan terjadinya konflik sosial yang diakibatkan oleh pornografi serta alat untuk menegakan etika, sopan-santun dan budi luhur dalam kehidupan bermasyarakat; meningkatkan kejujuran dan sikap amanah dalam kehidupan berbangsa dan meningkatkan penghormatan terhadap ketentuan hukum dalam kehidupan bernegara (Naskah Akademik RUU Pornografi hal. 3-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan terbesar mengapa RUU Pornografi bermasalah dan menimbulkan kontroversi adalah karena sejak awal, dari landasan filosofisnya, RUU Pornografi memiliki pemahaman dan pendekatan yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, RUU ini memfokuskan pada moralitas dengan pendekatan pelarangan yang mengabaikan hak-hak individu serta mengkriminalisasikan korban pornografi dan tidak melihat masalah pornografi sebagai industri yang perlu diregulasi dan dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski RUU ini memberikan definisi, mengkategorikan jenis pornografi dan perbuatan yang dilarang, namun RUU ini tidak memberikan parameter serta batasan yang jelas kecuali keinginan untuk meluruskan moralitas masyarakat. Hukum memerlukan parameter obyektif yang dapat diukur. Pendekatan yang menekankan pada pengaturan perilaku berdasarkan moralitas malah menimbulkan aturan-aturan yang parameternya bersifat subyektif, tidak jelas dan mendefinisikan pornografi sesuai moralitas masing-masing. Pada akhirnya, RUU pornografi yang tercipta adalah aturan-aturan dengan parameter subyektif dan membuka celah-celah yang berpotensi tidak saja mengabaikan hak-hak individu namun juga menimbulkan konflik sosial baru dalam kehidupan bermasyrakat dengan alasan penegakan moralitas. Alih-alih ditujukan untuk persatuan dan kesatuan bangsa, malah menimbulkan potensi pemecah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUU ini memerangi kejahatan seksual dengan menegasikan korban-korban perdagangan manusia yang umumnya menjadi komoditas pornografi dengan menempatkan mereka sebagai salah satu pelaku kriminal tindak pidana pornografi. Karenanya, hukum yang dihasilkan juga bersifat represif dengan mengkriminalkan mereka yang dianggap tidak bermoral dan para korban industri pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, RUU ini kontradiktif dalam melihat nilai-nilai Pancasila, budaya dan kebhinekaan masyarakat Indonesia. Di satu sisi, RUU ini mengakui keragaman budaya dan kebhinekaan Indonesia, namun di sisi lain menempatkan “materi seksualitas” dalam bidang budaya, pendidikan dan kesehatan sebagai “materi pornografi yang ditoleransi” dan karenanya dikecualikan. Perspektif RUU ini menempatkan segala bentuk dan representasi “materi seksualitas” sebagai materi pornografi, termasuk segala jenis hasil karya budaya, materi pendidikan dan pengobatan. Pengecualian yang dilakukan terhadap budaya, pendidikan dan pengobatan dilihat sebagai bentuk “toleransi masyarakat Indonesia terhadap pornografi”, seperti yang tercantum dalam naskah akademis RUU Pornografi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.... masyarakat Indonesia yang umumnya masih menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila pada tingkatan tertentu memiliki toleransi terhadap pornografi. Mereka memahami bahwa dalam kondisi tertentu bagi sebagian orang-orang, pornografi merupakan suatu kebutuhan (misalnya: untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan atau pengobatan gangguan kesehatan seksual).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, RUU ini tidak mampu menghargai nilai-nilai budaya dan kebhinekaan Indonesia. Sebaliknya, RUU ini justru melihatnya sebagai nilai-nilai yang menghancurkan masyarakat Indonesia dan melihat masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang meski menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, namun memiliki tingkat toleransi terhadap pornografi. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai konsep dan pemahaman RUU ini terhadap nilai-nilai Pancasila, budaya dan kebhinekaan masyarakat Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5795337407107065367?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5795337407107065367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5795337407107065367' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5795337407107065367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5795337407107065367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/menggugat-landasan-filosofis-ruu.html' title='Menggugat Landasan Filosofis RUU Pornografi'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2420422102893879756</id><published>2008-12-04T23:53:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T02:23:21.148-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Pendanaan Kampanye di US</title><content type='html'>Di sela-sela New Generation Seminar 18, saya sempat berbincang-bincang sedikit dengan Joe dan Jay mengenai pendanaan kampanye di US. Tentu saja, proses dan mekanismenya transparan dan akuntabel. Mereka harus melaporkan pemasukan dan pengeluaran sedetail mungkin. Yang menarik adalah, batasan maksimum sumbangan lebih rendah seiring dengan makin tingginya posisi jabatan publik yang hendak diraih. Jadi misalnya, untuk level state, batasan maksimum sumbangan lebih rendah dibanding untuk level county. Ini untuk menunjukkan semakin tinggi jabatan publik, semakin didukung oleh orang yang lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tidak perlu menjadi aburizal bakrie dulu untuk sumbang sana-sumbang sini, hehe. Cukup dengan modal US $1 pun, kita bisa menyumbang. Dan kewajiban untuk mencatat dan melaporkannya sama jika kita menambahkan tiga nol dibelakangnya. Suatu konsep yang menarik, bukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2420422102893879756?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2420422102893879756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2420422102893879756' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2420422102893879756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2420422102893879756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/pendanaan-kampanye-di-us.html' title='Pendanaan Kampanye di US'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1056395640618229404</id><published>2008-12-04T23:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T22:46:00.254-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata'/><title type='text'>New Generation Seminar 18: The Politics of Globalization</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtJUaUKB7I/AAAAAAAAAC0/mqQrun6BV90/s1600-h/1_770425926l.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285899202659485618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 239px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtJUaUKB7I/AAAAAAAAAC0/mqQrun6BV90/s320/1_770425926l.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhir september hingga awal oktober lalu, saya dapat jekpot lebaran berupa undangan untuk mengikuti New Generation Seminar ke 18 yang diselenggarakan oleh East-West Centre. Acara ini merupakan pertemuan calon pemimpin muda dari "timur" dan "barat". Asia dan Amerika. Apa iya saya calon pemimpin muda Indonesia? Nah, itulah... kenapa saya bilang ini adalah jekpot hehe. Beberapa bulan lalu, Scott menawari aplikasi dan kebetulan saya diterima. Alhamdulillah, seberuntung itu :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta seminar seharusnya terdiri dari 16 orang, namun 2 orang tidak bisa hadir. Peserta dari Amerika ada 4 orang. Jay Williams, walikota afrika-amerika pertama untuk kota kecil Youngstown di Ohio. Joe Dorman, state rep dari Oklahoma. Will Campos, councilmen dari District II Marlyand. Ketiganya demokrat. Dan Tim Moore, state rep dari North Carolina. Peserta dari Asia ada 10 orang, Maylin dari kantor presiden Philippines; Katherine dari CCTV China, Bonnie pendiri young leaders rountable dari Hongkong, Tipou ahli konstitusi dari Fiji Island; Amna dari Pakistan; Joey the baby kangaroo yang kerja di partai oposisi/demokrat di Thailand; Mr Brown direktur King Content dan salah satu blogger tertua (jaman kita belum ngeblog, dia udah mulai duluan hehehe); Asrif dari Pakistan; Ranga direktur eksekutif salah satu stasiun tv di srilanka; dan dev anggota parlemen di India. Sementara itu, koordinator dari East West Centre Ann dan Barbara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar dibagi menjadi dua bagian. Minggu pertama, presentasi dari para pakar di east west centre dan masing-masing dari kami sesuai topik seminar. Topik yang saya bawakan adalah the Indonesian Bankruptcy Reforms. It sort of fits the topic. Global Crisis. Globalization. Do you know that (pro-creditor) bankruptcy reforms has been one of the World Bank's agenda? It's one of the agenda for reform that has been spreading globally, started in Latin America in 1980s, European in 1990s and Asian in mid 1990s. And I guess I did my part quite well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi yang lainnya, Amna tentang program pendidikan untuk anak perempuan di Pakistan, Asrif tentang peranan anak muda di Pakistan, Joey tentang konflik di Thailand, Mr. Brown yang bercerita tentang kiprahnya di dunia blogger yang sempat membuat senewen Pemerintah Singapura, Ranga juga tentang kiprah usilnya menyentil politikus melalui TV yang dikelolanya di Srilanka, May tentang kebijakan tenaga kerja di Filipina, Bonnie tentang kaum muda di Hongkong dan presentasi tentang Cina dan media dari Catherine serta kudeta dan konstitusi di Fiji dari Tipou. Sementara dari pihak teman Amerika kami, ada tentang kebijakan imigrasi di Amerika dari Will, Agroturis dari Joe, sistem politik di Amerika dari Tim dan Visi untuk mengembalikan kehidupan perekonomian di Youngstown dari Jay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtJj4GdE_I/AAAAAAAAAC8/Rqa8oGy3-S8/s1600-h/n736415547_4363666_4913+-+Copy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285899468353115122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtJj4GdE_I/AAAAAAAAAC8/Rqa8oGy3-S8/s320/n736415547_4363666_4913+-+Copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selebihnya, kami habiskan waktu untuk menikmati kota honolulu, ke pantai waikiki, melihat tarian hula, mencicipi masakan lokal yang sekilas mirip dengan masakan di ternate :-), beli suvenir, makan malam bareng di outback, serta singgah di kantor obama dan mccain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua dari seminar ini, kami berdiskusi dengan pelbagai macam orang dari pelbagai institusi sehingga kami pun berpindah-pindah tempat. Pertama, ke youngstown, melihat bagaimana kota ini berjuang menghadapi krisis. Kota yang tadinya makmur dari industri baja dan perlahan menurun kemudian berusaha bangkit lagi. Kami bertemu dengan pengusaha alat mekanik pertanian, keluarga petani, industriawan, dan para wakil kota di Youngstown untuk mendapatkan sejarah dan latar belakang krisis. Kami juga mengunjungi museum industri baja, bertamu dan menonton pertandingan football di Youngstown University. Sehari berikutnya kami habiskan di Cleveland, masih di negara federal yang sama, Ohio, namun kali ini adalah ibukotanya. Kami bertemu dengan salah satu senator yang semua orang berpendapat yang sama, senator yang sangat humanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari berikutnya kami habiskan di Washington DC, dengan sebelumnya mampir di Minnesota dalam perjalanan transit pesawat, sekedar untuk sarapan dan melihat kotanya seribu danau itu sejenak, ditemani ayahnya Ann. Di washington kami bertemu dengan direktur East-West Centre, bertemu dengan beberapa institusi penting, melihat obama pidato di Senat, mencicipi kafe capitol di dekat gedung parlemen, mencobai tradisi marshmallow, dibakar-diletakan di atas biskuit, diberi coklat baru dimakan, serta mengunjungi landmarks. Beberapa hari terakhir, saya habiskan di Maryland, kediaman liliana and philipe, orang tua will. Sempat menikmati nongkrong di kafe sport melihat football game dengan 2 teman will yang lain, mengunjungi museum smithsonian, bertemu dengan mas dwi, mbak nina dan para krucilnya serta makan malam merayakan ulang tahun will di restoran favoritnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1056395640618229404?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1056395640618229404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1056395640618229404' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1056395640618229404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1056395640618229404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/unforgetable-conference.html' title='New Generation Seminar 18: The Politics of Globalization'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SVtJUaUKB7I/AAAAAAAAAC0/mqQrun6BV90/s72-c/1_770425926l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2105642526141760233</id><published>2008-12-04T23:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T23:51:00.499-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata'/><title type='text'>Toilet di Bandara Narita, Jepang</title><content type='html'>Buat yang baru “melek dunia” (baca: berpergian ke luar negeri), kebodohan dan kegagapan melihat perkembangan dunia di “luar sana” memang sering terjadi. Jangankan keluar negeri, pengalaman pertama naik pesawat domestik aja, kegagapan ini masih sering terjadi. Dan, kegagapan yang terasa ketika berpergian keluar negeri adalah: toilet! Kenapa toilet, karena entah kenapa kalau lagi berpergian, keinginan pipis lebih sering datang. Beda dengan kehidupan “hari-hari biasa” dimana pipis identik dengan kegiatan menjemput tita yg ngebuzz di YM ngajak pipis dan kami gunakan moment pipis tadi untuk ngobrol di sepanjang jalan dari ruangan ke toilet dan ke ruangan lagi. Lebih banyak waktu untuk mengobrol dibanding pipis :-) Beruntunglah kita tidak bekerja di kantoran, apalagi bank, yang aktivitas pipis aja dijatah pake stopwatch agar tidak lebih dari 5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal toilet, perjalanan yang harus transit di beberapa negara (maklum, panitia membelikan kami tiket promo yang paling murah), mau tidak mau jadi membandingkan toilet. Kali ini saya diberi kesempatan mereview toilet dalam perjalanannya saya ke NGS (New Generation Seminar) yang diadakan oleh east west centre, Honolulu. Dari 3 negara yang saya singgahi, --Singapura, Jepang dan Honolulu, untuk urusan toilet, jepang lah pemenangnya. Faktor kemenangannya bukan pada kebersihan, kemodernan atau kecanggihannya. Toilet di Jepang memang canggih, tapi bukan sekedar canggih. Kecanggihan yang menurut saya, mengandung nilai kegilaan, yaitu kegilaan perhatian pada hal atau kebutuhan yang detail. Sekedar canggih itu hal yang biasa. Negara maju memang harus menghadirkan kecanggihan-kecanggihan sebagai bukti peradaban mereka yang menjunjung nilai-nilai kemanusian. Dan ini dimulai dari toilet. Kecanggihan plus nilai kegilaan pada kebutuhan atau hal yang detail ini yang menurut saya juga ada di acara takeshi castle (OOT dikit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanggihan pertama, toilet di bandara Narita memiliki tombol-tombol yang punya fungsi agak gila, di sisi kanan tempat dudukan toiletnya. Sekilas, saya pikir itu tombol mesin cuci hehe. Tapi pikiran bodoh saya pun disadarkan oleh pertanyaan saya sendiri, apanya yang mau dicuci di toilet? Setelah melihat lebih dalam lagi, tombol itu adalah tombol yang fungsinya mengatur jenis suara dan volume siraman toilet (mirip pengatur musik jadinya ya?), tombol yang mengatur tekanan air serta tombol yang menambah pengharum agar air siraman lebih wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanggihan kedua, adalah kecanggihan yang sudah seharusnya. Kecanggihan yang selama ini kita perjuangkan di advokasi RUU Pelayanan Publik bersama Jaringan MP3 (Masyarakat Peduli Pelayanan Publik). Toilet yang ramah terhadap mereka yang difabel, lansia, dan ibu-ibu yang hendak mengganti popok anaknya. Kecanggihannya terletak pada luasnya toilet itu. Lengkap dengan tombol merah untuk menutup dan tombol hijau untuk membuka. Menekan memang lebih mudah dibandingkan membuka pegangan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, yang bikin saya tergagap gembira adalah toilet ini memasukan satu kepentingan kelompok “minoritas” lain, yaitu orang yang hendak berganti baju. Untuk urusan kepentingan orang yang hendak ganti baju, rupanya luput dari kajian MP3. Mungkin, kepentingan untuk berganti baju di toilet umum belum dianggap sebagai kepentingan yang perlu diakomodasi. Tapi coba anda bayangkan, saya ingin mengganti bagian privat saya dan akhirnya saya enggan karena melihat antrian yang panjang. Saya mau melakukannya tanpa perlu melihat wajah misuh-misuh atau nyinyir tersembunyi dari mereka yang antri. Buat saya, ini kecanggihan dengan suatu terobosan yang kebutuhannya ada tapi tidak dipikirkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanggihan ketiga, adalah kecanggihan yang mengandung nilai kepraktisan. Kecanggihan yang mengakomodasi kebutuhan pipis ibu-ibu yang lagi menggendong anaknya dan sang suami mungkin terlalu malas untuk menggantikan menggendong atau kebetulan tidak sedang menemani sang istri. Di dekat pintu, ada dudukan yang mudah dibuka dan ditutup (agar tidak terlalu makan tempat) sebagai tempat meletakan bayinya selama si ibu pipis. Ibu tidak perlu khawatir, karena letaknya berdekatan dengan toilet buat si ibu. Bahkan si ibu bisa pipis sambil becanda dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin RUU Pelayanan Publik perlu direvisi. Siapa bilang, advokasi RUU tidak bisa menyentuh masalah nyata warga negara ini? Toilet adalah urusan yang nyata dan dekat dengan masyarakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps. Tapi rupanya, kecanggihan toilet di Jepang bisa jadi hanya di bandaranya saja. Untuk review toilet di Jepang di tempat-tempat yang bukan merepresentasikan kegengsian negara, baca tulisan farid mardin di: &lt;a href="http://faridm88.multiply.com/journal/item/8/WC_DI_JEPANG"&gt;http://faridm88.multiply.com/journal/item/8/WC_DI_JEPANG&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2105642526141760233?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2105642526141760233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2105642526141760233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2105642526141760233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2105642526141760233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/toilet-di-bandara-narita-jepang.html' title='Toilet di Bandara Narita, Jepang'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2925201768871256906</id><published>2008-12-04T23:19:00.000-08:00</published><updated>2008-12-04T23:49:43.651-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>RUU Pornografi Masih Bermasalah</title><content type='html'>Ini dari algooth waktu lagi hangat-hangatnya isu RUU Pornografi pertengahan bulan September lalu. Interview sebelum menghadiri NGS di hawaii. Diambil dari link &lt;a href="http://web.bisnis.com/kolom/2id1549.html"&gt;http://web.bisnis.com/kolom/2id1549.html&lt;/a&gt;. Fotonya sebenarnya dari acara ultah 10 tahun PSHK, yang ngambil gama :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 19/09/2008 14:28 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUU Pornografi masih bermasalah&lt;br /&gt;oleh : Herni Sri Nurbayanti&lt;br /&gt;Peneliti pada Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskursus RUU Pornografi mulai berkembang dengan tidak sehat. Ada kecenderungan dalam masyarakat untuk mempolarisasikan posisi menolak dan mendukung dengan stigma-stigma tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendalami masalah ini berikut perbincangan dengan Herni Sri Nurbayanti, peneliti pada Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) dan anggota Jaringan Kerja Prolegnas Pro-Perempuan (JKP3) pekan ini sebelum bertolak ke AS memantau jalannya Pemilu AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang membuat Anda sebagai perempuan begitu gusar dengan RUU Pornografi. Bukankah justru perempuan yang terlindungi?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Keadaan tidak menjadi membaik ketika isu pornografi dikaitkan dengan isu agama. Dampaknya, ada stigma bahwa mereka yang menolak dianggap selain mendukung pornografi dan tidak melihat pornografi sebagai sebuah masalah namun juga dianggap tidak religius atau bahkan tidak punya rasa/nilai/moral. Sehingga perdebatan yang terjadi sebatas menolak dan mendukung saja, tidak benar-benar fokus pada isu pornografinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus penolakan terhadap pornografi perlu dilihat sebagai kritik terhadap pornografi yang sebenarnya mempertanyakan, apa dan siapa yang menjadi sasaran dari RUU Pornografi serta pendekatan yang diambil RUU Pornografi dalam menyelesaikan masalah pornografi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap RUU Pornografi berangkat dari kritik RUU Pornografi yang tidak tepat sasaran dan malah menyasar apa yang seharusnya bukan sasaran RUU Pornografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banyak suara skeptis menyatakan ini adalah kado Ramadhan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terlepas dari kado Ramadan atau tidak, semangat mengaitkan isu ini dengan bulan suci ini seharusnya juga dibarengi dengan pikiran yang jernih terhadap alternatif-alternatif pendekatan penyelesaian masalah pornografi dan bagaimana membungkus RUU yang benar-benar menyelesaikan masalah pornografi, tanpa menimbulkan masalah baru, dalam proses yang partisipatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kalau boleh tahu sebetulnya bagaimana proses RUU ini?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menjelang akhir September 2008, DPR dihadapkan pada setumpuk pekerjaan legislasi. Salah satunya, RUU Pornografi yang pembahasannya dimulai Juni di Panitia Khusus (Pansus). RUU ini dijadwalkan ditandatangani Raker Pansus 18 September 2008 dan disahkan di Rapat Paripurna pada 23 September 2008 mendatang. Namun, RUU ini belum menjawab berbagai masalah penting sehingga masih prematur untuk disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah apa itu?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Definisi Masih Bermasalah. Perubahan draf RUU sering dilakukan, namun masalah mendasar di definisi belum selesai. Rumusan definisi terakhir: "Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat".&lt;br /&gt;Definisi ini memasukkan unsur yang bukan pornografi, frase yang digarisbawahi, serta unsur yang tidak jelas parameternya (yang dapat membangkitkan hasrat seksual) dan mencampuradukan terminologi seksualitas dengan pornografi sehingga tidak tepat sasaran dan multi-interpretatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, naskah akademik RUU Pornografi memuat kajian yang ekstensif mengenai definisi pornografi. Namun, tidak terefleksikan hasilnya dalam rumusan definisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Banyak suara menakutkan dengan RUU ini akan mengintervensi hak seksualitas masyarakat? Apa betul?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;RUU tidak memberi batas ruang privat dan publik serta menggunakan pendekatan intervensi penuh terhadap ruang privat untuk semua materi pornografi yang definisinya tidak tepat dan multiinterpretatif. Hal ini akan menimbulkan masalah pada praktiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, Pasal 20 dan 21 membuka peran masyarakat untuk melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebaran, dan penggunaan pornografi dengan melaporkan pelanggaran dan untuk tindakan ini diberi perlindungan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan definisi dan batasan pornografi yang tidak jelas dan multi-interpretatif, pelaksanaan peran masyarakat untuk mencegah pornografi akan menimbulkan permasalahan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu pendekatan apa yang tepat?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semestinya, pendekatan yang perlu digunakan adalah memberi batas ruang privat-publik dengan parameter penghapusan (zero tolerance) terhadap pornografi anak dan yang mengandung unsur kekerasan terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, memberi batasan ruang privat dan publik yang jelas dengan regulasi distribusi dan penggunaan pada ruang privat dan menutup akses anak. Ruang privat ini bisa ditembus hanya ketika digunakan untuk pornografi yang termasuk zero tolerance tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu pendekatan apa yang menurut Anda sesuai untuk RUU ini?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kriminalisasi, bukan Perspektif Korban. RUU ini menggunakan pendekatan kriminalisasi terhadap objek atau model pornografi (istilah yang digunakan RUU), bukan perspektif korban.&lt;br /&gt;Seharusnya RUU ini menggunakan pendekatan perspektif korban yaitu dengan menempatkan mereka sebagai korban yang penanganannya bukan mengkriminalisasikannya, namun menyediakan fasilitas pembinaan, pendampingan, pemulihan ekonomi dan sosial, kesehatan fisik serta mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan kriminalisasi tidak menyelesaikan masalah dan mengesampingkan fakta pornografi sebagai salah satu tujuan perdagangan perempuan, apalagi untuk pornografi yang mengandung unsur kekerasan terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah korban, bukan pelaku kriminal. Dengan mengkriminalkan korban, justru menempatkan mereka ke jurang lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu bagaimana proses legislasi. Apakah ini tak berjalan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Proses Legislasi Tidak Partisipatif. RUU ini juga bermasalah dari segi proses legislasi. RUU yang direvisi belum tersosialisasikan dengan cukup, padahal Risalah Laporan Singkat Rapat Pleno Pansus 14 Mei 2008 mencatat sosialisasi masih perlu dilakukan. Partisipasi publik makin tertutup dengan Rapat Panitia Kerja (Panja) yang tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatib DPR mengatur Rapat Panja tertutup, kecuali dinyatakan terbuka. Namun mengingat substansi dan dampak RUU yang luas, seharusnya ada kepekaan politik untuk menyatakan rapat Panja terbuka untuk umum, seperti RUU Kewarganegaraan, RUU Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dan RUU Pelayanan Publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan teknis Pansus dalam mengolah aspirasi masyarakat masih lemah. Berbagai elemen masyarakat selama ini berinisiatif untuk beraudiensi dan mengadvokasikan masukannya, namun masih banyak yang belum diakomodasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pekan depan RUU ini bakal diteken. Ini artinya sudah final lalu bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pornografi adalah keprihatinan kita bersama. Persoalannya adalah bagaimana menyusun RUU yang tepat sasaran, tidak menimbulkan masalah baru serta melalui proses pembentukan hukum yang bertanggungjawab secara sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUU Pornografi belum memenuhi ketiga kualifikasi tersebut. Apakah DPR ingin mengesahkan RUU yang bermasalah seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pewawancara: Algooth Putranto Wartawan JBII/Monitor Depok&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2925201768871256906?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2925201768871256906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2925201768871256906' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2925201768871256906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2925201768871256906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/12/ruu-pornografi-masih-bermasalah.html' title='RUU Pornografi Masih Bermasalah'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-6564357773953569795</id><published>2008-06-19T02:01:00.001-07:00</published><updated>2008-12-02T02:14:38.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Sebuah pertanyaan untuk demokrasi</title><content type='html'>Hari ini, ada pertanyaan cerdas dari mas dwi, moderator WM (wanita-muslimah@yahoogroups) untuk para kaum progresif demokrat pro-demokrasi. Apakah demokrasi membuka ruang bagi mereka yang anti-demokrasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini muncul bukan melihat persoalan besar demokrasi yang sedang dihadapi negara ini. Pertanyaan ini justru muncul, dari wilayah jagad maya yang sudah menjadi ruang publik tempat orang nongkrong, berkomunikasi, berjuang dan... berantem :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi berdiri di atas prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi HAM, menghargai perbedaan dan percaya bahwa setiap orang punya selayaknya punya kebebasan (lengkap dengan segala dilemanya dan diskursus yang muncul dari semua istilah ini). Perbedaan adalah sesuatu yang perlu disadari dan dihargai. Perbedaan perlu disadari sebagai perbedaan antar kelompok dan intra kelompok. Perbedaan jangan dijadikan sesuatu yang menghasilkan perseteruan, konflik atau bahkan dijadikan dasar kekerasan. Perbedaan justru harus diterima dan digunakan demi keharmonisan, baik di wilayah privat, publik maupun pasar (demokrasi berjalin kelindan dengan pasar juga toh? hehehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah demokrasi membuka ruang bagi mereka yang anti-demokrasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi percaya pada penghargaan antar sesama manusia. Penghargaan terhadap perbedaan pemahaman. Saling jaga, saling hormat antar mereka yang berbeda. Bukan sekedar untukmulah pemahamanmu dan untukkulah pemahamanku. Karena kalau hanya berpikir dan berlaku dengan prinsip seperti ini, seringkali akan menemukan jalan buntu. Demokrasi adalah bicara tentang menyamakan persepsi dan membuka alternatif-alternatif baru. Demokrasi percaya pada dialog dan menentang segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan yang membungkam dialog itu sendiri. Demokrasi percaya bahwa prinsip-prinsip demokrasi dapat diterima dengan suasana diskusi yang penuh kearifan. Demokrasi tidak selayaknya dibungkam, apalagi sekedar untuk alasan kenyamanan berdiskusi. Demokrasi adalah pilihan yang tak terelakan. Setidaknya untuk saat ini. Tapi, apakah hal yang sama juga mampu diterapkan oleh mereka yg pro-demokrasi terhadap mereka yang "anti-demokrasi"?&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt; &lt;/span&gt;Termasuk salah satunya, harga yang perlu dibayar adalah suasana ketidaknyamanan dari para penyerang demokrasi. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;That's the &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;challenge&lt;/span&gt;. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;The biggest one, indeed&lt;/span&gt; :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-6564357773953569795?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/6564357773953569795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=6564357773953569795' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6564357773953569795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6564357773953569795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/06/sebuah-pertanyaan-untuk-demokrasi.html' title='Sebuah pertanyaan untuk demokrasi'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8443474584489038957</id><published>2008-06-15T23:25:00.000-07:00</published><updated>2008-12-02T02:12:44.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Sonet XVII Pablo Neruda</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Minggu lalu, sepulang dari makassar (hehehe soal perjalanan ke makassar ini belum diceritain di blog ya), saya kembali dalam rutinitas weekend saya: membegokan diri dengan kepingan DVD :-) Temanya adalah: pelem-pelem NOSTALGILA. Ya, saya bernostalgila menonton film-film favorit saya yang sebenarnya sudah saya tonton. Dua film yang saya tonton adalah: &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:georgia;" &gt;little women &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:georgia;" &gt;patch adams.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Saya baru sadar, ada puisi yang maniiiiiss sekali yang dibacakan patch adams (robin williams) buat carin fisher, pacarnya di film itu... yang mati ditembak psikopat. Iseng saya cari di internet, rupanya itu adalah Sonet XVII Pablo Neruda. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;pre style="FONT-FAMILY: georgia"&gt;I do not love you as if you were salt-rose, or topaz,&lt;br /&gt;or the arrow of carnations the fire shoots off.&lt;br /&gt;I love you as certain dark things are to be loved,&lt;br /&gt;in secret, between the shadow and the soul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you as the plant that never blooms&lt;br /&gt;but carries in itself the light of hidden flowers;&lt;br /&gt;thanks to your love a certain solid fragrance,&lt;br /&gt;risen from the earth, lives darkly in my body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you without knowing how, or when, or from where.&lt;br /&gt;I love you straightforwardly, without complexities or pride;&lt;br /&gt;so I love you because I know no other way than this:&lt;br /&gt;where &lt;em&gt;I&lt;/em&gt; does not exist, nor &lt;em&gt;you&lt;/em&gt;,&lt;br /&gt;so close that your hand on my chest is my hand,&lt;br /&gt;so close that your eyes close as I fall asleep.&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-8443474584489038957?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/8443474584489038957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=8443474584489038957' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8443474584489038957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8443474584489038957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/06/sonet-xvii-pablo-neruda.html' title='Sonet XVII Pablo Neruda'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-2516758859706619225</id><published>2008-05-24T23:42:00.000-07:00</published><updated>2008-12-02T02:14:58.989-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Some people are simply.... nuts!</title><content type='html'>Kayanya saya perlu diruwat. Bukan untuk menghindari dari terkaman batara kala, tapi dari orang-orang sinting. Mungkin perlu diruwat beberapa kali, mengingat banyak orang sinting beredar di dunia ini huhuhu. Dan sialnya, saya selalu kena labrak para orang sinting. Atau mungkin ada &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;chemistry &lt;/span&gt;yang dalam tubuh saya yang perlu diubah sehingga tidak bertemu dan kena labrak para orang sinting itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal labrak-melabrak, pastinya tidak jauh dari aktivitas label-melabel. Satu hal yang saya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;gak &lt;/span&gt;suka karena menurut saya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;gak &lt;/span&gt;guna. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Labels are always contested terms&lt;/span&gt;. Memang label seringkali merupakan pasangan nilai-nilai yang berlawanan. Misalnya, baik-bandel. Benar-salah. Liberal-konservatif. Progresif-kolot. Hitam-putih. Dan sebagainya. Saya bilang gak guna, karena seringkali ini hanya bisa dipolitisasi. Dan saya kira, kita tidak bisa dengan seceroboh dan secepat itu mengkotak-kotakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja lihat, perempuan baik-baik versus perempuan tidak baik. Tapi, baik versi siapa? Apakah baik pada saat itu, atau baik sebagai nilai "rata-rata"? Baik artifisial atau baik &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;genuine&lt;/span&gt;? Yang seperti apa baik artifisial dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;genuine &lt;/span&gt;itu? Sebelnya, orang kalau sudah melabrak dan melabeli, mereka cenderung membuat polarisasi. Garis batas antara kamu yang jahat dan dialah yang baik. Ah, apakah saya harus merespon dengan hal yang sama, bahwa sebaliknya, sayalah yang baik dan kamu yang jahat. Jadi, berhentilah melabeli dan melabrak karena itu tidak bijaksana dan tidak berguna. Apalagi, bila yang dilabrak adalah orang yang salah dan labrakannya itu tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Gosh&lt;/span&gt;, mungkin benar saya butuh diruwat.&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-2516758859706619225?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/2516758859706619225/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=2516758859706619225' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2516758859706619225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/2516758859706619225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/05/some-people-are-simply-nuts.html' title='Some people are simply.... nuts!'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1138468727919388074</id><published>2008-05-24T23:34:00.000-07:00</published><updated>2008-05-24T23:42:03.819-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><title type='text'>LDT terakhir dengan BRR</title><content type='html'>Sudah sekitar 2 tahun ini, kami sering diminta oleh BRR untuk memberikan LDT bagi anggota-anggota DPRK/A beserta Staff Dewan. Kali ini adalah LDT terakhir bekerjasama dengan BRR karena pada akhir April 2008, Satker Penataan Kelembagaan ditutup. (nama satkernya sih panjang, saya sendiri lupa. Kenapa juga nama satker di BRR panjang-panjang? hehehe).  Timnya Ery, Sholikin dan saya. Permintaan ini datang mendadak. Persiapannya pun secepat kilat. Gimana tidak, proses permintaan, pemilihan trainer hingga pesan tiket dilaksanakan dalam waktu cuma 1 hari! Karena kebetulan reny memilih untuk tetap di Jakarta dan kita punya kebijakan representasi perempuan minimum 30% dalam tim trainer yang akan berangkat, lagi-lagi saya kena batunya berangkat training.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1138468727919388074?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1138468727919388074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1138468727919388074' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1138468727919388074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1138468727919388074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/05/ldt-terakhir-dengan-brr.html' title='LDT terakhir dengan BRR'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5032455069311600652</id><published>2008-05-24T23:21:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T01:40:10.428-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata'/><title type='text'>Wisata LDT Takengon</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SUDe-6rJWUI/AAAAAAAAACs/ffHhndqZUzk/s1600-h/takengon.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278463935761701186" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SUDe-6rJWUI/AAAAAAAAACs/ffHhndqZUzk/s320/takengon.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 20-23 Maret 2008, saya ke Takengon untuk keperluan pekerjaan. Kali ini, memberikan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Legislative Drafting Training &lt;/span&gt;(LDT) atau Pelatihan Perancangan Peraturan untuk anggota DPRK Bener Meriah, sebuah kabupaten baru perluasan dari Kabupaten Aceh Besar. Sebenarnya ini panggilan tugas dadakan. Tim aslinya adalah bang Irfan, Maryam dan Ery. Namun, karena punggung ery yang baru di operasi tidak sanggup menahan beban perjalanan ke Takengon yang memakan waktu 7 jam dengan naik mobil melewati jalan berkelok-liku tajam, maka sayalah yang diminta menggantikan. Waktu itu bertepatan dengan libur panjang karena 2 tanggal merah. Sial karena lagi-lagi tanggal merah terlewatkan dengan sia-sia. Saya sudah lupa tepatnya kapan tidak lagi ada batasan antara &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;weekdays &lt;/span&gt;dan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;weekend&lt;/span&gt;. Buat saya (dan yg lainnya juga), gak ada bedanya. Setiap hari libur dan tanggal merah adalah hari kerja. Mungkin itu sebabnya kami suka menyempilkan kesenangan di sela-sela pekerjaan, hehehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, seperti biasa saya menyiapkan bahan dan mencari pengetahuan di internet&lt;br /&gt;tentang kota asal para peserta, Bener Meriah dan tempat training diadakan, Takengon. Pengetahuan saya tentang Takengon hanya sebatas salah satu kota wisata di Aceh. Itupun dari Erni, yang dulu pernah kesana. Kota yang memiliki potensi yang luar biasa di bidang pariwisata tapi seperti biasa, tidak digarap dengan baik. Sementara informasi mengenai Bener Meriah, tidak sempat saya cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di bandara, kami dijemput oleh bang Yasser dan Pak Win, langsung menuju Takengon. Dan perjalanan panjang pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Wisata Danau dan Wisata Kuliner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari perjalanan kali ini adalah kami sempat berwisata danau dan wisata kuliner :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke Takengon, kami berhenti sebentar di sebuah rumah makan di satu tempat antah berantah antara banda aceh dan takengon. Warungnya sederhana. Prasmanan. Mirip warung padang dimana lauk pauknya disediakan di meja makan dalam piring-piring kecil. Kami makan dengan lahap, seperti biasa :-). Selain kelaparan, juga karena makanannya enak :-). Salah satu makanan khas Takengon adalah ikan kecil-kecil yang saya lupa namanya apa. Dan seperti biasanya pula, saya selalu pesan timun kerok. Entah kenapa, timun kerok di Aceh selalu enak. Dan jus-jus lainnya. Mungkin karena belum banyak pestisida. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan berikutnya kami juga melihat deretan kripik yang dijual dalam plastik bening seukuran karung beras. Berbagai macam kripik dijajakan, mulai dari kripik pisang (manis dan asin), singkong, ubi hingga sukun. Penjualnya ramah-ramah. Kalau kita ramah sedikit dengan mereka, dijamin bonus sekantong kripik diberikan :-) Sesampai di Takengon, hari sudah menjelang sore dan kami langsung menuju danai air tawar. Apalagi kalau bukan untuk foto-foto :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Mie Aceh di Kompleks Terminal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perburuan makanan ini dilanjutkan pada malam pertama pelatihan. Teman-teman BRR menemani kami makan. Kami makan di sebuah rumah makan lesehan. Mencicipi mie Aceh di Takengon. Siapa tau saja rasanya berbeda :-). Perburuan mie aceh ini dilanjutkan pada malam kedua, oleh saya dan Maryam. Untuk informasi mie aceh yang enak, kami menggunakan metode pencarian data &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;snowball&lt;/span&gt;. Kami bertanya kepada abang-abang di supermarket kecil di depan hotel, yang kemudian bertanya lagi pada abang-abang lain di dekat situ. Dari metode ini, kami dapatkan informasi: mie aceh di kompleks terminal. Bahkan, ada abang bentor yang siap mengantarkan kami di sana. Sip lah, dapat informasi dari "orang lokal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, yang kami kira nama kompleks sebuah perumahan adalah benar-benar... kompleks terminal (bus). Saat itu, jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Untuk ukuran jakarta sih, masih "sore". Tapi ini Aceh, jeng. Tepatnya, Takengon. Yang menurut koran lokal yang saya beli di bandara, baru saja terjadi konflik penculikan salah satu tokoh penting. Agaknya, konflik-konflik kecil sudah mulai bermunculan. Terlepas dari kemajuan tentang Aceh yang diberitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita, karena sudah terlanjur, kami cuek saja. Mantap dengan niat semula, mencicipi mie Aceh yang 100% orisinil :-) Rupanya benar, mienya benar-benar enak! Cuma sayangnya, terminal, pembeli cuma berdua dan perempuan serta jam 9 malam di Takengon bukan kombinasi yang baik untuk dapat menikmati mie aceh dengan santai. Di kejauhan, terlihat kedai kopi dengan bangku-bangku kosong. Kedai itu tidak semenarik kedai kopi di ulee kareng dan di tempat lain. Remang-remang. Konon katanya, di situ pernah menjadi lokasi prostitusi. Belum lagi, preman terminal yang suka melirik, menggoda dan bahkan menyetop kami yang sedang menunggu bentor di jalanan yang sudah sepi dan toko-toko sudah tutup. Untunglah, ada bentor yang lewat dan menyelematkan kami. Terpaksa si kepiting yg menggiurkan pesanan maryam harus dibungkus dan dimakan di hotel. Jadi, bila ingin menikmati mie aceh di terminal bus, pastikan anda membawa laki-laki. Ini bukan persoalan bias gender, tapi memang buat sebagian besar masyarakat kita, kehadiran laki-laki di tengah gerombolan perempuan masih seperti anjing penjaga yang memastikan dombanya tidak diganggu :-)&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5032455069311600652?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5032455069311600652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5032455069311600652' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5032455069311600652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5032455069311600652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/05/wisata-ldt-takengon.html' title='Wisata LDT Takengon'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/SUDe-6rJWUI/AAAAAAAAACs/ffHhndqZUzk/s72-c/takengon.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5903311760438400757</id><published>2008-03-19T05:57:00.001-07:00</published><updated>2008-12-02T02:17:29.578-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='personal'/><title type='text'>Katakan dengan kartu!</title><content type='html'>Kartu ternyata bisa berfungsi sebagai alat komunikasi, untuk mengungkapkan isi hati. Seringkali, kartu digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang "positif" seperti penggalian cerita tentang diri sendiri, cita, mimpi-mimpi dan harapan. Namun kali ini, saya menggunakannya sebagai alat komunikasi mengungkapkan hal-hal yang "negatif", seperti keluhan dan kritikan-kritikan. Sejak lama, banyak kritikan dan keluhan dari para staff baik yang gamblang disuarakan maupun melalui bisik-bisik yang terdengar samar-samar. Sudah lama saya merasa tertantang untuk menggali dan mengelola kritik dan keluhan ini untuk perkembangan dan kemajuan lembaga. Saya gunakan kartu karena pengungkapan keluhan dan kritikan dengan cara yang "biasa" atau "normal" seringkali berujung pada kekesalan, saling salah-menyalahkan dan luapan emosi semata yang berpotensial untuk mengaburkan pokok bahasan. Jadi saya mencobanya dengan kartu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hari minggu 16 Maret yang lalu, saya mencoba menggunakan metode penyampaian dengan kartu untuk mengelola kritikan dan keluhan para staff. Seharian itu staff pendukung berkumpul di ruang diskusi perpustakaan hukum Daniel S. Lev. Peneliti yang hadir hanya saya dan Maryam. Saya hadir karena posisi struktural (sementara) dan Maryam saya undang untuk mengenalkan masalah-masalah kelembagaan kepada peneliti muda. Biar tidak hanya memikirkan penelitian dan kariernya semata, tapi juga punya kepedulian pada lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memakai dua set kartu berisi gambar-gambar binatang. Pinjaman dari Erni (dasar fasilitator tak bermodal hehe). Kami duduk melingkar. Suasana dibuat cukup santai. Posisi pun dibiarkan bebas. Bisa sembari duduk, tiduran, senderan, berdiri atau yang lainnya. Saya sebarkan kartu-kartu bergambar binatang itu di hadapan kami membentuk lingkaran (meniru cara mbak budhsi vibran, hehe). Instruksinya adalah memilih kartu yang merepresentasikan masalah-masalah mereka, utamanya mengenai posisi mereka sebagai staff di PSHK. Mulanya sebagian belum memahami instruksi ini. Mungkin belum terbayang akan seperti apa jadinya. Tapi mereka mau mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang memilih satu, dua hingga tiga kartu. Sengaja saya bebaskan jumlah kartu yang bisa mereka pilih. Sebagian bingung memilih, sebagian langsung memilih dan sibuk merangkai kata-kata yang menjelaskan makna kartu yang mereka pilih. Lalu tibalah momen untuk saling berbagi menjelaskan kartu yang mereka pilih beserta maknanya. Berikut kartu-kartu yang mereka pilih (untuk keperluan menjaga identitas pribadi, sengaja tidak saya sebutkan namanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5903311760438400757?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5903311760438400757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5903311760438400757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5903311760438400757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5903311760438400757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/katakan-dengan-kartu.html' title='Katakan dengan kartu!'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-631112011975843609</id><published>2008-03-18T05:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-02T02:18:22.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Jolanda Goldberg, Perempuan dibalik Penyusunan Sistem Katalog Library of Congress</title><content type='html'>Library of Congress merupakan salah satu perpustakaan yang berpengaruh di dunia. Perpustakaan terbesar dan terlengkap di seantero Amerika Serikat. Sejarahnya hampir sepanjang sejarah negara Amerika Serikat sendiri. Ia merupakan bagian dari mimpi Thomas Jefferson. Bagian dari institusi demokrasi yang dibangun di awal sejarah berdirinya Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita melihat catatan sejarah mengenai Library of Congress, anda akan menemukan uraian panjang sejarah terbentuknya, koleksi yang sangat ekstensif, kemegahan gedung, bangunan serta infrastruktur di dalamnya. Bagi pustakawan, satu hal yang bisa ditambahkan adalah sistem katalog yang dimilikinya, Library of Congress Catalogue atau dikenal dengan sebutan LC System. Yang menarik buat saya dari LC System ini yang mungkin luput dari catatan sejarah (setidaknya yang tidak tercatat di wikipedia maupun sumber-sumber lain yang dapat diakses oleh internet hehe), adalah Jolanda Goldberg, wanita warga negara Amerika asal Jerman, penyusun LC System.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Jolanda Goldberg diperkenalkan oleh Merry, salah satu ahli katalog di Library of Congress yang saya temui di Library of Congress. Merry juga memperlihatkan buku panduan LC System yang dibuat oleh Jolanda Goldberg. Sistem katalog LC ini digunakan di seluruh perpustakaan di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[bersambung.. capek hehehe]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-631112011975843609?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/631112011975843609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=631112011975843609' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/631112011975843609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/631112011975843609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/jolanda-goldberg-perempuan-dibalik.html' title='Jolanda Goldberg, Perempuan dibalik Penyusunan Sistem Katalog Library of Congress'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5783399610724678574</id><published>2008-03-10T04:37:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T04:52:01.690-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my summary'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Participation and Power: A Transformative Feminist Research Perspective by Joke Schrijvers</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;This summary was done by a friend of mine, A. Rahman -red&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;This action research was undertaken among the people (Muslins and Tamils) staying in relief camps in &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Sri Lanka&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. These people had been displaced by civil war and ethnic violence in 1990s.The article states that relief and rehabilitation measures are carried out in a top down manner without considering the views of the refugees, especially women and children who may have special needs. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;The main points are as follows-&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;1. Neo-positivist ideology in its bid to be neutral starts treating people as objects. The processes of collecting data, analyzing and writing it are presented as simple and transparent. But this research is not value free and in fact it obfuscates power relationship. First the agenda for research is set up by professional social scientists. Secondly, the researched has no say in it. Third they are objectified during research and lastly the research is merely academic and has no liberating influence. Thus focus of research is now shifting to a view from below in which Feminism has made a significant contribution&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;by adding to the perspective from below the&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perspective of women.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;2. In feminist theory and practice issues of knowledge, power, representation and authority have been dealt with deeply.Ethnic, race, class and age relation crosscuts gender, which makes this study more difficult. Another problem is how to create equitable relations during the research process and support envoicing of participants.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;3. The postulate of value free research is to be replaced by conscious partiality. Critical consciousness and exchange are important elements of this research. The researcher takes side of certain group, partially identifies and in a conscious process creates space for critical dialogue and reflection on both sides. It raises new questions and images of reality in a dialectical way. If dialogues form the main communication process, the objects of research become subjects as well. They are conceptualized as social actors who themselves participate in the research and therefore co- determine the outcome. They too are constructing knowledge and interpreting reality. The out come is intersubjective and negotiated and there is no single reality.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;Five elements of this dialogical communication can be identified-&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;1. Dynamic focus on change as opposed to status quo.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;2.Exchange- researcher and researched continuously change places as both are subjects and objects, active and passive and their views are open for discussion.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;3. The ideal of egalitarian relation- the researcher and the participants are aware of the power inequalities that separate them. By articulating such differences less powerful will feel assured about the efforts of the power full to take a perspective from below.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;4. Shared objective- the priorities of the research are decided by all the participants.The researcher or the funding agency have no control over the process of the research or its out come. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;5. Shared power to define- participants are empowered to construct concepts and categories, discuss results and determine the course and out come of the research.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;There are some problems with this kind of research. For example the ultimate power to define the out come will be with the researcher who is going to write it and there is possibility that some of the perspectives are not correctly reflected as it has not been written jointly. Secondly dialogical communication is meant more for the situations where the other group is powerless. What about sharing the power to define with the more powerful. Envoicing their concern may lead to perpetuation of status quo.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;Transformative approach-if the aim of the research is transformation backed by the perspective from below, we call it transformative approach. It aims at bridging the gap between theory and practice and supporting change from bottom up. However this term is complicated as poor it self are a heterogeneous group. As researcher we are intellectual intermediary in this transformation and we have to make choice as to in&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;whose interest, out of the heterogeneous reality, we use our perspectivee.How relevant is the acquired knowledge for their perspective? What are the possibilities of returning the insights gained, back to them?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;If transformative research also involves direct action for change it is known as action or partisan research. The researcher takes sides with the people whose situation he wants to change. Thus all actors become engaged in a combined processor of research and action. One of the participants is facilitator. The decision to take side does not mean that the researcher has to accept the interpretation of the other actors. It means all parties create space to articulate their views so that they can exchange and discuss their interpretations&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5783399610724678574?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5783399610724678574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5783399610724678574' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5783399610724678574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5783399610724678574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/participation-and-power-transformative.html' title='Participation and Power: A Transformative Feminist Research Perspective by Joke Schrijvers'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-3718939008799104913</id><published>2008-03-10T04:28:00.001-07:00</published><updated>2008-06-05T00:16:52.682-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my summary'/><title type='text'>Participation in Context: Key Questions</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Am sorry for not be able to provide the original sources (of reading). I think it's a summary from various articles or whatever. Well, I definitely needs to consume salmon omega-3 everyday, hehehe...&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Key Questions on participatory development in terms of the practice and process of participatory research, planning and governance in the context of community development: &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Why a participatory process ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;It is important to define the ends served and making them explicit in collaborative work. The end of participation includes the planners, the facilitators and the objective of the participants. This can be done through these steps:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;All should make their reasons explicit and then to      attempt to reconcile differences. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Participatory exercise can then be tailored to the      various ends which the group decides to pursue&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;What ends does it serves?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Participation as a means to specific ends -      Instrumentalism&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Instrumentalism Participation is an instrumental use of people and their participation by outsiders for the achievement of some implicit or intentionally concealed aim. It is hand in hand with mobilization, in terms of getting certain people to do something, even if it undermines their interests.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;In some cases, people are unable to re-orient or resist inappropriate interventions, and projects are perpetrated upon them rather than being designed and carried out by and for themselves. Participatory process, combined with an explicit treatment of the objectives of the process itself, can prevent such abuses.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Participation as an end in itself&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;It implies that men and women are learning, organizing, deciding, planning and acting, whether quickly or slowly, easily or painfully, and with or without a specific end. In some cases, the end is participation for its own sake in a first phase, so that people are in a position to define their own goals and to act on them in a second phase.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;The Objectives of Participatory Research&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;There are many kinds of participatory research objectives which are:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To extract information from people (the more common      approach)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To place outside researchers at the service of local      communities or popular social movements.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;It is placed as collaborative efforts ranging from      documentation of local experiments and innovations by professional      scientists to farmer participation in outsider-designed agricultural and      forestry experiments. We propose to join together people and institutions      with very distinct traditions of acquiring and testing knowledge, and      often, very different needs and uses for knowledge.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Participation and Relations of Power&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;To promote social change through participatory development, it is essential to understand better and to address the way that power is distributed and wielded. Therefore facilitators should do the following:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Identifying the multiple actors within communities,      as well as those who work within and between communities and others whose      decisions affect local development from afar.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Understanding power relations embedded in the culture      and social structure within local communities, based on class ethnicity,      religion, race, nationality, ideology, etc.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Facilitator needs to consider carefully their choice      of partners to organize and plan activities, whose interests to address      and whom to include in any given event.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Whose Interests, whose voices, whose actions&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The community is not a homogenous group.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Individuals may identify more of less strongly with gender, class, ethnicity or religion, depending on their own experience and the current context. These attributes also interact. Culture and social relations are not static with respect to gender, class, caste or other dimensions of difference.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The groups (in the community) will shift on the basis of the context and the issues at stake, i.e. people shared interests on a specific issues, coalitions between very distinct groups with a common goal or broader affinities among groups and between individuals. Therefore, facilitators need to grapple not only with difference, but with a multitude of different possible groupings and beyond that, a shifting constellation of groups with flexible boundaries. They must also confront the question of how actively they will promote the participation and follow-up actions of the less powerful groups.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;The Temporal Context&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;It is important to situate the origin of problems and opportunities in time, as well as the groups involved, and the nature of our interventions/partnerships, in order to choose the time horizon of participatory research, planning and action agendas. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Participation need not be associated with either one-time appraisals or a life-time residential commitment, but should reflect an honest search for the most appropriate time frames suited to the context of the place, the people, the partnerships and the scope of changes contemplated. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;There are several ways to match the time frame of analysis with the topic, the actors and the scope of their concerns, includes the time frame for:&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0in;" type="circle"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;understanding the current situations: (i) to      understand the history of the current situation in any given places and of      any given group, including individual life histories, the history of      specific groups and communities, etc; (ii) the history encompass social,      cultural, economic, environmental changes, etc through people’s lives and      landscapes, and are seldom written. conducting research&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;planning activities&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;implementing plans&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;with considering the time limits (for example immediate future -3 years, longer time frames for planning and actions -10-20years, etc) and the institutional concerns (e.g. the actors in the process).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Where to Focus Participation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;The ‘popular’ participation are usually located in public meetings, where ‘local people’ and officials engage in planning discussions about local problems and proposed development solutions. Basically, participation could take place in national policy discussions and legislative process as well as in small, quite meetings between family members, neighbours, or members of particular groups based on occupation, class, race, ethnicity, gender, religion, or other bases of identity and difference.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Addressing the Problems&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Close attention to the appropriate scale of problem definition, analysis and action can make a major difference in the quality of participation, the rate of participation, and the representation of all groups involved in a given process. It also could influence the outcome, both overall and for particular groups.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;To address the problems of one community group at a given time and place may require a much broader look at the regional and national context, as well as a closer look at the daily lives and landscapes of individuals and particular groups. In order to do this, the steps are:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The explorations of problems and opportunities at multiple scales, always looking at larger and smaller-scale process that influence of influenced by any given problem.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The process, with special attention to the size and nature of the social unit of resource users and stakeholders and the size of the landscape units involved in various stages of participatory initiatives.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The size and nature of the landscape area and the social units for follow-up action will vary with the type of problem and the context. Careful attention to the scale of both social organization and ecological units can improve the quality and outcome of each of these stages of participatory activity.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-3718939008799104913?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/3718939008799104913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=3718939008799104913' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3718939008799104913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/3718939008799104913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/participation-in-context-key-questions.html' title='Participation in Context: Key Questions'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-6701670655778703630</id><published>2008-03-10T01:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T01:47:30.788-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><title type='text'>The Narratives in Clifford Geertz’s “Which Way to Mecca?”</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="FONT-FAMILY: arial" href="http://www.blogger.com/www.bizbag.com/Cartoons/mecca.htm"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 320px; CURSOR: pointer" alt="" src="http://www.blogger.com/www.bizbag.com/Cartoons/mecca.htm" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Abstract&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Islam has become the main concern of the media, the society, even the governments, due to many kind of “terrorist” activities, for example September eleven (11/09), Kuta beach,&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;suicide bombers, Osama bin Laden, the Iraq war and so on and so forth.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;Suddenly, Islam has become a contested terrain. A lot of writings from different perspectives are published in order to give information to the public about what the Islam is. &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;They are the narratives of Islam which is thrown away to the public domain. These writings or narratives also represent responses and reactions, which include not only understanding but also warnings, reassurances, advices or attacks (Geertz, pp. 27). It also has impacts on the social practices, ranging from the daily lives of the people in general to the government’s policy. In Clifford Geertz’s “Which Way to &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;”, we could found both the meta-narratives and the narratives from different perspectives by different authors, including the competing narratives among the story tellers and between them and Geertz.&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.25in; TEXT-INDENT: -0.25infont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;A. The Big Story and The Story Tellers&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;strong&gt;1. The Big Story of Understanding Islam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;In “Which Way to &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;”, Geertz was explaining the phenomenon of “understanding Islam”,&lt;br /&gt;especially after the September eleven’s attack on the World Trade Centre and Pentagon. This phenomenon was reflected in many kinds of writings and books about Islam that have been published. In the process, “understanding Islam” had become a contested issue. According to Clifford, this writings represent responses and reactions, which include not only understanding but also warnings, reassurances, advices or attacks (Geertz, pp. 27).&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;Therefore, as explained by Geertz, understanding Islam had many approaches which divide and bound the overall field of argument and interpretation. The four approaches are: (i) the civilization approach which opposes the “west” as a whole to Islam; (ii) defining the various streams of contemporary Muslim thought and practices based on political expression; (iii) conciliate efforts seeking out “many are the roads but God is one”; (iv) studies that conceive Islam less as a cohesive mega entity persisting through time than as a collection of particular in the context of the vast and entangling forces of all over modernity advance (Geertz, pp. 27). These are the meta-narratives or the four mainstream narratives of understanding Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;2. Locating the Author and the Narrators&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The article was written by Clifford Geertz, a well-known anthropologist. Geertz introduced four narratives in the article. Each narrative has different perspectives or aspects and written by different authors from different backgrounds. These authors are the story tellers. Geertz is also criticized them and gave his opinion which was also reflected in the title, “Which Way to &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;?”. To this extend, he then implicitly became the narrator himself.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Clifford Geertz was in the US Navy during the World War II before he took a carrier as an anthropologist. He had studied at &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Antioch&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;College&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; (for BA) and Harvard (for Ph.D). He started his carrier as anthropologist at the &lt;st1:placetype st="on"&gt;University&lt;/st1:placetype&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Chicago&lt;/st1:placename&gt; (1960-1970) and became a professor of social science at the Institute for Advanced Study in &lt;st1:place st="on"&gt;Princeton&lt;/st1:place&gt; until 2000, now emeritus [1]. He is also known as a champion of symbolic anthropology, which the role of thought (of “symbols”) in society is the main concern. He also has conducted extensive ethnographical research in Southeast Asia and &lt;st1:place st="on"&gt;North Africa&lt;/st1:place&gt; and issues on religion, most particularly on Islam [2]. In short, he is one of the well-known experts of Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The story tellers or the narrators in the articles are: Bernard Lewis, M.J. Akbar, Thomas W. Simons, Jr. and Karen Armstrong. In his article, Geertz gave some information of their backgrounds. Bernard Lewis is a famous orientalist, well-educated in Islamic studies-, and also an adviser to the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;USA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;’s vice president. Lewis had written many books about Islam. He is also known as the prominent expert in Islamic studies. M.J. Akbar is Muslim founder editor of the English-language Indian daily. He was also former Congress MP and a nonstop commentator, particularly on the issue of Islam in &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Delhi&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Thomas W. Simons Jr. had a carrier as the &lt;st1:country-region st="on"&gt;US&lt;/st1:country-region&gt; ambassador to &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. He also has many experiences and strong education related in the area of &lt;st1:place st="on"&gt;Europe&lt;/st1:place&gt; and European studies. Karen Armstrong is an ex-nun and a writer of a number of religious subjects, including the Semitism religion and also Buddhism, medieval mystics, and so on. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;B. The Events, the Narratives and the Resulting Social Practices&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Some authors points out the September Eleven (11/09) as their main event in the narratives, while others not. Akbar took the civil war in &lt;st1:place st="on"&gt;Kashmir&lt;/st1:place&gt; as his events while Simon added the impacts of globalization especially after the fall of communism. Most of the narrators also wrote from historical approach in terms of they traced to the whole carrier of Islam itself. Some narrators also put the relationship between Islam with other religious groups, most particularly the Christianity, including Hindu radicalism (as can be seen in Akbar’s writing), and the Jewish (as can be seen in Armstrong’s writing). The resulting social practices were ranging from the daily lives of the people in general to the government’s policy.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;1. The Narratives&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The first narrative was from Bernard Lewis in his two books that were written before and after 11/09. In his book that he wrote before 11/09, he argued that Muslims are caught up in a confused and resentful mourning over the loss of a cultural primacy that was once theirs and has now been lost (Geertz, pp. 28). He also points out how the Muslims worlds were changing through the history because the external factors which is the crucial events and changes in the world that surrounds them. He also brought in the Christian-Muslim history into his narrative. On the other hand, in his latter book that was written after the 11/09, he described the attacks as “the latest phase in a struggle that has been going on for more than four centuries” (Geertz, pp. 28). Moreover, he also mention about “the holy war and unholy terror” and argued that this had became a threat to the world as a whole. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The resulting social practice can be seen in the daily practices from the level of society up to the government, particularly in the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;US&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Through his consistency in producing his writings and his backgrounds, the American people recognized him as &lt;i&gt;the &lt;/i&gt;experts on Islam. His book became the best seller. Thus, the narratives and arguments in his book were very influential in creating public opinions, especially in the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;US&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Moreover, as he also an advisor to the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;USA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;’s vice presidents, his opinions were also influential to the policy-makers. According to Geertz, his narrative after 11/09 had been slightly shifted and became “intensely contemporary, close-up polemic designed to arouse the West, and most especially the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;US&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, to armed response”.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;One of the social impacts is the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;US&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; foreign policy in fighting terrorism or its tight immigration policies towards the Muslims to come to US. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The second narrative is written by M.J. Akbar. The event is civil war in Kashmir, originated in the history of conflicts between &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; and &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Each title in each chapter in his books reflected the way he presented the narratives, such as “the joys of death”, “circle of hell”, “history as anger” and so on. He wrote about the rise of Islam and its engagements with Christianity and then he focused on the “Jihad in the East”. Generally, the narrative was about the continuing war between the cross and the crescent in many places (the west, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Kashmir&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Bangladesh&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; and the destruction of Babri Mosque), including the rise of Hinduism radicalism and the appearance of Osama bin Laden. The messages were very clear that: (i) the Jihad is never over; (ii) defeat is only a setback in a holy war; (iii) the jihad goes on and; (iv)the stakes by now are nuclear. His narrative contributes to the creation of Islam’s images as a religion which legitimized and valued the attacks to other religion as a spiritual activity.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The third narrative was written by Thomas W. Simons Jr. His main event was over the entire course of its thirteen-hundred-year career and added the impacts of the globalization, particularly after the fall of communism (Geertz, pp. 29). According to Simon, the idea of globalization has emerged as common denominator in analyses of the world affairs. He argued that globalization is the main power in driving and directing the pace of change, including the Islamic society. He divided the history of Islam into: (i) the early Islam where most of them were lived in agricultural economy; (ii) 18&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; century and the imperialism which led to a “progressive simplification and brutalization of the increasingly revivalistic Islamic discourse; (iii) the 1970s globalization which led and driven by coal, steel, petroleum and information technology. He described Islam as “the world’s most powerful engine, agent, and vehicle of globalization, and … [its] most sharply contested battleground” (Geertz, pp. 29). It then caused the dispersion of religious authority, the weakening of the nation-state, the failure of “defensive modernization” and conduced to a new radicalism that caused the September eleven, thirty years later. Thus, he argued that the 11/09 attacks was the results of an old problem that originated at least 30 years before. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.4in;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The fourth narrative was by Karen Armstrong. She tacked and portrayed the course of Muslim history as a temporal unfolding from a revelatory foundation, the carrying forth of a settled faith into an unsettled world. She did not focus on any particular events, but she emphasizes on the historical aspects of Islam “through the eyes of faith of external history” in more comprehensive way. It included from the assassinations, wars, dynasties which was seen as temporal unfolding history as “primitive” to revelatory moments, for example Muhammad in &lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt; and &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Medina&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, the transmission of the Koran and so on. Her books also became the best seller. Moreover, she also brought the relationship between the fundamentalist groups in the Semitism religions (Islam, Christianity and Jewish), not only how these three religions were connected but also conflicted to each other (as can be seen in her book: “The &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Battle&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; for God” and “A History of God”). Viewing the whole carrier of Islam, her approach included accepting the Koran’s perspectives and values on things, prophet and prophecy. It gave information about Islam, throughout history and within a wider context, including its relationship to other religion, the power relation within the Moslem itself that created the assassinations, the dynasties and so on. It also perceived Islamic Society not only during the leadership of Muhammad, but also went beyond that. Therefore, her narratives brought a more comprehensive way in look at the problems. It also enabled the public to differentiate between the good Muslim (values) and the bad Muslim (practices).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;2. The Competing Narratives&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The narratives in the article, to some extend, were competing to each other. The competing narratives existed: (i) among narrators and; (ii) between Geertz and the narrators. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;1. Lewis and Armstrong&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The meta-narrative was the “understanding Islam”. Some narratives, like Armstrong’s, were more comprehensive than the others. Comparing to Lewis, Armstrong gave a deeper insight of what Islam is and also the fact that you could found the similar situation in other religion, while Lewis placed Islam as dangerous power, a threat to the world. As quoted by Geertz:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;table class="MsoTableGrid" style="BORDER-RIGHT: medium none; BORDER-TOP: medium none; BORDER-LEFT: medium none; BORDER-BOTTOM: medium none" cellspacing="0" cellpadding="0" border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="BORDER-RIGHT: windowtext 1pt solid; PADDING-RIGHT: 5.4pt; BORDER-TOP: windowtext 1pt solid; PADDING-LEFT: 5.4pt; BACKGROUND: rgb(204,204,204) 0% 50%; PADDING-BOTTOM: 0in; BORDER-LEFT: windowtext 1pt solid; WIDTH: 238.3pt; PADDING-TOP: 0in; BORDER-BOTTOM: windowtext 1pt solid; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial" valign="top" width="318"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;Bernard Lewis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="PADDING-RIGHT: 5.4pt; PADDING-LEFT: 5.4pt; BACKGROUND: rgb(204,204,204) 0% 50%; PADDING-BOTTOM: 0in; WIDTH: 238.35pt; BORDER-TOP-STYLE: solid; PADDING-TOP: 0in; BORDER-RIGHT-STYLE: solid; BORDER-LEFT-STYLE: none; BORDER-BOTTOM-STYLE: solid; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial" valign="top" width="318"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;Karen Armstrong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="PADDING-RIGHT: 5.4pt; PADDING-LEFT: 5.4pt; PADDING-BOTTOM: 0in; WIDTH: 238.3pt; BORDER-TOP-STYLE: none; PADDING-TOP: 0in; BORDER-RIGHT-STYLE: solid; BORDER-LEFT-STYLE: solid; BORDER-BOTTOM-STYLE: solid" valign="top" width="318"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;If the [Muslim fundamentalists] can persuade the world of Islam to accept their views and their leadership, then a long and bitter struggle lies ahead, and not only for America, Europe… is now home to a large and rapidly growing community, and many Europeans are beginning to see its presence as… a threat. Sooner or later, Al-Qa’ida and related groups will clash and the other groups will clash with the other neighbors of Islam – &lt;st1:country-region st="on"&gt;Russia&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;—who may prove less squeamish than the Americans [have] in using their power against Muslim and their sanctities. If the fundamentalists are correct in their calculations and succeed in their war, then a dark future awaits the world…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="PADDING-RIGHT: 5.4pt; PADDING-LEFT: 5.4pt; PADDING-BOTTOM: 0in; WIDTH: 238.35pt; BORDER-TOP-STYLE: none; PADDING-TOP: 0in; BORDER-RIGHT-STYLE: solid; BORDER-LEFT-STYLE: none; BORDER-BOTTOM-STYLE: solid" valign="top" width="318"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The historical trials and tribunalitons of the Muslim community –political assassinations, civil wars, invasions, and the rise and fall of the ruling dynasties –were not divorced from the interior religious quest, but were of the essence of the Islamic vision. A Muslim would meditate upon the current events of his time and upon past history as a Christian would contemplate an icon, using the creative imagination to discover the…divine kernel. An account of the external history of the Muslim people [is not] of mere secondary interest, since one of the chief characteristics of Islam has been its sacralization of history. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;2. Geertz: Which Way to Mecca&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Geertz also criticized the four story tellers. In his opinion, “Akbar, Lewis, and Simons see Islamic Civilization in the perspective of its reactions to what surrounds it, to what confronts it, and what it confronts – the west, the east, globalization – than it is to the promptings, whatever they might be, of its spiritual character. It is its encounters with others, rather than wit itself, that have shaped it”.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;He was also saying that, “The lack of concern with specifically religious conceptions and specifically spiritual motivation in most of the “understanding” Islam literature does produce something of a Hamlet without the Prince effect”. Moreover, he also points out the credibility and reliability of the narrators, for example he criticized Simon as “there are almost citations than there are sentences”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify" face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The article “Which Way to &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; “was a brief explanation about the competing narratives in the process and it also played as guidance to read those narratives, as well as the story tellers. There are a lot of narratives by different story tellers with different backgrounds, different perspectives, different emphasis, and different goals which could led to a misunderstanding Islam, but still, it all led to the main-narrative (Geertz pp. 30). And it was reflected in the title. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; is a very sacral place for Moslem, as their direction in praying. The direction to &lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt; is different from other places in the world, for example it is in the West direction from &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;, while it is in the North-East direction in &lt;st1:country-region st="on"&gt;Netherlands&lt;/st1:country-region&gt;, but all leads to &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mecca&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, as well as all writings and narratives leads to the meta-narrative, understanding Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;div id="ftn2"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;[1] &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.mnsu.edu/emuseum/information/biography/fghij/geertz_clifford.html"&gt;http://www.mnsu.edu/emuseum/information/biography/fghij/geertz_clifford.html&lt;/a&gt;, accessed on February 2006.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-6701670655778703630?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/6701670655778703630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=6701670655778703630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6701670655778703630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/6701670655778703630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/narratives-in-clifford-geertzs-which.html' title='The Narratives in Clifford Geertz’s “Which Way to Mecca?”'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8057195900517232416</id><published>2008-03-10T01:38:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T04:53:09.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Collective Action on Integrated Criminal Justice System (ICJS) for Violence against Women (VAW) Cases in Indonesia (2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="arial" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Integrated Criminal Justice System (ICJS) for Violence Against Women (VAW) Cases &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;in &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Women experience violence and torture both in situations of conflict and where there is no `formal’ conflict (P. Sen 1998) --as also apply in the case of &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. The number of domestic-violence has been increasing as explained before. The Indonesian legal system did not cover the domestic violence whether in the legal substance, structure and culture, for example, the criminal law procedures requires two witness minimum for evidence. Therefore, it is difficult to provide the evidences in the domestic violence cases.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;In additional, there were lack of gender awareness among the legal institutions and apparatus. Thus, the rights of women, both as victims and “forced” perpetrators were not recognized. Moreover, women often faced psychological pressures during the legal proceedings which derived from certain notion and perception about women that is embedded in cultural or religion.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: -0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Framing the Policy: The Legal Substances, Legal Structure, the Legal Culture and the Problem of Intersection&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The causes of ineffective legal system which is responsive in handling VAW cases are stemmed from the three pillars that form the legal system itself: the legal substance, the legal structure and the legal culture (INCW 2004).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Firstly, the legal substances refer to the material or the content of law and regulations related to VAW, including both substantive and procedural or administrative law.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;It encompasses not only the recognition and protection of women’s rights but also placing women as a subject and not as an object of cases during the legal proceedings. The conventions, UN Declaration and any other international law documents stand as a basis to eliminate gender biases within the existing laws and regulations. Many international legal documents related to VAW have not been properly adopted within the National legislation.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;It also causes by the lack of enforcement of such international documents. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Secondly, the legal structures involve the infrastructure and organization of legal institutions in handling VAW cases. The well-coordinated and well-organized legal institutions would create effectiveness and efficiency within the bureaucracy and administration of the legal proceedings. In many cases, many criminals could get away from the sentences because of “administrative justice” reason which cause by insufficient administrative requirements and procedures.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;It also related to how the legal institutions provide a gender-responsive service, infrastructure and information in handling the VAW cases such as: (i) the special units of investigation room for VAW cases within the Police Department; (ii) medical and/or psychological help for the victims; (iii) information and legal protection and assistances during the court proceedings.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Thirdly, the legal cultures involves the perception and understanding of the legal apparatus and the society on the issue of VAW. These perceptions are embedded in culture and religion, in relation to the perception of “good women”. Many people in Indonesia still believe that a good woman should not be seductive as to expose her body to the public, which could stimulate violence. Some people still believe that violence occurred because of the woman poses herself in a seductive way. In domestic violence cases, it also related to the concept of a good wife who has the obligation to fulfill (and submissive) to their husband’s needs. These conception of a seductive women reflected in the attitute of legal apparatus to the women as victims during the legal proceedings in which victims could be treated as the ‘criminal’ as reported by Indonesian National Commission on Women (INCW) and many other women’s organizations.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Elimination of Domestic Violence Act (2004)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;Following the Asian crisis which led to economic and political distress in 1998, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; conducted a series of legal reforms including strengthening the state machineries which mostly done through legislation. The democratic political atmosphere also created political spaces for women’s movements to integrate their interests in the legislation-making process. The strategy was mainstreaming two important conventions (CEDAW and UN Declaration on Elimination VAW) in the legislation. Therefore, it is more or less following Nussbaum’s top down approach.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;It was started with the EDV bill that had been prepared by a network of women’s movements since 1997. The Parliament finally passed it on &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:date year="2004" day="14" month="9" st="on"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;September 14, 2004&lt;/span&gt;&lt;/st1:date&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;It was based on the UN Declaration &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;on the Elimination of Violence against Women (1994) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;which affirming that VAW constitutes a violation of the rights and fundamental freedoms of women and impairs or nullifies their enjoyment of those rights and freedoms, and concerned about the long-standing failure to protect and promote those rights and freedoms in the case of VAW, as reflected in the preamble of the EDV Act.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The basis for the EDV bill was:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Humanity, justice and equality values.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The constitution (whicad been amended)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Law No. 7 Year 1984 on the ratification of CEDAW.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;National Action Plan on Elimination of Violence Against Women, 1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Law No. 39 Year 1999 on the protection of Human Rights and Law No. 26 Year 2000 on &lt;st1:street st="on"&gt;&lt;st1:address st="on"&gt;Human Rights Court&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;President’s Instruction No. 9 Year 2000 on Gender Mainstreaming&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The UN VAW Declaration defines domestic violence as: “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Physical, sexual and psychological violence occurring in the family, including battering, sexual abuse of female children in the household, dowry-related violence, marital rape, female genital mutilation and other traditional practices harmful to women, non-spousal violence and violence related to exploitation”. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Basically, the contents of the Indonesian EDV Act are:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;The Indonesian EDV Act&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The Main Arguments&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Every citizen entitled to rights to be secured and to freedom from any form of violence based on the &lt;i style=""&gt;Pancasila&lt;/i&gt; (the Nation’s ideology) and the Constitution.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Any forms of domestic violence are considered as violating human rights and thus, become crimes against humanity; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The state and society have to protect the victims of domestic violence, which are usually the women. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The EDV Act is based on the human rights, gender equality and justice, non-discriminatory and the protection for the victims.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The scope of the Act&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Domestic violence that occurs within: (i) the nuclear family (husband, wife and children); (ii) the extended families; (iii) the people who work and stay at the house, i.e domestic workers.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;An act of violence on an individual, particularly women.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Types of domestic violence&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Physical violence which causes pain, sickness and severely injured.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-align: justify; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Psychological violence which is any action that causes fear, losing self-confidence, and eliminating the capability to act, the feeling of helpless and psychological torture.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-align: justify; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sexual violence: (i) against people who stay and work at the house (i.e domestic worker); (ii) sexual violence against any person which is conducted within the house for commercial or any other purposes&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.4in; text-align: justify; text-indent: -0.15in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;·&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Economic violence, including if one limits and forbids his/her spouse to work which cause his/her economic dependency other one’s control.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The obligation to secure and protect the rights (the role occupant)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;In providing protection and rehabilitation for the victims, the EDV Act relies on the state,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;the legal system (the police, general attorney office, the judiciary and legal practioners), society in general (the medical profession, social worker and religious counselor) and from the family. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The EDV Act became a legal foundation in handling domestic violence which is not covered in any Indonesian legislation, particularly on the Criminal Code and the Criminal Law Procedures Code. In addition, the EDV Act introduces new legal proceedings in providing evidences where it only requires one witness and one eligible proof. Therefore, in the case of rape, the victim’s testimony and one &lt;i style=""&gt;visum et repertum &lt;/i&gt;or medical record from the doctor as a proof are considered legally enough for evidences. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;However, the EDV Act has some weakness and limitations. Firstly, table 4 shows the implementation of the capability approach and the reliance to the state in securing the rights and providing&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;the protection and rehabilitation without considering that the state (machineries) and the society is not gender-neutral and it raises the question of gender awareness and gender responsiveness of the state machineries, especially the legal institutions.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Secondly, it excludes marital rapes which stimulated public debates inside and outside the Parliament. There were 3 bills submitted by the Parliament, the Government and the Women’s NGOs (Indriati 2004). The Moslem conservative religious group in the Parliament did not agree that marital rapes as a form of domestic violence. However, the women’s movements played an important role as they were intensively advocating the EDV Act.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; They came to all meetings inside and outside the Parliament and formed an unofficial faction which was called by the media as the “balcony faction” (because they usually sit on the balcony during the Parliament’s sessions). The EDV bill was finally passed, with some notes from the religious party (the Reformation Faction)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;However, the EDV Act is necessary but not sufficient.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;It should be supported within a broader legal framework. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;As a response to increasing pressures from women’s movements, in 2004 after the general elections, the Parliament launched a national legislation program (&lt;i style=""&gt;Prolegnas&lt;/i&gt;) which consists of a list of prioritized bills in 2005-2009 to reform the gender-biased law.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Along with this, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;the Indonesian National Commission on Women (INCW)&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; initiated to coordinate the collective action for the ICJS in handling VAW Cases. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Collective Action for the ICJS for VAW Cases&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The collective action is focused on two areas. Firstly, the Parliament as explained above. Secondly, within the legal system as initiated by the INCW. It is involving the legal institutions, legal scholars and four influential women organizations (INCW, LBH-APIK, Derap Warapsari and Convention Watch). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;What and Whose Policy &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The collective action on ICJS for VAW Cases is a collective action within the legal system (the Supreme Court, the General Attorney Offices, The Legal Associations and the Police Department), the legal scholars and four women organizations under the coordination of the INCW. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Before the enactment of the program, there was an assumption that each institution did not have a gender responsive policy in handling VAW cases. However, it was found that they do have few internal policies related to VAW but it was ineffective, not well-coordinated, and not publish to the public. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;However, the policy is more general or focusing on the trafficking issue, not the domestic violances cases. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The policies that were found are:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Table 5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;The VAW Policy within the Legal Institutions&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid"  style="border: medium none ; border-collapse: collapse;font-family:arial;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 113.4pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="151"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Institution&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: solid solid solid none; padding: 0in 5.4pt; background: rgb(217, 217, 217) none repeat scroll 0% 50%; width: 348.85pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" valign="top" width="465"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Policies&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 113.4pt;" valign="top" width="151"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The   Supreme Court &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 348.85pt;" valign="top" width="465"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Gender training as part of   the education training for the judges (male and female) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 113.4pt;" valign="top" width="151"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The General Attorney Office&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 348.85pt;" valign="top" width="465"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The establishment of &lt;span style=""&gt;Gender Focal Point.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The   internal guidance for each general attorney in handling cases on robbery with   violence and rape in which the victims are usually women&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(SEJA No. B-409/ES/8/1996)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;   &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 113.4pt;" valign="top" width="151"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The Police&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 348.85pt;" valign="top" width="465"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Gender   training for 500-1000 policewomen, particularly on &lt;span style=""&gt;traffiking&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;The establishment of 230 special   service investigation rooms in 26 provinces, especially for those citizens   who have trafficking cases.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The   establishment of &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;18 unit Integrated Service Centre, for cases   related to women and children who need legal, medical and psychological help.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;In additional, the hospital (32) and NGOs (137) also   provide centre for VAW cases.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid; padding: 0in 5.4pt; width: 113.4pt;" valign="top" width="151"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The Legal Practitioner&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="border-style: none solid solid none; padding: 0in 5.4pt; width: 348.85pt;" valign="top" width="465"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The establishment of legal aids.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The collective action program was two years program (2003-2005) focusing on the strengthening the legal institutions and was designed as:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;The Site of Struggle: The Policy Environment of Collective Actions&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;To conclude, as a collective action, the policy should be put firstly, in to a broader context of a policy environment, so we could trace the question of who informs the policy making. The policy environment can be seen as:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;This is the site of struggle in collective action. The main policy maker (the Government and the Parliament) are responsible for setting up the legal framework which then elaborated by each legal institutions within the legal system domain. The public domain, the medical profession and the social workers are the groups who informs and influence the policy-making process, whether to the main policy maker, the legal system or the public domain. On the other hand, the women’s movement is located in the public domain along with the NGOs. However, each bubble and each box within also represent a sub-site of struggles which often contradicts to each other; for example, the public domain is a site of conflicting arenas between each box within it and reflected in the Government or the Parliament as each box informs their knowledge and interest to them. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;The Problems and Limitations&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;However, there were some limitations to the policy and the collective action. Firstly, putting the collective actions initiated by the women’s movement and the INCW into the policy environment picture, the collective actions were limited to some part of public domain giving informations and pressures to the main policy maker and the legal system. Moreover, it only focuses on reforming the legal substances through the EDV Act (with some limitations as explained before) and the legal structures. However, it could not solved the problems of legal culture (embedded in social structure, culture and religion) which made the limitation in the EDV Act (by excluding the marital rape) and ineffectiveness of the legal infrastructures (which had been reported that it was used as a place for reporters to take a break during their duties in getting the criminal news from the Police). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Secondly, the VAW approach which emphasizes on the women creates a negative impression on the collective actions itself. There has been increasing negativism related to VAW approach in domestic violence cases. Many cases show that men could also become the victims of domestic violence and women could also become the perpetrator against her husband or her children. Moreover, it also created negative sentiments over the women’s movement and even to the word of “feminist” itself which often placed as an opposition to religious norms and the good versus ‘radical’. It is reflected from the statements released by the Indonesian Council of Islamic Scholars (the MUI) to a daily conversations through internets.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Thirdly, the reliance to the State created some problems. Not only the problems of cultures which was behind certain attitudes, but also the problem of financing such legal services in for special legal treatments for VAW cases, as also explained by Sen (1998) for those who fights VAW on the basis of efficiency arguments that VAW cases needs a lot of budget. It&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;also relies on the power relations within the organizations which often do not give recognition and rewards for their apparatus who have gender awareness as reported by many gender-awareness-trained-policewomen (INCW 2004). Moreover, they also faced the unequal power relations from the policemen. It is well-known among them that a policeman is considered more potential that a policewomen in such a field work that can be considered as more “masculine”. These policemen were reported as not being pro-active in handling domestic violence questions and on the contrary, asking questions which cornered the victims (&lt;i style=""&gt;ibid&lt;/i&gt;). Therefore, it created gender-blindles within the organization. However, some retired policewomen established a women’s organization (DERAP Warapsari) which is also part of the network of INCW which advocating the collective action. It is hoped that they could help in giving pressures for reform within the Police Department.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;The Problems of Intersection&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;The problem becomes more complex when we take on board the issue of intersection (Crenshaw 2000). According to the UN VAW Declaration (1994), some women’s groups are more vulnerable than the others. In the context of Indonesia: religions, cultures, social status and age. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Firstly, different religions and cultures form different types of marriage. Islam, the dominant religion, recognize the polygamy which is accomodated in the Indonesian marriage law (although in some part of Indonesia, there are also found polygini marriages practices). On the other hand, especially for public servants, the state only recognizes the first wife. Thus, a women who is a second wife and whose husband is a public servant becomes more vulnerable for domestic violence. She becomes even more vulnerable considering the society’s perception on the second wife who is considered as a bad women because she “steals” somebody’s husband. Thus, the (Islamic) marriage law should also be reformed. The influential religious organization are not gender-responsive to this issue which can be seen through their statements as explained before and also the polygamy campaign (a polygamy award, books on the “beauty” and the benefits of polygamy marriages and so on). However, the emergence of moslem feminists gives a new hope in providing new information and knowledge in re-reading and re-interpreting the existing gender-biased implementation of Quranic verses.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Secondly, although the domestic violence can happen to women despite her social status, but it determines the access to legal proceedings. Therefore, it needs infrastructures and resources to reach the people within the remote areas. On the other hand, a bottom-up approach to collective action could be an alternative solution. Some women’s organizations provide a free legal services for domestic violence cases. In return, after completing the legal proceedings, they become the legal apprentice to the organization and help to assist&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;the ‘new’ victims. Therefore, it builds a network accross the social status. Since in many areas, people usually consult their domestic problems to the local religious leader, the challenge is to give pressures to these informal organizations to be more gender-responsive in handling the domestic violence problem regarding the enactment of EDV Act. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;Thirdly, the younger women are more vulnerable to domestic violence than older women, especially if her mother is economically dependent to her husband. For example, in a case where a daughter had been raped by her step father, her mother went to the general attorney office, asking to not press “hard” charges against her husband (INCW 2004). She was crying because she economically dependent to her husband. One general attorney admitted her dilemma when she handled this case. On one hand, if she put maximum charges and the judge approve it, then it would destroy the economic life of both mother and daughter, while on the other hand, she thought that giving him maximum charges is the way to bring justice for the daughter.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;In practice, this “moral dilemma” determines the responsiveness of the legal apparatus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in; font-family: arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Conclusion &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;To conclude, the impacts of human development framework are: (i) the top-down approach to secure women’s rights related to VAW cases, particularly on domestic violence in Indonesia by the enactment of EDV Act (2004) and the gender mainstreaming in Parliament through the &lt;i style=""&gt;Prolegnas&lt;/i&gt;; (ii) The &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;reliance on the state to provide necessary actions and infrastructure needed. However, it did not recognized that the state is not gender-neutral. Moreover, it created the problem of the state capacity: (i) to reform their legal culture (which is stemmed from the unequal power relation within state machineries) and; (ii) to finance the infrastructure and resources needed. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;On the other hand, the collective action initiated by the INCW and the women’s movement was framed in a broader interconnected policy environment as a site of struggle. It posed the challenge to build a broader network, involving formal and informal groups within the society. Moreover, it also posed the challenges to critically analyze the VAW approach to domestic violence and the problem of intersection in order to present a better understanding of violence cases among the society, particularly to the religious groups.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 2px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; The preamble of Indonesian EDV Act states that: (i) every citizen entitled to rights to be secured and to freedom from any form of violence based on the Pancasila (the Nation’s ideology) and the Constitution. (ii) Any forms of domestic violence are considered as violating human rights and thus, become crimes against humanity; (iii) the state and society have to protect the victims of domestic violence, which are usually the women. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; In 2005, there were seven prioritized bills&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;which are: the Criminal Code, the Criminal Procedures Code, the Witness Protection, the amendment of family law, the amendment of health law, the citizenship bill, and the anti-pornography bill. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; The Indonesian National Commission on Women was an independent institutions established by the Government in 1998 as a response to the VAW during the May riots which caused many women (especially from the Chinese ethnic) were being raped. The establishment of INCW is to prevent, handle and eliminate any forms of VAW. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8057195900517232416#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; For an interesting conversation can be seen in the wanita-muslimah (meaning: Moslem women, &lt;st1:personname st="on"&gt;wanita-muslimah@yahoogroups.com&lt;/st1:personname&gt;), a mailing-list groups in the internet whose members vary: women, men, different states, regions, religions, backgrounds and lines of thinking. This mailing list has its own website (&lt;a href="http://www.wanita-muslimah.com/"&gt;www.wanita-muslimah.com&lt;/a&gt;) and also has produce a genderpedia website (www.genderpedia.org). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:85%;color:blue;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-8057195900517232416?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/8057195900517232416/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=8057195900517232416' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8057195900517232416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/8057195900517232416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/i.html' title='Collective Action on Integrated Criminal Justice System (ICJS) for Violence against Women (VAW) Cases in Indonesia (2)'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-1389155538763199273</id><published>2008-03-10T01:25:00.001-07:00</published><updated>2008-03-10T04:54:01.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Collective Action on Integrated Criminal Justice System (ICJS) for Violence against Women (VAW) Cases in Indonesia (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;I.&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Introduction&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;The collapse of an authoritarian government under Soeharto in 1998 marked the beginning of the legal reforms in Indonesia. The democratic atmosphere that came with the reform opened up political spaces for women’s movement under the framework of the legal reform. One of the most important moments was in 2004 when the Parliament finally passed the Elimination of Domestic Violence Act (EDV Act) after the women’s movement struggling for it for seven years. It was followed by the new political package act&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; passed by the Parliament which gave 30% quota for women in the Parliament and the introduction of a list of priotized bills related to women’s interests under the &lt;i style=""&gt;Prolegnas &lt;/i&gt;(national legislation program) 2004-2009 by the new elected Members of Parliament in 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;The advocacy for the EDV Act was done by a network of various NGOs, groups and individuals on the basis of crimes against humanity. It is hoped that the Anti-Domestic Violence Act and the bills that are being discussed in the Parliament could solve the Violence Against Women (VAW) cases in Indonesia which has been increasing over the years. According to the 2004 Annual Report of National Commission on Women, the number of VAW increased 62.9% in 2001-2002 and 14.9% in 2002-2003 as shown in table 1. Almost half of the cases were domestic violence. As elaborated in table 2, there were 2703 domestic violence cases against women out of 5934 or 46% cases in 2003. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;However, having an EDV Act is necessary but not sufficient. The implementation of the Act highly depends on a broader legal system that supports it. Thus, the struggle still continues. The Indonesian National Commission on Women has been coordinating the advocacy for an integrated criminal justice system that is responsive to handle VAW cases. Basically, the objective is to reform the legal substances, legal structures and legal cultures within the legal system through a collective action that involving the judiciary, the attorney general office, the legal professionals and the police department.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; The reform was driven by the needs to secure women’s rights in the legal proceedings, especially as the victim and (forced by situation) perpetrator.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The objective of the essay is to elaborate how the Anti Domestic Violence Act as policy was being framed? And how we link it with the human development framework? What are the changes brought by the policy and what are the limitations? On the other part, it would also elaborate how a gender awareness and responsiveness approach in an integrated criminal justice system (ICJS) for VAW Cases as a collective action from the State Machineries (the legal system in particular) in Indonesia was being articulated and implemented?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;To answer the question, the essay would explain a brief introduction to discussion on gender-based violence and the influences of the human development framework, as the theoretical framework. It will follow by how the policy was being framed, in relation to the Convention on Elimination of Discrimination against Women (CEDAW) and the UN Declaration on Elimination of VAW (The UN VAW Declaration). Later on, the essay would elaborate the EDV Act –changes and limitations—, the policy environment, the collective action on ICJS for VAW cases and its problems and limitations and also problems of intersections. &lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Gender-Based Violence within the Human Development Framework &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:arial;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Human Development is a process of enlarging people’s choices. The most critical of these wide-ranging choices are to live a long and healthy life, to be educated and to have access to resources needed for a decent standard of living. Additional choices include political freedom, guaranteed human rights and personal self-respect. Development enables people to have these choices &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: right;font-family:arial;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Human Development Report, 1990)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;In 1990s women’s movement around the world had make enormous struggle against VAW at different level, particularly to bring forward to the public the issue of VAW which had been seen as a private matter (Nair 2001). Violence against women has been seen as an obstacle to development, because it would constrain the efficiency of projects, limiting women’s participation and denying their human rights (Carillo 1992; P. Sen 1998) It is also considered as contradiction to Human Development (HD).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The HD framework is used as a model of development by the United Nation Development Program (UNDP). Basically, it is a model of development that places the human actor at the centre stage as a response to the negative impacts from development mainstream thought developed by the neo-liberals.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Its objective is towards human needs and promoting human values (Carillo 1992; Truong 2006). Human development is defined as a concern with the enlargement of people’s choices; it is a process which weaves development around people, not people around development (UNDP) or a development with a human face (UNICEF). Violence against women became a central issue, because it contradicts the process of widening choices (Bunch and Carrillo 1992 cited in P. Sen 1998).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Gender-Based Violence&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  &gt;In general, violence could be explored as:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;structural violence, related to totalizing knowledge and planning which has a historical and cultural dimension (Escobar 1992); rights denial, related to reproductive and sexual rights (Gita Sen 2005) and violence related to the issue of masculinities (Greig et al 2000). For the purpose of this essay, the term violence refers to a combination of structural violence and violence as rights denial. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  &gt;According to Escobar (1992), t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;he rise of social planning and increased intervention of the state and society does not take into consideration the social injustice of women at the domestic level and shapes the social structure accordingly by constructing themselves as subjects. He also addressed the issue on how the knowledge possessed by rural women and indigenous groups are not recognized by the planners particularly on patriarchy, violence and social structure. Thus, the planners construct a different way of thinking and acting for conceiving social change where social change is a result of a change in human experience with proper analysis and planned changes as objects. Therefore, the challenge is how to implement this bottom-up approach in capturing personal experiences on violence into policy planning. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  &gt;On the other hand, violence as rights denial elaborated by Gita Sen is looking at the social and economic subordination and oppression of women which entails the gender power relations in the household and the society where women’s identities are hidden behind the close doors of the household and violation against them is occurred. The violation of women’s body against its autonomy and freedom at the domestic level does not consider their personal concerns and demands where growing inequalities of wealth, property inheritance and unequal distribution of income makes women prone to domestic violence. Moreover, some cultural practices may lead to acts of VAW such as circumcision and early marriages and also, ideology factor plays an important role. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Human Development Framework&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The HD Framework &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;was developed by Al-Huq,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Martha C Nussbaum and Amartya Sen, where the Sen’s and Nussbaum’s Capabilities approach form its fundamental arguments. Sen sees capabilities as endowments which linked to the causes of poverty. He argues that by focusing on capability would give more information on the options and choices available to the person.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;While N&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ussbaum links the capabilities with the human rights and social justice related to the VAW. She introduces 10 basic human capabilities as “being able to” which are &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;fundamental human entitlements or rights that should be adopted in the constitutions of all nations (Nussbaum 2005)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. It is a way of assessing substantive justice which goes beyond written legal documents. While Nussbaum is entrusted the state to do the task in securing such entitlements through constitution or legal-binding documents (a top down approach), Sen on the other hand is more focusing on the household-community relationship in the form of a collective action where rights should be the goal of a society (a bottom-up approach). However, these combination leads to the implementation of HD framework which focuses on democratizing public spaces, cultural and juridical reforms to emphasize human creativity, participation, accountability or to put it simply, a humanistic planning. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;C.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;VAW within the Human Development Framework&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;In relation to VAW, Nussbaum argues that VAW undermines the interconnected 10 capabilities (Nussbaum 2005) which summarized as follows:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Life&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Women lose their lives through VAW including at the hands of spouses or partners:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bodily health and integrity&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Violence have a tremendous impact on health even when they are not lethal, i.e rape has a major impacts to woman’s physical and emotional health.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bodily integrity&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bodily integrity includes ‘‘being able to move freely from place to place’’ and requires ‘‘having opportunities for sexual satisfaction and for choice in matters of reproduction’’. Sexual violence annul this capability.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Senses, imagination, thought&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;VAW and the fear of it cripple imagination, thought, and the enjoyment of the senses, as well as hindering access to education, to the freedom of speech, and to artistic creation. The threat of bodily violence is a way in which women have for centuries been silenced, prevented from using their thought and imagination to stake out a place in the world.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Emotions&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;VAW hinders women’s emotional development by fear and anxiety. Instead of anger and rebellion, women feel guilt and fatalism.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Practical reason&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;VAW creates fears of violence and thus, women could not form a conception of the good and engaging in critical reflection about the planning of her life.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Affiliation &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The threat of violence limits women’s capability to form affiliations. In the family, actual violence deforms marital love and/or the relationship of female children to their parents and their surrounding world. In larger societies, it limits their social and political participation.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Other species and Play&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By affecting mobility and independence, VAW affects women’s ability to have a meaningful &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;relationship to the world of nature and to &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;woman’s ability to enjoy leisure, laughter and &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;play&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Control over one&lt;st1:personname st="on"&gt;'&lt;/st1:personname&gt;s environment: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;political and &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;m&lt;span style=""&gt;aterial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;It influences woman’s ability to participate in politics, employment and to control both land and movable property.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;According to P. Sen (1998), the use and meaning of violence is connected with power. It is broadly the case that in most societies, social, economic, political, and interpersonal power remains with men: power is socially gendered. In this context, violence is an expression of power, a means through which people seek control (as the examples below illustrate), and a gendered practice (P. Sen 1998). Thus, WAV became an obstacle to women’s control over their own lives and to women’s choices being widened. In additional, VAW is a &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;worldwide&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;erious problem (Gita Sen 2005) which needs an enabling environment that links family, community, state and non-state institutions in on hand and women’s and society empowerment in a form of collective actions to modify and remove material and cultural biases conducive to violence on the other (Truong 2006).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nussbaum defines three types of capabilities which can be seen as the basic capabilities, the internal capabilities and combined capabilities (internal capabilities and external environment).&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Public policy should promote internal capabilities, and make available the external institutional and material conditions. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; The new political package acts consist of Political Parties Act (Law No. Year ), The Structure and Organization of (National and Local) Parliament Act (Law No. Year ) and&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;General Election Act (Law No. Year)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; The Indonesian National Commission on Women Annual Report 2004.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; The term “forced by situation” perpetrator refers to those women who commit a crime caused by frustration of having abused by her spouse for a long time. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; The neo-liberal reforms which gives priorities to trade has impacts on the poor and vulnerable women, children, minority groups, resilience of society. It measures the progress of development based on the economy fares as reflected in Gross National Products (GNP), while on the other hand, the HD Development measures the quality of life as how well people are doing as reflected in their Human Development Index (HDI). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Four pillars from Huq are e&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;quity as equality of opportunities, productivity, sustainability, empowerment. He died in 1990s during his works for UNDP.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span lang="EN-GB"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=1389155538763199273#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Basic capabilities includes innate qualities necessary for more advanced capability (practical reason and imagination).&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;Internal capabilities are built on pre-existing capabilities through training, education (socialization and structured educational environment). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-1389155538763199273?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/1389155538763199273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=1389155538763199273' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1389155538763199273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/1389155538763199273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/collective-action-on-integrated.html' title='Collective Action on Integrated Criminal Justice System (ICJS) for Violence against Women (VAW) Cases in Indonesia (1)'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5072268585370325930</id><published>2008-03-04T17:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T01:55:38.660-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Perluasan Cakupan Perjanjian Pra Nikah</title><content type='html'>Baru-baru ini, saya ikutan sebuah milis lagi. Dan masih pasif, meski sesekali jemari ini gatal ingin mengomentari. Tapi entah kenapa selalu tidak jadi. Padahal seperti biasa di kepala saya, si "anjing" telah menggonggong dengan nyalaknya, berteriak minta dikeluarkan. Alasan terbesar adalah karena pemikiran ini sudah "basi". Uraian berikut ini sebenarnya hasil diskusi dengan teman-teman di milis wanita-muslimah (wanita-muslimah@yahooogroups.com), sebuah milis yang saya bantu memoderatorinya. Buat yang belum tau milis ini, silakan klik disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik semula, isu yang sedang berhembus di milis yang baru saja saya ikuti ini adalah isu "klasik" poligami. Dibilang klasik karena substansi debatnya ya itu-itu aja. Alasan dari dulu dari pihak yang pro dan kontra ya itu-itu saja. Niat untuk bisa keluar dari yang "itu-itu" saja yang dulu melahirkan gagasan ini di milis wanita-muslimah. Mungkin sebelumnya perlu dijelaskan ulasan singkat argumentasi yang pro dan kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Pro:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mau tidak mau, poligami ada di Qur'an sebagai sesuatu yang dibolehkan. Dibilang mau tidak mau maksudnya, terlepas dari bagian yang menjelaskan sulitnya syarat poligami yang menjadikannya hampir tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki, poligami dibolehkan. Ini intinya. Mau tidak mau lagi, poligami dibolehkan dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, UU Perkawinan (berikut PPnya) dan KHI. Meskipun diberlakukan dengan pembatasan, tapi dibolehkan. Ini intinya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak semua poligami jelek. Tidak semua poligami menindas hak perempuan dan anak-anak. Hal ini didukung dengan bukti poligami juga ada yang berbahagia dimana para suami dan istri-istrinya saling rukun sentosa serta poligami adalah bentuk perkawinan yang mereka sepakati. Lebih jauh lagi, poligami juga diyakini bermanfaat secara ekonomi manakala istri-istri secara optimal dimanfaatkan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kontra&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Poligami melanggar hak-hak perempuan dan anak. Buktinya? Kasus-kasus pelanggaran hak-hak istri dan anak dalam perkawinan poligami. Poligami banyak juga yang memicu konflik antara anak-anak. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Poligami adalah selingkuh yang dilegitimasi dan sama sekali tidak &lt;em&gt;nyunnah&lt;/em&gt;. Kebanyakan poligami dilakukan dengan perempuan yang lebih muda, lebih segar, lebih asoy, lebih &lt;em&gt;kinyis-kinyis &lt;/em&gt;:-) Mana ada yg seperti Rasulullah yang menikahi para perempuan tua, janda-janda korban perang dsb?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Alasan poligami melindungi perempuan sangat diragukan. Kenyataannya, sebagian besar poligami dilakukan karena menuruti nafsu saja. Kalaupun alasan menolong perempuan dikedepannya, kita hidup pada jaman dimana untuk menolong perempuan, tidak perlu dilakukan dengan menikahinya. Kecuali mungkin di Amerika, demi &lt;em&gt;green card&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5072268585370325930?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5072268585370325930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5072268585370325930' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5072268585370325930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5072268585370325930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/perluasan-cakupan-perjanjian-pra-nikah.html' title='Perluasan Cakupan Perjanjian Pra Nikah'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-5047471128520348354</id><published>2008-03-02T21:32:00.000-08:00</published><updated>2008-06-05T00:14:19.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legislasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Bumerang Ranperda Moral</title><content type='html'>Baru-baru ini saya mulai "turun gunung" mengikuti mailing list lagi. Satu hal yang sebenarnya sudah lama saya tinggalkan. Masih pasif, membaca-baca. Salah satu yang saya ikuti kebetulan milisnya para feminis. Perdebatan yang sedang hangat waktu saya pertama kali saya jadi member sekitar bulan Januari 2008 lalu adalah soal Ranperda Kota Depok yang melarang ciuman di depan publik selama 5 menit. Ini salah satu Ranperda yang "lucu". Bukan kali pertama ada Ranperda yang "lucu", tapi tetap saja kita masih "tertawa" (dengan miris) dan berespon terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari kacamata Metodologi Pemecahan Masalah (MPM) dalam perancangan undang-undangan, hal ini bisa langsung dipatahkan di langkah pertama, penentuan masalah sosial. Tidak jelas masalah sosial apa yang hendak diselesaikan. Cara berpikirnya simple saja. Sesuatu itu dilarang, apalagi tindakan tertentu yang sangat-sangat spesifik, ciuman di depan publik selama lima menit,  umumnya karena banyak orang yang melakukan itu dan berdampak pada masyarakat, tidak saja melanggar norma sosial masyarakat namun dampak langsung lainnya.  Lantas, coba lihat sekitar. Ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak &lt;/span&gt;sih di sekitar kita, orang-orang yang berciuman di depan publik lebih dari 5 menit? Saya rasa tidak ada. Masyarakat kita masih sopan. Belum se-bebas Singapura misalnya, untuk urusan ciuman di depan publik. Kalaupun tindakan ini dilakukan, saya rasa masyarakat kita masih "tau diri" dengan tidak melakukannya di ruang publik yang tidak benar-benar "publik" atau tempat publik yang tertutup, misalnya di kafe-kafe atau pub-pub remang-remang. Itupun perlu penelitian juga, apakah benar ada yang berciuman lebih dari 5 menit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sini perdebatan usai. Namun, bukan ini yang mau saya bahas. Saya tergelitik melihat berbagai jenis respon dari masyarakat, terutama mereka yang secara konsisten menentang kelompok para pengusung moralitas berbalut nilai keagamaan tertentu karena peraturan jenis ini umumnya berdampak langsung terhadap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, peraturan ini justru memicu "pikiran-pikiran dosa". Ia menjadi stimulus yang kuat bagi mereka yang tadinya memiliki pikiran yang tidak ber"dosa" menjadi liar ingin melakukan "dosa-dosa" yang dicoba dicegah oleh Ranperda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa dilarangnya 5 menit?"&lt;br /&gt;"French kiss kali ya"&lt;br /&gt;"Tapi apa iya, sesingkat-singkatnya french kiss, lima menit tetap waktu yang membuat bibir jadi pegel"&lt;br /&gt;"Atau jangan-jangan sudah dibuat percobaan sendiri, kalau batas 5 menit itu adalah batas waktu yang cukup bikin pegal bibir atau batas waktu yang dianggap cukup untuk menimbulkan kerugian di muka publik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lain meresponnya secara ekstrem:&lt;br /&gt;"Mungkin orang-orang yang melarang itu tidak tau betapa nikmatnya ciuman"&lt;br /&gt;Yang paling ekstrem, ada yang melontarkan gagasan untuk melawan Ranperda ini dengan melakukan aksi berciuman di depan publik. Biar dramatis, dilakukan oleh puluhan pasangan suami-istri dan dilakukan di tempat publik yang benar-benar ramai. Bandara jadi pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya jadi teringat dengan filosofi sederhana seorang ibu yang justru tidak mau melarang-larang anaknya. Sedari kecil anaknya sudah dibekali pengetahuan soal seks. Bahkan meranjak SMP pun, "ijin pacaran" sudah keluar. Alasannya sederhana saja, anak kalau dilarang malah makin nakal. Lebih baik diberitahu, diberi batas-batas dan "wanti-wanti". Dibuka diskusinya sehingga bisa terawasi daripada dilarang dan malah jadi liar. Menggunakan asumsi efek terbalik. Kebanyakan orang tua tidak berani menanggung resiko ini, tapi ibu itu berani keluar dari mainstream ibu pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pola yang sama berlaku juga di perancangan peraturan. Peraturan yang mencoba mengatur moralitas dengan pendekatan yang sangat represif, tidak dewasa dan tidak bijaksana layaknya seorang orang tua yang seharusnya, terbukti justru malah jadi pemicu orang-orang untuk berbuat "dosa", yang ironisnya adalah melawan dari tujuan peraturan itu sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5711408449328448999-5047471128520348354?l=nurbayanti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurbayanti.blogspot.com/feeds/5047471128520348354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5711408449328448999&amp;postID=5047471128520348354' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5047471128520348354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5711408449328448999/posts/default/5047471128520348354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurbayanti.blogspot.com/2008/03/bumerang-ranperda-moral.html' title='Bumerang Ranperda Moral'/><author><name>herni sri nurbayanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02256987121040537652</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_WxvimlDkhh4/TDf6vZ1wQXI/AAAAAAAAAGM/ld-UJ89-oOg/S220/herni+profil+pshk.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5711408449328448999.post-8918424580445465627</id><published>2007-12-29T00:35:00.000-08:00</published><updated>2008-03-10T04:45:47.049-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perempuan'/><title type='text'>Women’s Representation in the Parliament: From Rhetoric to Reality (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The Convention on the Political Rights of Women 1952 is one of the international documents which stand as a universal political statement of women’s political rights.&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; However, women have made little significant progress with respect to their representation in national politics despite the fact that they generally construct half of the population of a nation. The number of women’s representation in the parliament are varying across countries, ranging from 0% in the United Arab Emirates to 43% in Sweden (Paxton and Kunovich: 2003). On average, women composed 14% of national worldwide (January 2002). &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The Beijing Declaration 1995, the most updated international law instrument on women’s rights, emphasizes the importance of w&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;omen&lt;st1:personname st="on"&gt;'&lt;/st1:personname&gt;s empowerment and their full participation on the basis of equality in all spheres of society, including participation in the decision-making process and access to power as a basis for the achievement of equality, development and peace.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8918424580445465627#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; It also &lt;span style=""&gt;elaborates the prerequisites and necessary conditions to ensure women’s political rights. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;The problem of under representation of women in politics leads to the importance of women’s access into the political positions and to ensure that women are not isolated in political life. An affirmative action is needed to balance the level playing field for women in politics which previously have been reserved mostly for men. Nowadays, the quota system is introduced as a fast track, specifically in countries where women only constitute a small minority in parliament. However, the implementation of quota systems also depends on the norms and values embedded within the social, economic and political structures of the society.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The purpose of the essay is to elaborate; (i) the implementation of the quota system in the Parliament; (ii) the constraints faced by women and the strategy that has been used to advocate women’s interests in politics in general, and in the parliament in particular. The paper would explains the WID and GAD as the two mainstream approaches in development policy-making, the introduction and the implementation of the quota systems and the role of women’s movement in creating political space for women by comparing two study cases, the Scandinavian Countries&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8918424580445465627#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; and Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The Scandinavia countries are known for their highest number of women’s representation in the world, while &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; has just applied the 30% quota in 2004 election for the first time&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8918424580445465627#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; and followed by the promotion of gender-mainstreaming program by the Indonesian Government and the Parliament in 2005. The two case studies show the different process in increasing women’s representation and also different tradition and strategy of women’s movement in advocating their interests in the Parliament. Therefore, it would be interesting to compare those two case studies, between developed and developing countries.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The paper argues that creating a political space in the parliament for women by accelerating the number of women’s representation is necessary but not sufficient. The efforts to have a meaningful women’s participation in politics, should not only focus on the numbers of women’s representation, but also to recognize that there are many factors (i.e. social, economical and ideological factors) that construct the power relations in creating the political space for women in particular. The essay would elaborate the parliament as a gendered institution in identifying the barriers to women’s representation with emphasizing on the ideological factor. Moreover, it also brings the issue of the role of women’s movement in advocating their interests and the importance of having gender perspective in the legislation-making process. Therefore, to ensure that women are not isolated from the political life in the Parliament, is to reconstruct the gendered level playing field, including to have a gender perspective embedded in the system within the Parliament (Nurbayanti: 2004) and to build a strong women’s movement.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                                        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;WID and GAD Approach &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Inequality, exclusion and under representation in politics are the main problems faced by women in general. Thus, the main objective of the development programs is to create a political space for women who have been isolated from politics. Hence, the objectives of the development programs have been: to increase women’s representation in terms of to move from political exclusion to inclusion and to empower women in order to achieve gender equality. In order to achieve those objectives, there are two critical approaches to development policy-making from the feminist perspectives, which are the Women in Development (WID) approach and the Gender and Development (GAD) approach. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The WID approach was promoted by the feminist policy entrepreneurs within the development agencies in the early 1970s (Goetz: 1997). It is based on the liberal neo-classic economics and the modernization theory a&lt;span style=""&gt;nd&lt;/span&gt; aims at improving women’s educational and employment opportunities, physical and social welfare and also political representation. &lt;span style=""&gt;Modernization status would reflect through individual choice and achievements where women were not necessarily disadvantaged within this system. The problem was to ensure that benefits of modernization reached women, since these benefits were generated in the modern sector and the cash economy, via the market, the solution laid in improving women’s access to the market and the public sphere (Kabeer: 1994, p. 11-39). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;herefore, the key to WID is integrating women into the system so that they could participate and get the benefits from the development and modernization process. This women-centric approach focuses on women’s access in all public spheres and women’s empowerment, which includes integrating women into the political arena by increasing their representation in the political positions so that they are politically empowered. However, as women became more empowered and had more access into the public sphere, still there have not been significant changes for them. Thus, the slow progress in equalizing power in gender relations has led to the shifting from the WID approach to the GAD approach. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Basically, the GAD approach adds new elements to WID approach, which recognizes the importance of redistributing power in social relations. It criticizes the WID approach for not taken into account the power relations existed in the system which is dominated by the male-norms and gender biases. The playing field itself is not gender neutral. Thus, women would enter into the social, economic and political structures which already maintained and even preserved inequality (Rai: 2002).&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;The key to GAD is challenging the power relation within the system or the society and leveling the playing field by changing institutional rules. In the process, it aims at reconstructing the social relations between men and women and thus, involving not only women, but also men (Goetz: 1997). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;According to Pedersen and Webster, political space is linked to democratization and the broad range of structural and institutional reforms. Political space is also being contested and challenged constantly where the social actors would seek to change institutional channels, to modify discourses and to reconstruct social and political practices. Moreover, it demands a focus upon not just the institutional structures in place, but also the possession of political agency with respect to these institutions (Pedersen &amp;amp; Webster: 2002, p. 1-12). Therefore, to open a political space for women is both to have a political will from above and also to articulate the women’s political agency from below. Thus, the introduction of quota systems is considered as an intervention from above (as a form of political will) and also the women’s movement as a form of articulating their political agency, in which both of them are affected by the norms and values embedded in social, economic and political structures of the society. The quota in this essay refers to women’s representation in the Parliament which has the legislative powers and representative features. It is also a forum in which policies and political issues can be openly discussed and scrutinized (Heywood: 2002, p. 313). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;The Quota System: Necessary but Not Sufficient &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;There are two tracks to increase women’s representation, which are the incremental track --also known as the Scandinavian model and a quota system as a fast track. The Scandinavian model based on the perception that equal representation may take many decades, but will be achieved in due course as a country develops. Thus, it requires that women have already gained some power or capabilities in order to be able to exercise the political power, once they enter the system (&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dahlerup and&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Freidenvall: 2005, p. 27-29)&lt;span style=""&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Interestingly, the Scandinavian countries do not have constitutional clause or regulation that demands a high representation of women in politics. Instead, it is achieved through the sustained pressure from the women’s groups within the political parties as well as the women’s movement in general. There were also resistances as well as positive responses from the political parties. During the 1970s and 1980s, while most centre and right wing parties considered quota as “un-liberal”, some political parties started to apply quota system. Therefore, quota system in the Scandinavian countries was introduced based on decisions made by the political parties themselves (Doserup: 1998). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;However, the Scandinavian model is no longer considered as the best model to increase women’s representation especially in the developing countries. The trend now is to apply the fast track quota system through law (constitution or national legislation) and quotas through political parties. The objective is to constitute at least a “critical minority” of 30 or 40 per cent of women’s representation in the political positions (Dahlerup: 1998. p. 1). It is hoped that it would accelerate the number of women’s representation, for example in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Costa Rica&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, in comparison to what happens in the Scandinavian countries.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8918424580445465627#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;However, having legal basis for 30-40% of the seat for women is not enough to ensure women’s representation in the Parliament. According to Dahlerup, there are three conditions for such legal basis which are: (i) a clear regulations; (ii) pressure from women’s organizations and other groups; (iii) sanctions for non-compliance with the quota requirements. Moreover, quota must also be embedded in the selection and the nomination processes from the very start. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The case of &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; is an example of vague regulation and lack sanction for non-compliance with the quota requirements. The Law No. 12 Year 2003 regarding the General Election only used the word “can” instead of “to oblige” each political party to have 30% quota for women. Moreover, it does not have sanction for those political parties who do not comply with the 30% quota requirements for women. Hence, according to Commission on General Election in Indonesia, the political parties could comply with 30% quota only in 40 election districts out of 89 (2004).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;In addition, they usually put the women’s candidates in “the shoes number” or on the bottom of the list of candidates. Considering that Indonesia has the proportional with open list system in which the number on the list becomes very important, thus the women were not in good position to be elected and women candidates were used only for a vote getter. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;However, the implementation of the quota does not operate out of the vacuum. In practice, the implementations of the quotas as an affirmative action do not work effectively. It differs from one country to another. Integrating women into politics would not automatically balances the level playing field or brings benefits for women. It also raises question on what are the impacts of the increasing women’s representation to the benefits of women themselves. According to GAD approach, the level-playing is not gender neutral. Women enter into a gendered playing field which embedded in the norms, structures and practices of institutions and already preserved gender inequality. Therefore, it is important to analyze the Parliament itself as a gendered institution in order to identify what are the factors which constraint women’s participation in politics.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Three explanations for differences in women’s political representation in national legislature (Kenworthy &amp;amp; Malami 1999; Paxton 1997; Reynolds 1999 as cited in Paxton and Kunovich: 2003) are social-structural, political and ideological. Social-structural explanation focus on the pool of available women, related to human resources, intra-relationship within households and organization of civil society. Political explanation focuses on the openness of the political system to women, related to the political institutions and leadership support.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ideological explanation focuses on general impressions of women in politics and how viable women are as candidates and leaders. This essay argues that the ideological factor plays an important role which has impacts to other factors. Therefore, for the purpose of the essay, the discussion would focuses on the importance of ideological factor and its impacts to other factors. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8918424580445465627#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt; Article 13 of &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Beijing&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Declaration, 1995. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5711408449328448999&amp;amp;postID=8918424580445465627#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; The Scandinavian Countries in general would be used related to the quota system, while in the analysis of the parliament as a battle field, the essay would using &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Norway&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; as a comparative study case. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p 
