Tuesday, April 14, 2009

On Sorry

It’s sad, so sad
It’s a sad, sad situation
And it’s getting more and more absurd
It’s sad, so sad
Why can’t we talk it over
Oh it seems to me
That sorry seems to be the hardest word
(Elton John).

Buat sebagian orang, kata maaf menjadi satu kata yg sulit untuk diucapkan. Entah teman, pacar, orang tua yang enggan meminta maaf pada anaknya, dan bahkan Pemerintah. Ya, adalah sangat tidak masuk akal ketika Parlemen Belanda memutuskan untuk menolak permohonan seorang wakil negara Indonesia untuk sebuah permohonan maaf karena telah menjajah rakyat Indonesia selama beratus-ratus tahun. Atau dalam film Civil Action-nya John Travolta, yang bercerita tentang sebuah perusahaan yang membuang limbahnya sembarangan dan melukai pemuda-pemudi setempat, namun menolak untuk sekedar mengucap kata maaf dan memilih untuk memberikan ‘uang damai’ sebesar 8 juta dollar, atau sekitar 375ribu dollar (setelah dipotong biaya pengacara, biaya perkara dll) per orang untuk anak-anak mereka yang meninggal jadi korban. I mean, how do they sleep? How do they forgive themselves? Or maybe they don’t feel guilty at all.

In personal sphere, if you still have consciouness, to ask forgiveness is to forgive yourself. Untuk mengucap kata ‘maaf’ adalah bagian dari proses untuk memaafkan diri sendiri, yang telah melukai orang lain.

Tapi, ternyata persoalan tidak semudah itu. Pertanyaannya kemudian adalah, sampai sejauhmanakah kata maaf dianggap sudah cukup? Cukupkah kata maaf ketika perbuatan tersebut sudah mengakibatkan kerugian material maupun immaterial bagi orang lain? For some people, in some cases, maybe ’sorry’ would not be enough… to compesate. Otherwise, we wouldn’t have any legal action to deal with it, right? :-)

Terlebih ketika bagi sebagian orang, kata maaf menjadi satu kata yg mudah untuk diucapkan. Just say "Sorry" and the problem is considered solved. The person who said sorry is considered has redemption for any actions he/she may caused. And then, case closed. But, is it? Accepting other person's apology is one thing, restoring things to normal before it was impaired by his/her doing is a totally different thing. You probably would look at him/her in totally different perspective. Like a song from the Corrs, you are forgiven, but not forgotten. People may say it is already forgotten, but perhaps there is levels or degrees of forgetting something or someone that they don't aware of . Sometimes, you unconsiously make a note and keep it somewhere within you.

Another option is, to talk over, including between you and yourself. So, ’sorry’ is something to negotiate. Something that we  have to compromise. Something to be agreed and deal with.  But in personal sphere, it doesn’t always work that easy. Kadang-kadang, kita terpaksa harus ‘ikhlas’ menerima kata maaf, bahkan ketika perbuatan yang dihasilkan sudah menimbulkan kerugian… immaterial maupun material. And you wish that something would suddenly hit your head and take your memories away. Atau kita berharap, kita dikaruniai sifat pelupa.  You simply just want to forget it, by not necessarily talking about it.

Dan maaf, menjadi sebuah kata yg tidak saja sulit tapi juga penuh dilema :-) 

Yeah, sorry…


Saturday, April 11, 2009

On Leader and Leadership


The Lost Leader 
By Robert Browning

Just for a handful of silver he left us, 
      Just for a riband to stick in his coat—
Found the one gift of which fortune bereft us, 
      Lost all the others she lets us devote;
They, with the gold to give, doled him out silver, 
      So much was theirs who so little allowed:
How all our copper had gone for his service! 
      Rags—were they purple, his heart had been proud!
We that had loved him so, followed him, honoured him, 
      Lived in his mild and magnificent eye,
Learned his great language, caught his clear accents, 
      Made him our pattern to live and to die!
Shakespeare was of us, Milton was for us, 
      Burns, Shelley, were with us,—they watch from their graves!
He alone breaks from the van and the freemen, 
      —He alone sinks to the rear and the slaves!

We shall march prospering,—not thro' his presence; 
      Songs may inspirit us,—not from his lyre;
Deeds will be done,—while he boasts his quiescence, 
      Still bidding crouch whom the rest bade aspire:
Blot out his name, then, record one lost soul more, 
      One task more declined, one more footpath untrod,
One more devils'-triumph and sorrow for angels, 
      One wrong more to man, one more insult to God!
Life's night begins: let him never come back to us! 

      There would be doubt, hesitation and pain,
Forced praise on our part—the glimmer of twilight, 
      Never glad confident morning again!
Best fight on well, for we taught him—strike gallantly, 
      Menace our heart ere we master his own;
Then let him receive the new knowledge and wait us, 
      Pardoned in heaven, the first by the throne!



Am I a Leader? 
By Mike Wash

Do you care about others 
Are you willing to give them time 
Can you get angry about the failure 
And waste caused by crime? 

Do you have a passion to make a difference 
Can you help others see another option 
Are you prepared to make a stance 
And communicate clearly your position 
Standing boldly stating what’s possible 
And excite those around you, 
Who in turn you inspire 
To work beyond the ordinary 
With passion, zeal and fire. 

Can people read you and your values 
Know what you stand for 
See your bold and good intent 
So they can rely on your candour. 

Do you seek out opportunities to learn 
From your own and indeed others mistakes 
Thriving on new knowledge and yearn 
For the opportunity to release the brakes 
On people’s potential so they can grow 
From the seeds you sow. 

Can you cry about other’s pain 
Shout about injustice 
Guard against false fame 
And listen carefully in case you miss 
The wisdom of others. 

Do you put into practice 
Those values you hold dearly 
Those principles you preach 
Those behaviours you desire 
And those standards you hope to reach. 

Can you reflect on your day 
And admit to learn 
That maybe another way 
May lead you to earn 
The respect of others who say 
We have ideas too 
If you let us follow through 
And do 
For you 
To 
Achieve extraordinary results 
That reflect the spirit and pride 
You often hide 
Until the applause and roar 
Of success are so evident 
You may as well sit back and enjoy the ride. 

Leaders are big, leaders are small 
Leaders don’t always walk tall 
Quite often they talk with their actions 
Quite often they speak with knowledge 
And confidence that within a fraction 
They can and will take themselves to the edge 
Of the unknown to achieve that bit extra 
So others learn and benefit 
From the legacy of a unique contribution 
That makes a difference. 

If deep down, these qualities highlighted here 
Stir with recognition and instil 
That sense of purpose to be true 
To an ideal and way of being 
Then yes, 
Perhaps this is you. 


Thursday, April 9, 2009

Dari Golput-ers untuk Caleg Perempuan


Ada yang berbeda dengan Pemilu 2009. Pertama, saya akhirnya memutuskan untuk memilih! Kedua, saya tidak lagi memilih partai, tapi individu. Ketiga, dan ini yang mungkin paling penting, semua ini adalah gara-gara: perempuan! :-)

Terakhir saya memilih adalah tahun 1999. Pemilu 2004 yang lalu, saya golput. Tadinya, pemilu kali ini pun saya berencana untuk golput, berdasarkan alasan-alasan yang sebelumnya sudah saya ungkapkan di blog ini. Tapi rupanya, ada yg membangunkan salah satu kawanan singa tidur bernama golput ini: caleg perempuan. Hal ini didorong juga dengan file daftar caleg perempuan yang perlu didukung dari mbak Dewi Tjakrawinata APAB (Aliansi Pelangi Antar Bangsa). Daftar caleg perempuan yang selama ini memang terbukti komitmennya untuk memperjuangkan keadilan jender.

Saya memilih mereka, meskipun saya tidak suka dengan partai yang direpresentasikannya. Pilihan saya jatuh pada caleg perempuan yang berasal dari salah satu partai yang kental dengan nuansa Islam (tapi bukan PKS, hehe), namun saya kenal dan tau baik sepak terjangnya selama ini dalam advokasi RUU Pelayanan Publik. Dia aleg yang bersuara lantang dan mampu bersikap tegas dalam rapat-rapat. Dia sangat akomodatif dan selalu menyediakan waktu untuk memahami substansi dari advokasi kita. Dia juga sangat terbuka dengan kritik, ketika pers release yang dikeluarkan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3) membuat Pak Sayuti, konon katanya, kecewa. Dia mampu menerima kritik kami terhadap DPR sebagai lembaga dan secara legowo mengakui kelemahan-kelemahan institusi itu.
Buat saya, ketika kita bicara soal partai yang tidak memiliki platform, yang masih tidak profesional, dan segala masalah lainnya, kita bicara soal sistem. Dan memperbaiki sistem itu, tidak semudah membalikan telapak tangan. Ikut pemilu dan mencontreng nama salah satu caleg perempuan pun, tidak serta merta membuat sistem itu menjadi demokratis. Tapi yang pasti, kita butuh individu-individu yang terbuka dan memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki sistem. Kita membutuhkan individu-individu yang bisa memberikan "sentuhan perempuan" dalam sistem. Membawa semangat keadilan jender di parlemen.
Bicara caleg perempuan tentu tidak bicara soal representasi, jumlah dan muka perempuan di parlemen. Bicara caleg perempuan juga bicara bagaimana caleg perempuan bisa memberikan kontribusi bagi perubahan di parlemen pada tidak saja pada tataran manajemen, namun juga pada tataran aras. Perubahan yang mengajak baik perempuan maupun laki-laki untuk peduli pada isu keadilan jender.

Dan bila ada yang mengatakan, pemilu akan selalu bentuk kompromi untuk memilih yang lebih tidak buruk dari buruk-buruk, maka bentuk kompromi itu buat saya adalah, saya memilih individunya meskipun saya tidak terlalu "sreg " dengan partainya. Tentu saja, tiap kompromi memiliki batas toleransi. Demikian pula dengan pertimbangan partai yang direpresentasikannya. Saya memiliki batas toleransi saya sendiri.

Jadi pemilu kali ini, saya sebagai anggota kawanan golput, bangun hanya untuk menyontreng, demi parlemen dan pelaksanaan fungsi representasi yang berkeadilan jender.

Wednesday, April 8, 2009

Home Sweet Home


What is home? A place where we experience independence, safety, privacy, and where we can dispense hospitality. The family is the true unit. Kerja keras terbayar sudah! This one is from us, for you, mommy!

Home Sweet Home

Mid pleasures and palaces though we may roam,
Be it ever so humble, there's no place like home;
A charm from the sky seems to hallow us there,
Which, seek through the world, is ne'er met with elsewhere.
Home, home, sweet, sweet home!
There's no place like home, oh, there's no place like home!

An exile from home, splendor dazzles in vain;
Oh, give me my lowly thatched cottage again!
The birds singing gayly, that come at my call --
Give me them -- and the peace of mind, dearer than all!
Home, home, sweet, sweet home!
There's no place like home, oh, there's no place like home!

I gaze on the moon as I tread the drear wild,
And feel that my mother now thinks of her child,
As she looks on that moon from our own cottage door
Thro' the woodbine, whose fragrance shall cheer me no more.
Home, home, sweet, sweet home!
There's no place like home, oh, there's no place like home!

How sweet 'tis to sit 'neath a fond father's smile,
And the caress of a mother to soothe and beguile!
Let others delight mid new pleasures to roam,
But give me, oh, give me, the pleasures of home.
Home, home, sweet, sweet home!
There's no place like home, oh, there's no place like home!

To thee I'll return, overburdened with care;
The heart's dearest solace will smile on me there;
No more from that cottage again will I roam;
Be it ever so humble, there's no place like home.
Home, home, sweet, sweet, home!
There's no place like home, oh, there's no place like home!

John Howard Payne

Wednesday, March 11, 2009

Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Waktu SMA, kita punya satu kegiatan ekstra kurikuler yang "wajib". Mengapa diberi tanda kutip, karena diwajibkan secara sosial, pengajian kelas! Saya ingat dulu, saya sering kabur dari pengajian kelas ini. Namun kemudian ketika masuk jurusan A3 (sosial) malah membuat satu wadah pengajian alternatif, buletin dakwah pengajian kelas (BDPK) Sosial. Ini proyek usil saya yang pertama. Usil karena buletin ini kami dirikan dengan dana yang diperoleh dari "memangkas" infaq jum'at (yang lagi-lagi merupakan paksaan sosial sumbangan kelas ke mushola sekolah). Selain itu, usil juga karena materi laporan utama pertamanya tentang pengajian kelas yang tidak laku dan sepi pengunjung hihihi. Soal harga, saya iseng juga memasang "infaq: seikhlasnya". Suatu bentuk protes terhadap infaq-infaq yang keliatannya meminta keikhlasan cuma tidak lebih dari paksaan sosial. Gaya penyampaiannya pun populer bin nge-pop. Buletinnya sukses besar, terbukti dari dukungan keuangan dari teman-teman yang menyumbang lebih dari modal fotokopi dan cara-cara kami ditiru oleh buletin resmi terbitan musholla hihihi...

Tapi, saya tidak mau cerita soal keusilan masa SMA. Benang merah ingatan yang melempar saya ke masa-masa penuh warna itu adalah doktrin-doktrin pengajian kelas, dakwah-dakwah di liqo (yang saya juga tidak tahan mengikutinya ini hehe..) yang rupanya tanpa sadar terpatri di kepala. Salah satunya, adalah satu ayat di Qur'an yang diulang-ulang. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Sesi soal nikmat. Satu sesi yang saya bisa terima, dibandingkan sesi-sesi tentang kebencian terhadap agama lain atau sesi-sesi tentang segala macam larangan, dosa dan azab dimana agama ditempatkan sebagai alat opresi dan wajah Tuhan ditampilkan sebagai Sang Maha Kejam, bukannya Yang Maha Pengasih.

Bicara soal nikmat, sama halnya bicara tentang seseorang yang sifat spesialnya baru kita sadari setelah dia tidak ada. Kita baru sadar betapa nikmatnya kesehatan yang diberikan, manakala sakit. Kita baru sadar betapa nikmatnya punya duit banyak, manakala ketika miskin. Ah, contohnya kok kaya gitu sih! :)

Saya baru merasakan betapa kondisi bisa mengunyah, menelan dan merasakan perut mencerna makanan itu hingga keluar melalui anus adalah suatu kenikmatan, manakala tubuh saya tidak mampu melakukan itu. Makan apapun, selalu dimuntahkan dalam bentuk yang persis ketika dikunyah. Saya coba nasi dan ikan, keluarnya demikian. Saya coba roti dan meses, keluarnya juga demikian. Seolah tidak menyerah untuk makan :), saya coba biskuit dengan teh hangat (ceritanya kaya makanan bayi hehe), saya muntahkan juga dalam bentuk persis seperti ketika masuk mulut. Nikmat kecil ini baru terasa setelah diberi obat dan akhirnya saya bisa mengunyah, menelan dan makanan itu diam di perut saya, diolah sampe keluar lewat anus. Menikmati perut yang kenyang ternyata hal yang luar biasa! Nikmat yang merasakan makanan masuk, "diam" diolah oleh lambung, kenyang.... Kita pun duduk dengan penuh rasa lega dan mungkin sambil mengelus-elus perut :)

Satu nikmat kecil yang baru terasa nilainya adalah menikmati udara yang semilir di sela-sela rambut hingga ke tengkuk, tanpa harus menjadi gatal-gatal karena itu. Ya, ini karena kebaikan tita yang menularkan penyakit menahunnya ke diriku. Mungkin ini namanya persahabatan bagai ke...pom..pong :D. Gatal-gatal. Alergi dingin. Dalam kondisi ini, tubuh merupakan termometer alami dimana setiap penurunan suhu sedikiiiiit saja, langsung menyebabkan gatal-gatal. Tubuh juga merupakan detektor hujan yang baik, karena biasanya 2-3 jam sebelum hujan, pasti serangan gatal-gatal itu muncul.

Terlepas dari segala "keuntungan" dari alergi dingin ini, sialnya, saya tidak bisa sembarangan menikmati semilir angin. Posisi kipas angin terpaksa harus diubah agar tidak langsung masuk ke kamar saya. Berenang adalah sesuatu yang sebaiknya tidak dulu dilakukan (apalagi dalam kondisi masih hujan). Mandi sore jadi sesuatu yang harus dilakukan lebih awal atau dengan memasak air panas terlebih dahulu (maklum, belum punya pemanas air :P). Ritual mandi pagi harus selalu diikuti oleh ritual minyak kayu putih dan bedak (dan bahkan jadi ritual ketika gatal-gatal menyerang). Jadi, rasa dingin-dingin enak ketika angin semilir memainkan rambut dan rasa dingin itu terasa di tengkuk, adalah suatu nikmat yang luar biasa! Kali ini saya sepakat dengan mbak-mbak akhwat di pengajian dulu, "Nikmat mana lagi yang kau dustakan?"

Wednesday, March 4, 2009

Partai Tidak Milih

Sekarang lagi ramai soal fatwa MUI yang mengharamkan golput. Ulasan yang mengkritik rasanya sudah banyak, ya. Toh, MUI tetap tidak bergeming mempertahankan kebodohannya. Konon katanya, obatnya orang bodoh ya diajari. Tapi kalau tidak jua bisa diajari, apa dong obatnya? Ah, sudahlah. Tulisan ini tidak mau menambah koleksi kekesalan masyarakat terhadap MUI yang kian memuncak. Tapi menelusuri kenapa golput jumlahnya masih banyak?

Kebanyakan orang memahami golput sebagai sebuah sikap tidak peduli, acuh, abai atau bentuk ketidakpercayaan terhadap (elit) politik dan bagaimana sistem politik bekerja di Indonesia.

Saya kebetulan lagi terlibat menulis dan bantu mengedit catatan awal tahun (Cawahu) atas kinerja DPR di sepanjang tahun 2008. Satu hasil bacaankami adalah tentang bagaimana DPR mengelola berbagai kepentingan dan meramunya menjadi sebuah kebijakan yang menyelesaikan masalah sehingga diterima semua pihak. Tahun-tahun lalu, kami sudah terlalu sering berkata, DPR jarang sekali mengeluarkan produk kebijakan yang menyelesaikan masalah. Nambah masalah sih sering. Tahun ini kami menampilkan bagaimana DPR mengelola dan mengolah aspirasi masyarakat menjadi suatu kebijakan… yang merugikan semua pihak. Niatnya sih mungkin win-win solution, kompromi… tapi apa daya semua pihak merasa tidak diuntungkan. Contoh sederhana, UU Pornografi yang kontroversial. Baik pihak yang mendukung, yang kontra, yang liberal dan yang fundamentalis sebenarnya ditipu. Tidak heran, dari kaum pekerja seni, aliansi bhineka tunggal ika, aktivis HAM, kelompok perempuan, sampai HTI pun mau mengajukan uji UU ke MK.

Proses kompromi pada interpelasi kasus lapindo dan BLBI juga begitu. Tim dibentuk dan Lapindo diharuskan bayar ganti rugi (meski dibilang penyebabnya adalah fenomena alam), tapi toh lapindo bebas. UU Usaha Mikro, Kecil dan Menengah akhirnya dihadirkan, tapi masih dengan pendekatan lama yang lebih mirip basa-basi dibanding kebijakan yang benar-benar mendorong UMKM yang punya kontribusi signifikan ke perekonomian negara itu.

Dunia politik kita memang suram. Produk yang dihasilkan dari senayan memang selalu produk politik. Sedimentasi atau bahkan residu dari proses politik. Tapi apakah yang residu tadi menyelesaikan masalah dan menguntungkan buat masyarakat ke depan, nah itu die masalahnya.

Kalau mau menelusuri lagi, banyak hal yang membuat dunia politik kita makin suram dan mendorong orang berpikir untuk menjadi golput (untuk beberapa di antaranya, lihat: http://public.kompasiana.com/2009/03/06/simulus-fiskal-2009-stimulus-golput-2009/) .

Partai politik jarang ada yang punya platform yang jelas. Yang menampilkan kebersihan pun, bukan tanpa cela. Fundamentalis gaya baru, yang dibungkus dengan kesopanan yang membumi. Keliatannya terbuka, tapi kadang menipu. Kenapa dibilang menipu, karena kadang-kadang keliatan aslinya, yang ironisnya, terlihat berseberangan dengan segala hal-hal baik yang dikampanyekan sebagai trade marknya. Mungkin memang itu tantangannya kalau mengaku-ngaku baik dan bersih. Tuntutannya lebih tinggi. Toh katanya, barang siapa menempuh jalan kesucian, siap-siaplah menghadapi kelokan yang berliku, terjal dan berbatu! Mending kita, yang memang tidak mengaku mengambil jalan itu, sekedar menjalani kehidupan bagai menikmati secangkir sanger (kopi susu khas Ulee Kareng, Aceh) dan setangkup roti srikaya.

Kembali ke laptop, platform politik ini pun seringkali berubah-ubah, tergantung isu yang dibahas. Yang mendasarkan pada nasionalisme (dan sekulerisme), cuma bisa walk-out. Secara politik, memang terlihat sebagai aksi yang keren, berani dan keliatan "beda dari yang lain. Tapi tidak menimbulkan pengaruh apa-apa pada level kebijakan. Yang keliatan islami tetapi tidak mau disebut partai islam dan mengagungkan pluralisme serta mengandalkan tradisi intelektualitas, tetap saja tidak berani mengatakan tidak untuk kebijakan-kebijakan yang mengarah pada membuat negara ini menjadi sektarian.

Selain tidak punya platform yang jelas, persepsi mereka mengenai diri sendiri sebagai partai politik pun tidak jelas. Mereka yang berusaha memperbaiki hal ini dan menawarkan konsep yang “berbeda” pun, masih punya cela. Ambil contoh, partai politik yang mengadopsi konsep dakwah dan politik menjadi satu yang diterjemahkan ke dalam bungkusan amal sekedar semakin menguatkan betapa agama ditempatkan sebagai alat politik. Dari ilmu politik pun menimbulkan pertanyaan, apa bedanya partai politik dengan lembaga amal/sosial?

Bahwa politik dan partai politik harus mengandung unsur kepekaan, saya setuju sekali. Tapi masalahnya adalah, bagaimana kepekaan ini seharusnya dilakukan oleh partai politik. Apa sih porsi partai politik yang dalam hal ini jelas beda dengan lembaga amal? Atau bentuk amal seperti bagaimanakah yang seharusnya dilakukan partai politik? Kuncinya satu: keberpihakan dalam kebijakan! Saya teringat teman saya, salah satu councilmen di district II Maryland, US. Dia secara reguler melaporkan “amal”nya dia kepada para konstituen. Bahwa dia membantu memfasilitasi kebijakan di bidang pendidikan yang berdampak pada pembentukan atau perbaikan sekolah, pelayanan publik yang lebih baik dsb di wilayahnya. Ini bentuk "amal" yang sustainaibilitasnya terjamin. Bukan jenis amal yang hit and run, yang sifatnya kondisional, bila ada bencana… sedia rekening, kumpulin bahan, kirim mobil, dan pasang bendera partai. Amal jariyah anggota parlemen yang tetap menjaga relasinya dengan konstituennya. Mendengar, merespon dan melakukan. Memberi bukti, bukan sekedar janji.

Hal-hal lain yang membuat dunia politik suram terlihat tanpa harapan adalah anggota parlemen yang tidak mandiri, masih terikat pada fraksi, aturan internal DPR yang banyak mengandung logika demokrasi terbalik, budaya, ketidakmampuan, de el el. Dalam konteks ini, slogan “satu suara anda sangat berarti” menjadi sesuatu yang tidak logis. Tidak masuk akal.

Tapi, apakah golput tidak dapat disebut kekuatan politik? Salah. Tidak bisa bermain di kancah politik? Ah, salah juga! (kok tiba-tiba ke golput ya? hehehe..)

Golput justru pemilih yang sadar dan peduli. Singa yang tidur. Singa yang produktif, kok. Mengaum-ngaumnya hampir setiap hari dan tidurnya cuma sehari, waktu pemilu aja. Seperti layaknya singa yang tidak mau tunduk pada relasi kekuasaan yang tidak jelas, dia tidak bisa dihentikan hanya dengan fatwa. Singa yang akan bangun sendiri tanpa harus dipecuti dan ditakut-takuti oleh kata “haram”, bila memang aumannya didengar dan diikuti hingga membawa perubahan. Kalau gak, ya dengar aja lagunya efek rumah kaca, "Mosi Tidak Percaya" :-)

Golput bisa juga bermain di kancah politik. Siapa bilang golput tidak bisa bikin partai? Saya ingat waktu memantau pemilu di Belanda. Banyak terdapat partai-partai dengan nama lucu, salah satunya “Partai Tidak Milih” (geen vote partij, bener gak mam, terjemahannya?). Saya rasa, ini bisa saja terjadi, kalau singa-singa tidur ini pada kompak melakukan keusilan :P. Jumlahnya cukup besar, kok.

Monday, February 16, 2009

Valentine dan Solidaritas Antar Perempuan


14 February 2009. Hari sabtu. Malam minggu. Valentine. Sebagian orang mungkin tidak merayakan. Entah karena diharamkan atau memang tidak peduli. Sebagian orang merayakan valentine dengan caranya masing-masing. Romantic candle light dinner? Se-box coklat, setangkai bunga mawar merah dan secarik puisi? Datang bersama ke pasangan ke event-event valentine? Mencari sudut gelap di pelosok kota hanya untuk mojok berduaan? Posting kalimat atau tulisan cinta kiriman sang terkasih? Atau posting agak nyinyir soal valentine itu sendiri, kaya gue hehe..

Valentine kali ini, dihabiskan berdua sama tita. I know, for some of my friends, the fact that I'm spending a valentine with tita, worries them :-) But hey, kapan lagi dua makhluk muncrut bin gembyul bisa menghabiskan akhir pekan bersama-sama, mulai dari bangun tidur sampe tepar ngorok (dalam arti yang sebenarnya... tapi gue gak denger kok, ta..:P) karena kecapean? hihihi..

Valentine tahun ini didedikasikan untuk perempuan, utamanya solidaritas antar perempuan. Suatu hal yang saya rasa susah dibangun, bahkan di antara perempuan feminis sendiri. Yang nge-gosip orientasi seksual perempuan lain di belakang lah, yang merasa keilmuan dan pengetahuannya tentang feminismenya lebih jago lah, yang hobi mendamprat perempuan lain (padahal laki2nya yang suwek) lah, de el el.

Valentine kali ini hadir dalam dua peristiwa yang menyangkut dua isu perempuan yang berbeda. Yang pertama, pelatihan perancangan peraturan berperspektif gender di Aceh. Sebenarnya, pelatihan ini melanjutkan apa yang Bibip sudah mulai rintis. Saya hanya tinggal meneruskan saja. Pelatihannya sangat menarik karena cuma diikuti 6 orang, saya berkesempatan lebih membumikan metode MPM, dan topiknya tentang penyelesaian kasus perempuan korban konflik di Aceh. Yang saya suka dari pelatihan ini, kami membahas tuntas mulai dari mencoba keluar dari kebiasaan merancang peraturan --mengubah dari membenarkan yang biasa menjadi membiasakan yang benar-- sampai persoalan-persoalan strategi advokasi kepentingan perempuan, yang selalu saja dipertanyakan dan ditentang.

Yang kedua, program percontohan penguatan penyelesaian sengketa informal di 7 nagari di Sumatera-Barat. Program yang serupa juga akan dilaksanakan di NTB. Peran PSHK (dan LeIP) melanjutkan perjuangan teman-teman di daerah untuk advokasi di tingkat nasional. Sum-Bar yang terkenal dengan sistem matrilinealnya, rupanya tidak kuasa melawan dunia patriarki yang justru melemahkan peran perempuan, terutama bundo kanduang, dalam proses penyelesaian sengketa adat.

Di tengah dua kegiatan menarik inilah, saya merayakan valentine, bersama sahabat-sahabat saya, toni dan timun (ih, kompak deh pake huruf "t" hihihi). Perayaan valentine lengkap dengan aksesoris pelengkapnya. Di Aceh, nongkrong di ulee kareng dengan sanger hangat dan roti srikaya dengan obrolan santai teman-teman dari ACSTF, agung, toni dan dua "bule asia" dari UNIFEM. Di Padang, disuguhi pemandangan pantai di pesisir selatan Sumatera Barat, diapit pegunungan, di warung seorang nenek tua yang sedang menjemur pinang yang akan dijual dengan harga Rp. 3500/kilo. Di pedalaman Solok, dijamu di rumah seorang nenek-nenek bundo kanduang yang tomboy masih naik motor di umurnya yang mungkin sudah mendekati kepala 7 dan membuka tempat penitipan anak (termasuk untuk cucunya). Dan oh ya, diiringi ucapan selamat valentine juga dari mas har, selamat rahardjo, hihihi.... garing abis deh mas-mas Jawa satu ini :D.

Ucapan valentine ke pasangan? ah... kita terlalu terdoktrin untuk menyatakan perasaan secara langsung. Satu hal yang kami pelajari dari kearifan masyarakat Sumatera-Barat adalah kepandaiannya dalam berpantun. Mereka mungkin tidak mengenal bahasa minang untuk "I love You". Tapi mereka punya jutaan pantun dari pelbagai aspek dan gaya, untuk menyatakan perasaan... hehe.. Amboiiii seminggu tidak bersua rasanya bagai bulan merindukan bertemunya dengan matahari (wah, gerhana dong hehehe..).

Soal teori tentang cinta dan bercinta? Ah, silakan saja berteori soal cinta. Kali ini saya sepakat dengan ulum. Yang lebih enak, memang yang mengalir. Gak pake teori-teori gitu. Teori, menurut richard robison (supervisor saya dulu), sederhananya adalah cara manusia menjelaskan kekonteksannya. Membantunya memahami situasi. Kadang, teori dikeluarkan hanya untuk diri sendiri, sebagai pengarah. Belum tentu benar-benar dipahami, apalagi dilakoni. Dan seringkali jadi lubang jebakan bagi diri si penteori sendiri.

Sebagai contoh, beberapa feminis seringkali mendorong perempuan untuk mengambil kontrol terhadap dirinya dan terhadap lingkungannya. Untuk memiliki otonomi terhadap dirinya dan menyadari seksualitasnya sebagai suatu kekuatan. Asumsinya, dengan cara begini perempuan bisa terbebaskan dari belenggu patriarki dan menjadi manusia yang otonom. Dan dalam hitungan ini, relasinya dengan laki-laki umumnya selalu jadi patokan, sejauh mana perempuan mampu menjadi manusia yang otonom itu. Mampukah perempuan mengatasi relasi yang tidak seimbang selama ini. Dari segi teori, memang indah. Mana ada teori yang tidak indah, kecuali dari makhluk yang nyinyir hehe..

Tapi ironisnya, perempuan suka terjebak dengan teorinya sendiri, hehe. Perempuan bisa (merasa sudah) menjadi makhluk yang otonom dan sekaligus (tanpa sadar masih) tergantung pada laki-laki. Lebih parahnya, bila solidaritas antar perempuan tidak mampu dibangun dan terjadilah apa yang teman saya, yang mengaku seorang feminis radikal, katakan, "selalu ada laki-laki di antara perempuan". Otonomi yang malah menempatkan laki-laki sebagai barang, yang harus diraih, dipertahankan mati-matian, dikerangkeng, dirantai (bila perlu) dan tentunya, tidak mengubah apapun di tingkat relasi. Keliatannya memang perempuan berkuasa (di atas laki-laki), tapi tentu harus menjadi monster dahulu. Tidak saja bagi laki-lakinya, bahkan melihat perempuan lain pun, yang sebenarnya juga berada dalam posisi yang sama sebagai korban, sebagai musuh... yang perlu dihajar, dengan cara yang jalang khas perempuan atau santun.

Tentu saja, dalam hal ini perempuan (yang tanpa sadar sudah berubah jadi monster tadi) tetaplah menjadi perempuan pada umumnya. Sumber energi. Sumber pemberi dan, ironisnya, penuntut cinta. Sebuah pertanyaan untuk cinta, menurut seno gumira, "apakah kau mencintaiku?" Sebuah, namun selalu ditanyakan tanpa henti hihihi.. Entah tidak dijawab-jawab atau tidak yakin-yakin.. Atau terjebak pada hubungan dimana dirinya tidak dihargai, tidak diakui eksistensinya sebagai pasangan, tidak memiliki relasi kekuasaan yang seimbang (maksudnya tidak terjajah atau sebaliknya, menjajah :P), tapi ya itu... sifat perempuannya yang selalu memberi dan menjadi energi dalam bercinta, membuatnya susah keluar dan bahkan menjadi monster, baik bagi si laki-laki maupun perempuan lain. Menciptakan ilusi bagi diri sendiri.

Perempuan memang harus otonom. Perempuan memang harus menjadi kuat. Perempuan memang harus menciptakan dunianya sendiri yang penuh kreativitas. Tapi memiliki otonomi terhadap diri sendiri dan menjadi kuat, bukan berarti menjadi monster, bukan? Jadi, valentine kali ini saya dedikasikan untuk solidaritas antar perempuan, untuk tidak lupa mencintai dirinya sendiri...