Friday, September 11, 2009

Ramadhan 06: Keyakinan dan Kegundahan

Dalam qur'an, kadang ada pasangan nilai, sifat atau kondisi yg saling bertentangan namun berpasangan. Contoh yang paling gampang dan sering adalah kesulitan dan kemudahan. Kemarin saya menemukan satu lagi, keyakinan dan kegundahan. Ini sebenarnya terinspirasi dari film Doubt yang dibintangi oleh Merryl Streep. Ceritanya tentang seorang kepala sekolah agama (lupa, kristen atau katolik) yang sangat kolot, kaku dan penuh prasangka. Berbeda dengan koleganya, seorang pendeta yang moderat, open-minded, berpikiran positif dan percaya bahwa manusia perlu belajar, berinteraksi serta berkembang dengan keimanannya sendiri.

Keyakinan dan kegundahan adalah satu paket yang dihadapi oleh manusia yang beriman. Keyakinan dan kegundahan tidak bisa diposisikan secara tegas sebagai sesuatu yang berlawanan dalam pengertian, yang satu baik dan satunya lagi buruk. Sebaliknya, keduanya perlu dilihat sebagai sesuatu yang memiliki baik dan buruk secara bersamaan. Persoalannya adalah, apa yang membuatnya jadi baik dan buruk?

Kegundahan, adalah fase dimana manusia bertanya dan karenanya, menjadi berpikir. Saya bertanya, maka saya berpikir. Dan pikiran saya, yang menunjukkan bahwa saya (masih) ada :). Dalam konteks ini, kegundahan menjadi sarana bagi manusia untuk berinteraksi dan berkembang dengan dirinya sendiri, dengan keyakinan dirinya sendiri. Suatu proses yang tidak serta-merta harus dilihat negatif sebagai sesuatu yang mendegradasi keyakinan, bahkan sebaliknya justru bisa merevitalisasi keyakinan itu sendiri. Iman dan keyakinan, layaknya sebuah tanaman, perlu dirawat, dipelihara dan dicintai. Tidak saja perlu disiram dan diberi pupuk, namun kadang kala perlu dipangkas sana-sini, terutama bagian-bagian yang kering dan busuk.

Kegundahan, juga bisa jadi sarana untuk mengindentifikasi dan positioning diri sendiri. Pertanyaan "what makes a NGO, NGO" yang selalu dilontarkan, mengstimulus teman-teman untuk berpikir ttg jati diri/identitas dan positioning organisasi. Sebagai seorang muslim, pertanyaannya bukan apakah kita Islam atau tidak, tapi lebih pada orang Islam seperti apakah kita? Apakah kita muslim yang penyayang terhadap saudara, "tetangga" dan lingkungan atau sebaliknya yang hanya membawa kebencian, fitnah dan kerusakan di dunia? Apakah kita orang Islam yang santun dalam bertutur, menghormati dalam perdebatan, sportif dalam bertanding dan ulet serta penuh integritas dalam bekerja?

Kegundahanlah yang menjaga kita untuk terus berusaha agar menjadi orang yang lebih baik, karena kita tidak yakin bahwa kita sudah menjadi baik atau amal kita sudah hebat. Yakin yang satu ini, justru perlu dihindari. Sifat yakin yang berlebihan pun dapat mengarah pada kerusakan. Para teroris, para pasukan moral, memiliki keyakinan yang berlebihan. Yakin bahwa mereka akan dapat surga dengan melakuakan pengeboman. Yakin bahwa mereka lebih bermoral, doing something for a greater cause. Yakin yang membuat dirinya merasa orang lain tidak sebaik dirinya dan karenanya perlu "diajari". Keyakinan seperti ini justru mengarah pada orang Islam yang hanya mengenal satu kata, kekerasan.

Jadi buat saya, keyakinan dan kegundahan merupakan satu paket nilai yang membantu kita untuk selalu berinteraksi dan berkembang dengan keimanan kita sendiri, dalam artian yang positif. Jadi, bila kegundahan itu muncul, ikuti saja dan berpikirlah! :)

Ngantukkkkk...

Ramadhan 05: Khalifah Umar dan Sop Buntut

Di antara para sahabat, Umar bin Khatab adalah sahabat Rasulullah dan khalifah yang paling menarik dalam pandangan saya. Daya tariknya terletak pada sosok pendekar (hehe..), ketegasan dan integritasnya. Benang merah dari ketiga daya tariknya adalah sifat kehati-hatiannya. Hati-hati sebagai pendekar dan hati-hati sebagai pemimpin.

Umar (sok akrab bin gak sopan banget sih) terkenal berhati-hati menggunakan pedang. Alasan untuk menggunakan kekerasan, jadi penyebab utama. Beliau bukan tipe pendekar yang emosinya dengan mudahnya tersulut dengan provokasi yang menyerang dirinya sendiri. Buatnya sederhana saja, perlu ada satu alasan besar yang menjadi dasar penggunaan kekerasan dan senjata.

Sebagai pemimpin, integritas Umar bisa dibilang luar biasa. Dia sangat hati-hati menggunakan kekuasaannya. Memisahkan mana yang menjadi hak dan harta komunitas dan mana yang merupakan hak dan aset pribadinya. Contoh kecil, untuk urusan penggunaan lampu saja, Umar bin Khatab sangat ekstra hati-hati. Apakah si lampu digunakan untuk pelaksanaan tugas kepemimpinannya, atau kepentingan pribadi. Prinsipnya dalam pekerjaan pun sederhana saja, ada ketegasan antara mana yang dipakai untuk kantor/negara/publik dan mana yang tidak/pribadi. Buat Umar, kekuasaan adalah soal tanggung jawab, tanggung jawab, tanggung jawab.

Satu hal sederhana yang saya pikir sudah ditinggalkan oleh pemimpin kita, di institusi negara, di lembaga profit, dan bahkan di lembaga saya atau lembaga non-profit lainnya. Sudah mafhum bila power leads to access, to rights and privileges, incentives and even greater power. People who have given power tend to addicted to it and that's why we need check and balances mechanism. Kualitas manusia seperti Umar jarang ditemukan dan karenanya kita butuh sistem untuk memastikan nilai-nilai integritas seorang Umar bisa tetap terjaga.

Hubungannya dengan sop buntut? Rasanya tidak mungkin bagi seorang Umar bin Khattab, seandainya memimpin rapat para kapten-kapten dibawahnya, akan bicara sop buntut dan bukan substansi. Sop buntut, yang masa emasnya sudah lewat, sebagai hidangan sebuah acara penting. Seorang Umar tidak mungkin menggunakan waktu kerjanya yang berharga untuk membahas hal-hal yang tidak penting, yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dan kewajibannya sebagai pejabat negara. Sayangnya, kita seringkali tidak dipimpin oleh pemimpin sekualitas Umar bin Khattab. Sehingga kita masih menghadirkan isu sop buntut, dan bukan hal-hal yang lebih substansial, ke meja rapat :)

"It's not what we eat but what we digest that makes us strong; not what we gain but what we save that makes us rich; not what we read but what we remember that makes us learned; and not what we profess but what we practice that gives us integrity.” (Francis Bacon)

Tulisannya jelek.. karena ngejar kejar tayang satu ide/tulisan satu hari, tapi udah ngantuk kecapean :)

Ramadhan 04: Semua Tangan Perlu Tau

Bulan Seribu Musim

Bulan ramadhan biasanya adalah bulan seribu musim. Sebut saja mulai dari musim beribadah, musim tobat, musim bersedekah, musim artis sinetron pake jilbab, musim tayangan sahur, musim kultum pengantar berbuka, musim rejeki nomplok buat para artis, musim kaca restoran dan warung-warung makan ditutupi kain atau karton, musim orang punya alasan ngeles untuk tidak produktif sampaiiii musim kolang-kaling, cincau, dan nata de coco cepat habis terjual di supermarket dan oh ya, musim timun suri (ujung-ujungnya kok ya selalu makanan :D).

Daya tarik utama bulan ramadhan tentu saja janji pahala, rahmat dan berkah yang berlimpah. Obral gila-gilaan. Di hari-hari biasa di bulan Ramadhan saja, pahala bisa berkali-kali lipat. Belum lagi, bila dapat "jackpot" malam lailatul Qadar. 1000 bulan! Yang berpikir hitung-hitungan mungkin serasa dapat tabungan pahala lebih dari seumur hidup. Pikirnya, kalau dapat, setelahnya bisa ongkang-ongkang kaki dalam beribadah :)

Sisi positifnya, semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan, terutama dalam beramal jariyah. Sedekah lebih afdol di bulan puasa. Mungkin ini salah satu latar belakang munculnya THR. Bukan cuma untuk ketupat, sayur jakarta lengkap pakai petay, sambal goreng ati, daging, opor ayam dan kue-kue manis serta pakaian, sepatu, mukena, baju koko, dan sajadah baru, tapi juga untuk bersedekah.

THR saya saja biasanya habis untuk memberi hadiah sana-sini. Sebagian ditukar lima ribuan untuk
pasukan anak-anak kicing. Bedanya, dulu sih ditukar segepok uang seratusan. Namun sekarang, uang angpau itu pun kena inflasi! :D Belum lagi, anak-anak kicing sekarang makin pinter-pinter. Kecil-kecil sudah tau kalau uang yang berwarna biru bergambar gunung lebih rendah nilainya dibanding yang warna coklat, apalagi pink. Atau membedakan merahnya 10.000 dengan pink-nya 100.000. Jadi maunya, "Minta yang pinkkkkkkkk..." Pinter ya kalian, udah bisa membedakan antara merah dan pink :) Kita aja yang udah gede masih suka ketuker-tuker :P.

Tangan Kiri Tidak Boleh Tau?

Beda banget dengan bulan biasa. Saya teringat waktu plamus (planet muslim) masih berdiri dan aktif dulu. Setiap ramadhan kita selalu berlimpahan uang-uang ummat yang memberikan sumbangannya, sementara sisa bulan di luar ramadhan rata-rata musim paceklik.

Ngobrol soal sedekah dan amal jariyah ini, ada satu ungkapan yang diajarkan dari mulut ke mulut. Bersedekah itu, tangan kanan bersedekah, tangan kiri tidak boleh tau dan demikian sebaliknya. Maksudnya sih mulia, agar kita terhindar dari sifat riya.

Amal bila dilakukan secara diam-diam lebih bernilai lebih dibandingkan yang dilakukan secara gembar-gembor, apalagi kalau pakai konferensi pers segala. Kalau jaman sekarang, mungkin sarana gembar-gembornya nambah. Fesbuk, misalnya, yang memang selalu jadi ajang narsis yang paling asik buat banyak orang.

Dampak dari si tangan kiri gak boleh tau tadi umumnya adalah penulisan "hamba Allah" di lembar-lembar sumbangan. Mungkin mereka harusnya punya banyak nama seperti saya, hehe.. Bisa pakai herni, molly, atau hermun :P.

Tapi kalau dipikir-pikir, pertanggungjawabannya gimana ya? Bagaimana sebuah amal bisa dipertanggungjawabkan ke publik kalau banyak sekali "hamba Allah". Saya sih tidak suudzon dng yg menyumbang, namun lebih ke persoalan manajemen pengelolaan dana amalnya. Bagaimana kita tau panitia atau pihak yang berinisiatif mengelola itu jujur dan berintegritas tinggi? Bagaimana kita bisa percaya bahwa uang yang disumbangkan benar-benar diterima dan disalurkan?

Belum lagi persoalan takut riya tadi jadi membuat orang malu-malu kucing dalam menyumbang. Uang digenggam di tangan dan dimasukkan ke amplop tanpa terlihat. Dan benar, jangankan oleh orang lain, oleh si tangan kiri pun tidak terlihat.

Malu-malu yang kedua, umumnya orang malu-malu untuk menyumbang, apalagi bila nilai sumbangannya kecil. Padahal, Allah tidak bodoh seperti kita, yang sering melakukan penilaian dengan standar yang picik. Rahmat sumbangan itu bukan terletak dari besaran sumbangannya, namun prosentase dibandingkan harta yang kita punya plus keikhlasan. Keduanya merupakan informasi yang susah untuk diakses. Apalagi yang terakhir, cuma Allah yang bisa menilai hal itu. Udah gitu, akibatnya ternyata tidak mampu mengstimulus derasnya arus dana amal yang masuk.

Lalu, kalau melirik tradisi "tetangga" dimana sumbangan selalu dikoar-koarkan. Herni menyumbang 100 juta bulan ini...!!! dengan sebelum dan sesudahnya didoakan bersama. Dan orang jadi berlomba-lomba riya untuk menyumbang dalam jumlah yg lebih besar lagi.

Saya pun terpikir, mengapa tidak kita tiru? Mari berlomba-lomba... resiko menjadi riya pun tak apa. Toh itu bukan urusan kita... yang penting ada uang yang tersedia yang bisa dioptimalkan penyalurannya. Kalau orang mau riya, ya silakan saja. Toh itu urusan dia dengan Allah. Urusan kita adalah bagaimana kita bisa menerapkan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola dana amal tersebut. Jadi, logika berpikirnya terbalik. Bukan sekedar tangan kanan menyumbang, tangan kiri harus tau. Namun, semua tangan perlu tau :)

Ramadhan 03: Puasa dan Produktivitas

Sewaktu di Belanda, teman saya bercerita soal pengalamannya di kampus. Dia menggunakan lift kampus untuk naik dari lantai satu ke dua. Kebetulan didalamnya ada seorang dosen kami (my opa! :D) yang bisa berbahasa Indonesia. Ketika opa melihat teman saya ini cuma naik 1 lantai, dia cuma berkata, "Kamu naik lift untuk naik ke lantai 2?". Teman saya pun tersenyum kehilangan kata-kata dan mengangguk. Segera keluar begitu pintu lift terbuka.

Kisah lain, sudah mafhum buat kami yang seringkali bolak-balik ke Aceh ini, bahwa sulit sekali mengadakan training di Aceh selama bulan puasa. Jangankan bulan puasa, bulan biasa saja sulit. Adalah suatu prestasi yang besar bila kami berhasil mempertahankan jumlah peserta hingga training usai. Itupun umumnya cuma sampai jam 5. Yang seringkali terjadi, peserta minta training dipercepat, dan kita harus agak sedikit licik untuk tidak memenuhi permintaan mereka itu.

Di beberapa tempat, terutama Aceh, ada beberapa ritual yang harus dilakukan. Umumnya seminggu sebelum puasa dan seminggu setelah puasa. Disinilah pengaruh adat dalam memberi warna pada pelaksanaan ritual agama terjadi. Sebagai "orang luar" tentunya kita harus mengerti dan sadar mengenai tradisi-tradisi lokal setempat.

Dan sudah mafhum juga bila beberapa bulan menjelang ramadhan, semua hotel yang biasa digunakan untuk pelaksanaan acara sudah penuh di-booking. Semua instansi dan organisasi agaknya "sepakat" untuk tidak mengadakan acara formal apapun selama bulan ramadhan. Alasannya lebih pada karena bulan puasa menurunkan produktivitas kerja sehingga melaksanakan kegiatan di bulan puasa bukan saja tidak efektif namun juga pasti diprotes orang banyak :) Tapi pertanyaannya adalah, apakah bulan puasa selalu harus dijadikan alasan untuk tidak produktif? Lantas, bagaimana kebijakan yang bisa diterapkan agar selama bulan puasa kita tetap bisa produktif?

Ramadhan Produktif

Mungkin ini berkah bulan ramadhan, alhamdulillah bulan ini kegiatan sedang banyak-banyaknya. Saya menamainya, bulan yang sinting jilid II :-) Saking sintingnya, meski tindakan pencegahan agar jadwal di bulan puasa bisa lebih longgar sudah dilakukan, namun masih ada rangkaian kegiatan yang terpaksa dilakukan pada bulan puasa. Kalau kegiatannya buat kita-kita saja tidak masalah, namun karena obyek dari kegiatan justru orang lain, ini yang jadi masalah. Minggu ini, ada serangkaian kegiatan dari senin hingga jum'at, full dari pagi hingga sore. Itupun sudah didiskon dari jam 10 pagi hingga 5 sore. Inipun saya sudah dibilang "dzolim" karena membiarkan orang mengikuti kegiatan dari jam 10 sampai 5.

Segala sesuatu memang tergantung cara pandang. Mari kita coba ganti kacamatanya, jadi kacamata kuda (toh kuda lambang hewan kuat dan hewan pekerja, hehe..). Bulan puasa, adalah bulan yang sangat produktif, baik untuk urusan pekerjaan dan ibadah. Bayangkan saja, tengah malam sudah bangun sambil ngucek-ngucek mata menyiapkan makanan sahur dengan sebelumnya bertahajud bila sempat, makan makanan yang sehat dan bergizi (menjaga kesehatan adalah sebagian dari iman :D), menunggu beduk shubuh sambil fesbuk-an atau mengerjakan hal yang lain, sholat shubuh, baca qur'an sebentar kalau lagi mood, beres-beres rumah dan berangkat kerja! Itu baru pagi hari.

Di kantor? Berkah ramadhan kali ini membuat perhatian terfokus pada pekerjaan. Di hari yang biasa pun, seringkali makan dan minum terlupakan bila pekerjaan datang tanpa henti (hayo sapa tuh, ngakuuu..!!! :D). Di bulan puasa ini, karena kita sudah sahur dan minum air putih berbotol-botol (tapi kemudian pipis terus jadi impas dong ya? hehe..), persoalan sakit karena kurang gizi, dehidrasi, ginjal dsb insha Allah tidak terjadi.

belum kelar.. dilanjut nanti ajah.. mau berangkat ke kantor :)

Saturday, August 22, 2009

Ramadhan 02: Berpuasa Itu Biasa Saja

Suatu hari, saya ikutan rombongan "karpet merah" ke daerah. Dibilang karpet merah karena memang kami selalu mendapat sambutan yang spesial sejak turun dari pesawat. Selalu ada rombongan yang menyambut dan menggiring kami ke ruang khusus untuk beristirahat dengan disuguhi makanan kecil dan teh manis hangat, meminta kupon bagasi dan mengambil, mengantar dan membawakannya hingga ke kamar hotel, serta memberikan jamuan makan istimewa setiap hari. Tentu saja, saya bukan siapa-siapa di rombongan itu, sekedar pengikut yang kena "cipratan" :) Makin tinggi "selebriti" yang berada dalam rombongan, makin ok servisnya.

Ada satu kejadian yang menarik. Dalam salah satu perjalanan, tokoh "selebriti" yang ada dalam rombongan kami rupanya terbiasa berpuasa. "Badan saya lebih sehat bila berpuasa, jadi hampir tiap hari saya puasa." Wah, nabi Daud aja kalah, pikir saya. Lucunya, kebiasaan ini membuat panitia penyambutan kikuk dan salah tingkah. Seharusnya rombongan berhenti di restoran mewah sebelum check-in di hotel. Karena si bapak sedang berpuasa, rencana cadangan secara kilat dibuat. Pasukan segera saja tidak jadi membawa si bapak ke restoran, namun langsung ke hotel.

Sementara kami, yang level kemampuan puasanya ini bahkan tidak mampu menyamai nabi Daud, mendapat kelimpahan rejeki makanan berlimpah! :) Selemah-lemahnya iman, bila tidak mampu berpuasa di luar bulan ramadhan, maka yang dapat dilakukan adalah tidak meninggalkan makanan berlimpah ruah sia-sia begitu saja. Mubazir adalah temannya setan. Sehingga pilihannya adalah makan atau jadi pengikut setan. Tentu saja kami memilih yang pertama :)

Tidak berhenti sampai situ, puasanya bapak jadi mengacaukan semua rencana yang terkait dengan makanan hari itu. Yang lebih lucu, si bapak yang berpuasa santai-santai saja. "Ah, saya sih sudah biasa. Silakan saja, kalian makan. Jangan sungkan-sungkan". Lalu dengan santainya, dia mengambil koran dan membaca.

Pengalaman di atas bercerita tentang menghargai mereka yang minoritas (oleh mereka yang mayoritas). Suatu nilai demokrasi yang perlu kita tegakkan. Idenya berangkat dari gagasan untuk menghindari adanya sikap otoriter dan bahkan penindasan dari mayoritas terhadap minoritas. Suatu nilai, yang saya yakin selaras dengan nilai keislaman.

Menghormati Kelompok Minoritas

Hal yang sama pernah saya alami sewaktu di Belanda. Kala itu kami mencicipi nongkrong di sebuah kafe di dekat kampus. Waktu itu kami cuma berempat, Eka, Kay, Meezan dan saya. Kebetulan Meezan sedang tidak puasa. Ketika hendak memesan makanan, Eka dan Kay kaget karena saya sedang puasa. Mereka lantas tidak enak memesan makanan. Saya sibuk meyakinkan mereka, "Tidak apa-apa. Pesan saja. Gak akan ngiler hehe.." Sepanjang sore itu kami ngobrol-ngobrol dengan ditemani makanan, kue-kue manis, teh hangat, yang tentu saja tidak bisa saya nikmati. Buat saya, puasa tidak bisa dijadikan alasan untuk mengubah kondisi di sekitar saya agar saya lebih "enak" berpuasa. Ini bertentangan dengan law of attraction, dimana semesta kali ini tidak perlu mengikuti mau-nya saya :) Nyontek dari ERK, berpuasa itu biasa saja :-)

Sebagai mayoritas, kita tetap perlu memperhatikan kepentingan minoritas, yaitu mereka yang tidak berpuasa. Yang tetap butuh makan siang, minum, nongkrong-nongkrong menikmati kue-kue manis atau cemilan. Sehingga restoran tetap bisa buka (kecuali dengan pertimbangan ekonomis, lebih rame bila dibuka sore). Yang makan masih bisa makan. Yang mau minum masih bisa minum. Tidak perlu sembunyi-sembunyi, dan silakan saja bila hal itu dilakukan di depan yang berpuasa.

Di beberapa tempat, yang terjadi adalah sebaliknya. Tujuannya mungkin untuk membantu mereka yang berpuasa. Namun tanpa sadar, jadi bentuk pemaksaan terhadap minoritas untuk ikutan berpuasa. Restoran ditutup atau ditutupi kacanya. Gak boleh makan atau minum di depan mereka yang berpuasa. Dan bila tidak berpuasa, bukan cap temennya setan lagi yang ditempelkan dikeningnya, tapi naik derajat jadi "pengikut setan". Laki-laki tentu kelompok yang paling serba salah dan paling gampang untuk memperoleh cap ini karena relatif tidak ada alasan untuk tidak berpuasa. Kalau perempuan, masih bisa "ngeles" dengan berkata, "Saya lagi tidak berpuasa." atau "Saya lagi M". Malas, maksudnya.

Awas, Jangan Kepeleset!

Buat saya, usil dengan ketaqwaan itu perbuatan yang tidak berguna. Wong ketaqwaan diri sendiri aja masih perlu diusilin, hehe.. Jalan menuju taqwa bukan tangga yang kita tau dimana posisi kita berada sehingga kita bisa nengok ke belakang dan bilang ke orang di belakang kita "Payah lo, masih di bawah sana" :) Kita gak pernah tau sampai dimana ketaqwaan kita sebenarnya. Yang kita bisa tau adalah bahwa menjadi orang yang lebih baik itu adalah sebuah pilihan yang bisa kita ambil. Manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan pilihan. Manusia adalah tempatnya salah. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berefleksi dan berusaha lagi. So I guess the point is not necessarily doing the right thing, but do the things right.

Sehingga, jangan juga kita menghakimi mereka yang keliatannya sok-sok bertaqwa, lantas berkata, ah mereka itu saking taqwanya malah jadi busuk. Generalisasi dan pen-cap-an adalah penyakit sosial yang perlu diberantas. Ini biasanya dilakukan oleh mereka yang mengadvokasikan "Hormatilah orang yang tidak berpuasa". Saya setuju idenya dalam konteks menghargai hak-hak kelompok minoritas, namun bukan berarti kita jadi menghakimi semua orang yang berpuasa dan beramal shaleh mengikuti jejak dan memiliki mental yang sama dengan para pasukan FPI dan pasukan pembela moral lainnya.

Tidak semua orang Islam di negeri ini adalah FPI atau muslim berpandangan kolot :) Satu hal yang menurut saya, adalah tindakan "kepeleset" yang kadang dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai muslim moderat atau liberal :)

Agama tidak bergerak dalam ruang yang vakum. Masing-masing punya persepsi bagaimana kewajiban dan ritual agama diaplikasikan. Satu hal yang perlu kita bangun adalah bagaimana tradisi saling-menghormati dan tidak menghakimi bisa dibangun. Bukan cuma sekedar nafsu kepingin makanan padang yang harus kita kendalikan, namun juga nafsu kepingin makan orang :) Dengan cara tindak kekerasaan, kata-kata, maupun pikiran negatif terhadap sesama muslim. Amin.

Friday, August 21, 2009

Ramadhan 01: Maaf Memaafkan

Di milis WM (wanita-muslimah), pernah ada tradisi yang coba kita bangun selama ramadhan. Posting artikel ramadhan setiap hari selama sebulan penuh. Ide ini saya ambil, meski tentu dilakukan dng cara yg berbeda. Yang pasti sih tidak spt tulisan teman2 di WM yg super huebat. Wong isinya rata2 ustadz dan ustadzah, hehe. Tulisan saya sekedar tulisan asbun dng jurus sotoy. Jadi jangan harap akan ada kutipan ayat, hadist, dan kata-kata mutiara. Sekedar pikiran saya yg asbun dan gelar master of sotoy saja :) Mari kita lihat, sampai hari ke berapa ide asbun bin sotoynya masih bisa tersalurkan.. hehe.

Ramadhan 01: Maaf Memaafkan

Bulan ramadhan buat banyak orang dipraktekkan sbg bulan ritual maaf-memaafkan. Ia diawali dan diakhiri dengan maaf-memaafkan. Tahun ini, tumben cuma 2 sms soal maaf-memaafkan yang masuk. Biasanya hp penuh dengan sms itu. Dan biasanya pula, orang mengirimi beberapa kali dengan pelbagai media, mengucapkan langsung, sms, ym, email, fesbuk, dll. Bagus aja sih, asal kata maaf jangan jadi kata yang ringan diucapkan seperti kata makan (apa-apa kok ya dihubungi dng makan hehe).

Paku dan Lubang

Maaf memang jadi soal yang penting. Ada yg bilang, menyakiti hati orang itu seperti menancapkan paku. Bila pakunya dicabut, dia masih meninggalkan lubang yg menganga. Intinya sih, hati-hati dalam bertingkah dan berkata kepada orang lain. Jangan sampai menyakiti. Tapi kadang kita gak pernah tau, apakah orang lain tersakiti dng tingkah laku dan kata kita atau tidak. Bisa jadi karena standar ke-sensitif-an yang berbeda, kemampuan memaklumi orang yg berbeda, tidak semua orang bisa mengutarakan bahwa mereka sebenarnya tersakiti dll.

Jadi buat saya, minta maaf itu tindakan yang cukup penting. Saking pentingnya, sampai-sampai pernah ada teman yang bilang, "Lo sering banget sih minta maaf". Lhaaaa, minta maaf untuk sesuatu yang mereka pikir belum atau bahkan tidak perlu. Rupanya, saya kadang bisa lebih sensitif dari orang lain hehe. Saya pikir orang marah dng tindak dan ucapan saya, ternyata gak, hehehe.. Dan kalau saya sudah merasa bersalah, duh, ampun deh. Jadi baik banget hehe.. ngerayu abis dng cara saya sendiri.

Tindakan memaafkan juga perlu, termasuk memaafkan diri sendiri (yg mungkin lebih sulit). Saya justru agak bingung sama memaafkan, dibandingkan minta maaf, terutama untuk perbuatan yang punya dampak atau kerugian nyata. Ini lebih kompleks dibandingkan sekedar menyakiti perasaan. Entah hati saya terbuat dari batu hingga susah dirobek (halah...) atau memang dia punya kemampuan untuk memaafkan yang besar atau memang saya tipe orang yang tidak perduli (dan cepat lupa juga sih hehe).

Ada beberapa kejadian dimana orang yang tadinya memaki-maki atau memusuhi yang keterlaluan sama saya, lha... beberapa tahun kemudian malah jadi temen. Saya jadi tempat curhat dan bahkan minta diterapi pula. Kata tita, mungkin cuma lo yg bisa bikin orang begitu. Bukannya saya malaikat, cuma memiliki musuh itu tidak nyaman dibanding memiliki teman. Kalaupun orang sempat melakukan kegilaan dalam melabrak, biasa bukan? Because some people are simply nuts :) Tinggal digoreng dan dinikmati, selagi si kacang masih panas dan crunchy :))

Yang saya bingung, maaf yang menimbulkan dampak kerugian. Dua bulan ini, saya lagi terlibat program yg cukup sinting. Belum pernah saya pegang program se-sinting ini hehe. Suatu hari, salah satu staff yang harusnya membantu saya, resign mendadak di tengah persiapan serangkaian kegiatan yg riweuh lah pokoknya kalau ada yg resign. Dia melakukannya pun dengan tidak penuh etika. Udah mendadak, hari ini resign, besok langsung gak bisa bantu lagi, eh dia gak bantu untuk mencarikan pengganti pula.

Dia datang ke meja saya dengan muka yang takut. Maklum, muka saya memang setelannya jutek :) Ketika dia bilang maaf, saya jawab jujur dengan nada datar. "Maafnya sih saya terima, tapi itu tidak membantu menyelesaikan masalah saya karena kamu resign kan?" Dia minta pengertian saya kalau siang itu dia harus ke depnaker untuk pekerjaan barunya. Saya tidak menjawabnya dengan serentetan omelan, padahal dalam hati membatin, udah gw yg dirugikan, eh dia minta pengertian pulak... Saking speechlessnya, cuma mampu berkata, tolong diberesin kerjaan sebelum resign. Saya minta ini itu, anu ani dibereskan. Ignorance and order. Walhasil, dia nongkrong sebentar di kantor untuk membereskan ini itu.

Cabut Pakunya, Tutup Lubangnya

Buat saya, minta maaf kadang tidak cukup. Ini bukan soal hati yang tidak mampu memaafkan, but it is about cleaning your mess you created. Kita tidak saja harus mencabut pakunya, tapi juga menutup lubang akibat tertancapnya si paku tadi. Baru deh, minta maafnya jadi afdol. Di program yang sama, saya sempat melakukan kesalahan yang cukup fatal. Banyak yang bilang, itu tidak murni kesalahan saya. Buat saya, itu alasan yang mungkin mengurangi tapi tidak membenarkan secara penuh. Tadinya saya bingung, kok saya tidak dibenci atau setidaknya dimarahin hebat. Terus saya runut lagi apa yg saya lakukan setelah kejadian itu.

Seharian itu saya sibuk nelpon sana-sini. Yang pertama saya lakukan adalah menceritakan kesalahan yang saya lakukan, minta maaf, menjelaskan konteks masalahnya kenapa bisa itu terjadi and last but not least, clean up the mess. Mungkin tidak bisa mengembalikan kepada kondisi seharusnya, tapi yang saya lakukan adalah meminimalisir kerugian dan mencarikan jalan keluar. Entah saya dimaafkan karena itu, atau karena semua orang maklum itu terjadi dalam kondisi program yang super sinting (tapi penting, meski ada yg bilang ini kerjaan technicalities.. mudah2an yg bilang gitu tidak bermaksud jadi menurunkan nilai pekerjaan yang saya lakukan karena alasan saya ambil program ini karena komitmen ke lembaga tempat saya bekerja juga :D).

Dalam tingkat yang lebih tinggi lagi, bila terkait dengan tindak pidana. Mencuri, misalnya. Masa iya, habis mencuri terus minta maaf, maka persolan jadi selesai? Masalah alasan si pencuri karena persoalan ekonomi, adalah persoalan yang meringankan si pencuri. Yang dicuri boleh memaafkan, tapi baiknya mencari jalan keluar juga untuk "menghukum" si pencuri. Kalau masalahnya karena miskin, ya kasih pekerjaan sekalian biar gak mencuri lagi. Selemah-lemahnya iman, itulah "hukuman'nya. Kecuali mencuri hati, saya gak ngerti tuh penyelesaiannya gimana hehe.

Udah ah. Ngantuk, mo tidur. Kok penutup tulisannya kaya gini sih? :D

Monday, April 20, 2009

The Privacy Invaders

Wikipedia defines privacy as:

Privacy is the ability of an individual or group to seclude themselves or information about themselves and thereby reveal themselves selectively. The boundaries and content of what is considered private differ among cultures and individuals, but share basic common themes. Privacy is sometimes related to anonymity, the wish to remain unnoticed or unidentified in the public realm. When something is private to a person, it usually means there is something within them that is considered inherently special or personally sensitive. The degree to which private information is exposed therefore depends on how the public will receive this information, which differs between places and over time. Privacy can be seen as an aspect of security — one in which trade-offs between the interests of one group and another can become particularly clear.

The concept of privacy is most often associated with Western culture, English and North American in particular. According to some researchers, the concept of privacy sets Anglo-American culture apart even from other Western European cultures such as French or Italian.[1] The concept is not universal and remained virtually unknown in some cultures until recent times. A word "privacy" is usually regarded as untranslatable[2] by linguists. Many languages lack a specific word for "privacy". Such languages either use a complex description to translate the term (such as Russian "Неприкосновенность частной жизни") or borrow English "privacy" (as Indonesian "Privasi" or Italian "la privacy")[2].

Blog is a place where people share stories. It could be their own stories, this is when blog is our own online journal. Or, it could be other's people stories. We tell other people stories in our blog. Some do it by hiding the subject's real identities, creating imaginary or symbolic names, some just totally reveal their identities, probably accompany by all those swearing and nasty words. This is when our blog is our own personal trash can. You can throw anything in it, and you can even throw it to your most hated person.

We tell other people's stories for different reasons. The noblest one is probably to share the lesson learnt from their experiences. The shallowest one of course, when you do it for your own personal revenge plan. While there others who make their real life (including people surround them) into one big smashing hits novel :), which then, someone is making a movie out of it. Raditya the "kambing jantan" and andrea hirata with his tetralogy are only the samples. Despite the funny and touchy parts of their stories, have you ever wonder about Raditya's girlfriend (they broke up now) or A Ling's --andrea's first love crush-- or Andrea's girlfriend (forgot the name of the girl)? I mean, do you really want your ex-boyfriend telling stories about you two together, both in a novel and movie (and let's also count the infotainment too)?

We call it "privacy" because for some reasons, we would like keep it from the public realm. I always have questions and dilemmas whether I should bring other's people stories or not in this blog, in order to respect their privacy. Even, if they did some shittiest thing upon me. I did bring up those two bitches (should have brought up the third and the bitchiest :P) and then, erased them for good. At first, I didn't want to bring them up, until Tita asked me too, since they are the most important thing ever happened, hehe. But then again, I decided to erase them.

And I did make some stories, true stories, which involve other people's, but I tagged them. I think it is the question of ethical that you should let them know that you're writing about them.

Have I ever been brought up to other people's blog? Yes, couple times. A friend told me that she wrote my experience but of course, she made fake names to hide my identity. There is one article which I didn't know I was part of it. And to be honest, I found the subject to be "sensitive". Something that I don't even want to talk about.

I wanted to tell that person to delete it, but I guess that person has the rights to tell it. And that person seems a kind of person that tells other people's stories in blogs anyway. For whatever reasons, just assumes that person uploaded it for a good reason :) Thank God, that person spared my name. It's funny, though.. to see other people's perspectives about yourself. Probably, I'd write about that subject. It is now a public material anyway.

Privacy invaders? Well, I am a privacy invaders. People who can read beyond what a normal eyes see, are automatically privacy invaders. But that is totally different issues hehe..