Laws alone can not secure freedom of expression; in order that every man present his views without penalty, there must be spirit of tolerance in the entire population. (Albert Einstein)
Friday, September 11, 2009
Ramadhan 04: Semua Tangan Perlu Tau
Bulan ramadhan biasanya adalah bulan seribu musim. Sebut saja mulai dari musim beribadah, musim tobat, musim bersedekah, musim artis sinetron pake jilbab, musim tayangan sahur, musim kultum pengantar berbuka, musim rejeki nomplok buat para artis, musim kaca restoran dan warung-warung makan ditutupi kain atau karton, musim orang punya alasan ngeles untuk tidak produktif sampaiiii musim kolang-kaling, cincau, dan nata de coco cepat habis terjual di supermarket dan oh ya, musim timun suri (ujung-ujungnya kok ya selalu makanan :D).
Daya tarik utama bulan ramadhan tentu saja janji pahala, rahmat dan berkah yang berlimpah. Obral gila-gilaan. Di hari-hari biasa di bulan Ramadhan saja, pahala bisa berkali-kali lipat. Belum lagi, bila dapat "jackpot" malam lailatul Qadar. 1000 bulan! Yang berpikir hitung-hitungan mungkin serasa dapat tabungan pahala lebih dari seumur hidup. Pikirnya, kalau dapat, setelahnya bisa ongkang-ongkang kaki dalam beribadah :)
Sisi positifnya, semua orang berlomba-lomba dalam kebaikan, terutama dalam beramal jariyah. Sedekah lebih afdol di bulan puasa. Mungkin ini salah satu latar belakang munculnya THR. Bukan cuma untuk ketupat, sayur jakarta lengkap pakai petay, sambal goreng ati, daging, opor ayam dan kue-kue manis serta pakaian, sepatu, mukena, baju koko, dan sajadah baru, tapi juga untuk bersedekah.
THR saya saja biasanya habis untuk memberi hadiah sana-sini. Sebagian ditukar lima ribuan untuk
pasukan anak-anak kicing. Bedanya, dulu sih ditukar segepok uang seratusan. Namun sekarang, uang angpau itu pun kena inflasi! :D Belum lagi, anak-anak kicing sekarang makin pinter-pinter. Kecil-kecil sudah tau kalau uang yang berwarna biru bergambar gunung lebih rendah nilainya dibanding yang warna coklat, apalagi pink. Atau membedakan merahnya 10.000 dengan pink-nya 100.000. Jadi maunya, "Minta yang pinkkkkkkkk..." Pinter ya kalian, udah bisa membedakan antara merah dan pink :) Kita aja yang udah gede masih suka ketuker-tuker :P.
Tangan Kiri Tidak Boleh Tau?
Beda banget dengan bulan biasa. Saya teringat waktu plamus (planet muslim) masih berdiri dan aktif dulu. Setiap ramadhan kita selalu berlimpahan uang-uang ummat yang memberikan sumbangannya, sementara sisa bulan di luar ramadhan rata-rata musim paceklik.
Ngobrol soal sedekah dan amal jariyah ini, ada satu ungkapan yang diajarkan dari mulut ke mulut. Bersedekah itu, tangan kanan bersedekah, tangan kiri tidak boleh tau dan demikian sebaliknya. Maksudnya sih mulia, agar kita terhindar dari sifat riya.
Amal bila dilakukan secara diam-diam lebih bernilai lebih dibandingkan yang dilakukan secara gembar-gembor, apalagi kalau pakai konferensi pers segala. Kalau jaman sekarang, mungkin sarana gembar-gembornya nambah. Fesbuk, misalnya, yang memang selalu jadi ajang narsis yang paling asik buat banyak orang.
Dampak dari si tangan kiri gak boleh tau tadi umumnya adalah penulisan "hamba Allah" di lembar-lembar sumbangan. Mungkin mereka harusnya punya banyak nama seperti saya, hehe.. Bisa pakai herni, molly, atau hermun :P.
Tapi kalau dipikir-pikir, pertanggungjawabannya gimana ya? Bagaimana sebuah amal bisa dipertanggungjawabkan ke publik kalau banyak sekali "hamba Allah". Saya sih tidak suudzon dng yg menyumbang, namun lebih ke persoalan manajemen pengelolaan dana amalnya. Bagaimana kita tau panitia atau pihak yang berinisiatif mengelola itu jujur dan berintegritas tinggi? Bagaimana kita bisa percaya bahwa uang yang disumbangkan benar-benar diterima dan disalurkan?
Belum lagi persoalan takut riya tadi jadi membuat orang malu-malu kucing dalam menyumbang. Uang digenggam di tangan dan dimasukkan ke amplop tanpa terlihat. Dan benar, jangankan oleh orang lain, oleh si tangan kiri pun tidak terlihat.
Malu-malu yang kedua, umumnya orang malu-malu untuk menyumbang, apalagi bila nilai sumbangannya kecil. Padahal, Allah tidak bodoh seperti kita, yang sering melakukan penilaian dengan standar yang picik. Rahmat sumbangan itu bukan terletak dari besaran sumbangannya, namun prosentase dibandingkan harta yang kita punya plus keikhlasan. Keduanya merupakan informasi yang susah untuk diakses. Apalagi yang terakhir, cuma Allah yang bisa menilai hal itu. Udah gitu, akibatnya ternyata tidak mampu mengstimulus derasnya arus dana amal yang masuk.
Lalu, kalau melirik tradisi "tetangga" dimana sumbangan selalu dikoar-koarkan. Herni menyumbang 100 juta bulan ini...!!! dengan sebelum dan sesudahnya didoakan bersama. Dan orang jadi berlomba-lomba riya untuk menyumbang dalam jumlah yg lebih besar lagi.
Saya pun terpikir, mengapa tidak kita tiru? Mari berlomba-lomba... resiko menjadi riya pun tak apa. Toh itu bukan urusan kita... yang penting ada uang yang tersedia yang bisa dioptimalkan penyalurannya. Kalau orang mau riya, ya silakan saja. Toh itu urusan dia dengan Allah. Urusan kita adalah bagaimana kita bisa menerapkan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola dana amal tersebut. Jadi, logika berpikirnya terbalik. Bukan sekedar tangan kanan menyumbang, tangan kiri harus tau. Namun, semua tangan perlu tau :)
Ramadhan 03: Puasa dan Produktivitas
Kisah lain, sudah mafhum buat kami yang seringkali bolak-balik ke Aceh ini, bahwa sulit sekali mengadakan training di Aceh selama bulan puasa. Jangankan bulan puasa, bulan biasa saja sulit. Adalah suatu prestasi yang besar bila kami berhasil mempertahankan jumlah peserta hingga training usai. Itupun umumnya cuma sampai jam 5. Yang seringkali terjadi, peserta minta training dipercepat, dan kita harus agak sedikit licik untuk tidak memenuhi permintaan mereka itu.
Di beberapa tempat, terutama Aceh, ada beberapa ritual yang harus dilakukan. Umumnya seminggu sebelum puasa dan seminggu setelah puasa. Disinilah pengaruh adat dalam memberi warna pada pelaksanaan ritual agama terjadi. Sebagai "orang luar" tentunya kita harus mengerti dan sadar mengenai tradisi-tradisi lokal setempat.
Dan sudah mafhum juga bila beberapa bulan menjelang ramadhan, semua hotel yang biasa digunakan untuk pelaksanaan acara sudah penuh di-booking. Semua instansi dan organisasi agaknya "sepakat" untuk tidak mengadakan acara formal apapun selama bulan ramadhan. Alasannya lebih pada karena bulan puasa menurunkan produktivitas kerja sehingga melaksanakan kegiatan di bulan puasa bukan saja tidak efektif namun juga pasti diprotes orang banyak :) Tapi pertanyaannya adalah, apakah bulan puasa selalu harus dijadikan alasan untuk tidak produktif? Lantas, bagaimana kebijakan yang bisa diterapkan agar selama bulan puasa kita tetap bisa produktif?
Ramadhan Produktif
Mungkin ini berkah bulan ramadhan, alhamdulillah bulan ini kegiatan sedang banyak-banyaknya. Saya menamainya, bulan yang sinting jilid II :-) Saking sintingnya, meski tindakan pencegahan agar jadwal di bulan puasa bisa lebih longgar sudah dilakukan, namun masih ada rangkaian kegiatan yang terpaksa dilakukan pada bulan puasa. Kalau kegiatannya buat kita-kita saja tidak masalah, namun karena obyek dari kegiatan justru orang lain, ini yang jadi masalah. Minggu ini, ada serangkaian kegiatan dari senin hingga jum'at, full dari pagi hingga sore. Itupun sudah didiskon dari jam 10 pagi hingga 5 sore. Inipun saya sudah dibilang "dzolim" karena membiarkan orang mengikuti kegiatan dari jam 10 sampai 5.
Segala sesuatu memang tergantung cara pandang. Mari kita coba ganti kacamatanya, jadi kacamata kuda (toh kuda lambang hewan kuat dan hewan pekerja, hehe..). Bulan puasa, adalah bulan yang sangat produktif, baik untuk urusan pekerjaan dan ibadah. Bayangkan saja, tengah malam sudah bangun sambil ngucek-ngucek mata menyiapkan makanan sahur dengan sebelumnya bertahajud bila sempat, makan makanan yang sehat dan bergizi (menjaga kesehatan adalah sebagian dari iman :D), menunggu beduk shubuh sambil fesbuk-an atau mengerjakan hal yang lain, sholat shubuh, baca qur'an sebentar kalau lagi mood, beres-beres rumah dan berangkat kerja! Itu baru pagi hari.
Di kantor? Berkah ramadhan kali ini membuat perhatian terfokus pada pekerjaan. Di hari yang biasa pun, seringkali makan dan minum terlupakan bila pekerjaan datang tanpa henti (hayo sapa tuh, ngakuuu..!!! :D). Di bulan puasa ini, karena kita sudah sahur dan minum air putih berbotol-botol (tapi kemudian pipis terus jadi impas dong ya? hehe..), persoalan sakit karena kurang gizi, dehidrasi, ginjal dsb insha Allah tidak terjadi.
belum kelar.. dilanjut nanti ajah.. mau berangkat ke kantor :)
Saturday, August 22, 2009
Ramadhan 02: Berpuasa Itu Biasa Saja
Ada satu kejadian yang menarik. Dalam salah satu perjalanan, tokoh "selebriti" yang ada dalam rombongan kami rupanya terbiasa berpuasa. "Badan saya lebih sehat bila berpuasa, jadi hampir tiap hari saya puasa." Wah, nabi Daud aja kalah, pikir saya. Lucunya, kebiasaan ini membuat panitia penyambutan kikuk dan salah tingkah. Seharusnya rombongan berhenti di restoran mewah sebelum check-in di hotel. Karena si bapak sedang berpuasa, rencana cadangan secara kilat dibuat. Pasukan segera saja tidak jadi membawa si bapak ke restoran, namun langsung ke hotel.
Sementara kami, yang level kemampuan puasanya ini bahkan tidak mampu menyamai nabi Daud, mendapat kelimpahan rejeki makanan berlimpah! :) Selemah-lemahnya iman, bila tidak mampu berpuasa di luar bulan ramadhan, maka yang dapat dilakukan adalah tidak meninggalkan makanan berlimpah ruah sia-sia begitu saja. Mubazir adalah temannya setan. Sehingga pilihannya adalah makan atau jadi pengikut setan. Tentu saja kami memilih yang pertama :)
Tidak berhenti sampai situ, puasanya bapak jadi mengacaukan semua rencana yang terkait dengan makanan hari itu. Yang lebih lucu, si bapak yang berpuasa santai-santai saja. "Ah, saya sih sudah biasa. Silakan saja, kalian makan. Jangan sungkan-sungkan". Lalu dengan santainya, dia mengambil koran dan membaca.
Pengalaman di atas bercerita tentang menghargai mereka yang minoritas (oleh mereka yang mayoritas). Suatu nilai demokrasi yang perlu kita tegakkan. Idenya berangkat dari gagasan untuk menghindari adanya sikap otoriter dan bahkan penindasan dari mayoritas terhadap minoritas. Suatu nilai, yang saya yakin selaras dengan nilai keislaman.
Menghormati Kelompok Minoritas
Hal yang sama pernah saya alami sewaktu di Belanda. Kala itu kami mencicipi nongkrong di sebuah kafe di dekat kampus. Waktu itu kami cuma berempat, Eka, Kay, Meezan dan saya. Kebetulan Meezan sedang tidak puasa. Ketika hendak memesan makanan, Eka dan Kay kaget karena saya sedang puasa. Mereka lantas tidak enak memesan makanan. Saya sibuk meyakinkan mereka, "Tidak apa-apa. Pesan saja. Gak akan ngiler hehe.." Sepanjang sore itu kami ngobrol-ngobrol dengan ditemani makanan, kue-kue manis, teh hangat, yang tentu saja tidak bisa saya nikmati. Buat saya, puasa tidak bisa dijadikan alasan untuk mengubah kondisi di sekitar saya agar saya lebih "enak" berpuasa. Ini bertentangan dengan law of attraction, dimana semesta kali ini tidak perlu mengikuti mau-nya saya :) Nyontek dari ERK, berpuasa itu biasa saja :-)
Sebagai mayoritas, kita tetap perlu memperhatikan kepentingan minoritas, yaitu mereka yang tidak berpuasa. Yang tetap butuh makan siang, minum, nongkrong-nongkrong menikmati kue-kue manis atau cemilan. Sehingga restoran tetap bisa buka (kecuali dengan pertimbangan ekonomis, lebih rame bila dibuka sore). Yang makan masih bisa makan. Yang mau minum masih bisa minum. Tidak perlu sembunyi-sembunyi, dan silakan saja bila hal itu dilakukan di depan yang berpuasa.
Di beberapa tempat, yang terjadi adalah sebaliknya. Tujuannya mungkin untuk membantu mereka yang berpuasa. Namun tanpa sadar, jadi bentuk pemaksaan terhadap minoritas untuk ikutan berpuasa. Restoran ditutup atau ditutupi kacanya. Gak boleh makan atau minum di depan mereka yang berpuasa. Dan bila tidak berpuasa, bukan cap temennya setan lagi yang ditempelkan dikeningnya, tapi naik derajat jadi "pengikut setan". Laki-laki tentu kelompok yang paling serba salah dan paling gampang untuk memperoleh cap ini karena relatif tidak ada alasan untuk tidak berpuasa. Kalau perempuan, masih bisa "ngeles" dengan berkata, "Saya lagi tidak berpuasa." atau "Saya lagi M". Malas, maksudnya.
Awas, Jangan Kepeleset!
Buat saya, usil dengan ketaqwaan itu perbuatan yang tidak berguna. Wong ketaqwaan diri sendiri aja masih perlu diusilin, hehe.. Jalan menuju taqwa bukan tangga yang kita tau dimana posisi kita berada sehingga kita bisa nengok ke belakang dan bilang ke orang di belakang kita "Payah lo, masih di bawah sana" :) Kita gak pernah tau sampai dimana ketaqwaan kita sebenarnya. Yang kita bisa tau adalah bahwa menjadi orang yang lebih baik itu adalah sebuah pilihan yang bisa kita ambil. Manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan pilihan. Manusia adalah tempatnya salah. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha, berefleksi dan berusaha lagi. So I guess the point is not necessarily doing the right thing, but do the things right.
Sehingga, jangan juga kita menghakimi mereka yang keliatannya sok-sok bertaqwa, lantas berkata, ah mereka itu saking taqwanya malah jadi busuk. Generalisasi dan pen-cap-an adalah penyakit sosial yang perlu diberantas. Ini biasanya dilakukan oleh mereka yang mengadvokasikan "Hormatilah orang yang tidak berpuasa". Saya setuju idenya dalam konteks menghargai hak-hak kelompok minoritas, namun bukan berarti kita jadi menghakimi semua orang yang berpuasa dan beramal shaleh mengikuti jejak dan memiliki mental yang sama dengan para pasukan FPI dan pasukan pembela moral lainnya.
Tidak semua orang Islam di negeri ini adalah FPI atau muslim berpandangan kolot :) Satu hal yang menurut saya, adalah tindakan "kepeleset" yang kadang dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai muslim moderat atau liberal :)
Agama tidak bergerak dalam ruang yang vakum. Masing-masing punya persepsi bagaimana kewajiban dan ritual agama diaplikasikan. Satu hal yang perlu kita bangun adalah bagaimana tradisi saling-menghormati dan tidak menghakimi bisa dibangun. Bukan cuma sekedar nafsu kepingin makanan padang yang harus kita kendalikan, namun juga nafsu kepingin makan orang :) Dengan cara tindak kekerasaan, kata-kata, maupun pikiran negatif terhadap sesama muslim. Amin.
Friday, August 21, 2009
Ramadhan 01: Maaf Memaafkan
Monday, April 20, 2009
The Privacy Invaders
We call it "privacy" because for some reasons, we would like keep it from the public realm. I always have questions and dilemmas whether I should bring other's people stories or not in this blog, in order to respect their privacy. Even, if they did some shittiest thing upon me. I did bring up those two bitches (should have brought up the third and the bitchiest :P) and then, erased them for good. At first, I didn't want to bring them up, until Tita asked me too, since they are the most important thing ever happened, hehe. But then again, I decided to erase them.
And I did make some stories, true stories, which involve other people's, but I tagged them. I think it is the question of ethical that you should let them know that you're writing about them.
Have I ever been brought up to other people's blog? Yes, couple times. A friend told me that she wrote my experience but of course, she made fake names to hide my identity. There is one article which I didn't know I was part of it. And to be honest, I found the subject to be "sensitive". Something that I don't even want to talk about.
I wanted to tell that person to delete it, but I guess that person has the rights to tell it. And that person seems a kind of person that tells other people's stories in blogs anyway. For whatever reasons, just assumes that person uploaded it for a good reason :) Thank God, that person spared my name. It's funny, though.. to see other people's perspectives about yourself. Probably, I'd write about that subject. It is now a public material anyway.
Privacy invaders? Well, I am a privacy invaders. People who can read beyond what a normal eyes see, are automatically privacy invaders. But that is totally different issues hehe..
Thursday, April 16, 2009
Me, Tita & Porky


Namanya Porky, si boneka babi berwarna pink. Dibeli tahun 2005, sebelum ke Belanda, dari Ole. Seketika dijadikan obyek foto dengan berbagai macam pose, tentu saja. Sayangnya, hanya dua foto ini yang tersisa, thanks to dek Iphe. Foto-foto dengan porky harus lenyap bersamaan dengan hp lama yang tiba-tiba mati total.
Tuesday, April 14, 2009
On Sorry
It’s sad, so sad
It’s a sad, sad situation
And it’s getting more and more absurd
It’s sad, so sad
Why can’t we talk it over
Oh it seems to me
That sorry seems to be the hardest word
(Elton John).
Buat sebagian orang, kata maaf menjadi satu kata yg sulit untuk diucapkan. Entah teman, pacar, orang tua yang enggan meminta maaf pada anaknya, dan bahkan Pemerintah. Ya, adalah sangat tidak masuk akal ketika Parlemen Belanda memutuskan untuk menolak permohonan seorang wakil negara Indonesia untuk sebuah permohonan maaf karena telah menjajah rakyat Indonesia selama beratus-ratus tahun. Atau dalam film Civil Action-nya John Travolta, yang bercerita tentang sebuah perusahaan yang membuang limbahnya sembarangan dan melukai pemuda-pemudi setempat, namun menolak untuk sekedar mengucap kata maaf dan memilih untuk memberikan ‘uang damai’ sebesar 8 juta dollar, atau sekitar 375ribu dollar (setelah dipotong biaya pengacara, biaya perkara dll) per orang untuk anak-anak mereka yang meninggal jadi korban. I mean, how do they sleep? How do they forgive themselves? Or maybe they don’t feel guilty at all.
In personal sphere, if you still have consciouness, to ask forgiveness is to forgive yourself. Untuk mengucap kata ‘maaf’ adalah bagian dari proses untuk memaafkan diri sendiri, yang telah melukai orang lain.
Tapi, ternyata persoalan tidak semudah itu. Pertanyaannya kemudian adalah, sampai sejauhmanakah kata maaf dianggap sudah cukup? Cukupkah kata maaf ketika perbuatan tersebut sudah mengakibatkan kerugian material maupun immaterial bagi orang lain? For some people, in some cases, maybe ’sorry’ would not be enough… to compesate. Otherwise, we wouldn’t have any legal action to deal with it, right?
Terlebih ketika bagi sebagian orang, kata maaf menjadi satu kata yg mudah untuk diucapkan. Just say "Sorry" and the problem is considered solved. The person who said sorry is considered has redemption for any actions he/she may caused. And then, case closed. But, is it? Accepting other person's apology is one thing, restoring things to normal before it was impaired by his/her doing is a totally different thing. You probably would look at him/her in totally different perspective. Like a song from the Corrs, you are forgiven, but not forgotten. People may say it is already forgotten, but perhaps there is levels or degrees of forgetting something or someone that they don't aware of . Sometimes, you unconsiously make a note and keep it somewhere within you.
Another option is, to talk over, including between you and yourself. So, ’sorry’ is something to negotiate. Something that we have to compromise. Something to be agreed and deal with. But in personal sphere, it doesn’t always work that easy. Kadang-kadang, kita terpaksa harus ‘ikhlas’ menerima kata maaf, bahkan ketika perbuatan yang dihasilkan sudah menimbulkan kerugian… immaterial maupun material. And you wish that something would suddenly hit your head and take your memories away. Atau kita berharap, kita dikaruniai sifat pelupa. You simply just want to forget it, by not necessarily talking about it.
Dan maaf, menjadi sebuah kata yg tidak saja sulit tapi juga penuh dilema
Yeah, sorry…