Friday, August 21, 2009

Ramadhan 01: Maaf Memaafkan

Di milis WM (wanita-muslimah), pernah ada tradisi yang coba kita bangun selama ramadhan. Posting artikel ramadhan setiap hari selama sebulan penuh. Ide ini saya ambil, meski tentu dilakukan dng cara yg berbeda. Yang pasti sih tidak spt tulisan teman2 di WM yg super huebat. Wong isinya rata2 ustadz dan ustadzah, hehe. Tulisan saya sekedar tulisan asbun dng jurus sotoy. Jadi jangan harap akan ada kutipan ayat, hadist, dan kata-kata mutiara. Sekedar pikiran saya yg asbun dan gelar master of sotoy saja :) Mari kita lihat, sampai hari ke berapa ide asbun bin sotoynya masih bisa tersalurkan.. hehe.

Ramadhan 01: Maaf Memaafkan

Bulan ramadhan buat banyak orang dipraktekkan sbg bulan ritual maaf-memaafkan. Ia diawali dan diakhiri dengan maaf-memaafkan. Tahun ini, tumben cuma 2 sms soal maaf-memaafkan yang masuk. Biasanya hp penuh dengan sms itu. Dan biasanya pula, orang mengirimi beberapa kali dengan pelbagai media, mengucapkan langsung, sms, ym, email, fesbuk, dll. Bagus aja sih, asal kata maaf jangan jadi kata yang ringan diucapkan seperti kata makan (apa-apa kok ya dihubungi dng makan hehe).

Paku dan Lubang

Maaf memang jadi soal yang penting. Ada yg bilang, menyakiti hati orang itu seperti menancapkan paku. Bila pakunya dicabut, dia masih meninggalkan lubang yg menganga. Intinya sih, hati-hati dalam bertingkah dan berkata kepada orang lain. Jangan sampai menyakiti. Tapi kadang kita gak pernah tau, apakah orang lain tersakiti dng tingkah laku dan kata kita atau tidak. Bisa jadi karena standar ke-sensitif-an yang berbeda, kemampuan memaklumi orang yg berbeda, tidak semua orang bisa mengutarakan bahwa mereka sebenarnya tersakiti dll.

Jadi buat saya, minta maaf itu tindakan yang cukup penting. Saking pentingnya, sampai-sampai pernah ada teman yang bilang, "Lo sering banget sih minta maaf". Lhaaaa, minta maaf untuk sesuatu yang mereka pikir belum atau bahkan tidak perlu. Rupanya, saya kadang bisa lebih sensitif dari orang lain hehe. Saya pikir orang marah dng tindak dan ucapan saya, ternyata gak, hehehe.. Dan kalau saya sudah merasa bersalah, duh, ampun deh. Jadi baik banget hehe.. ngerayu abis dng cara saya sendiri.

Tindakan memaafkan juga perlu, termasuk memaafkan diri sendiri (yg mungkin lebih sulit). Saya justru agak bingung sama memaafkan, dibandingkan minta maaf, terutama untuk perbuatan yang punya dampak atau kerugian nyata. Ini lebih kompleks dibandingkan sekedar menyakiti perasaan. Entah hati saya terbuat dari batu hingga susah dirobek (halah...) atau memang dia punya kemampuan untuk memaafkan yang besar atau memang saya tipe orang yang tidak perduli (dan cepat lupa juga sih hehe).

Ada beberapa kejadian dimana orang yang tadinya memaki-maki atau memusuhi yang keterlaluan sama saya, lha... beberapa tahun kemudian malah jadi temen. Saya jadi tempat curhat dan bahkan minta diterapi pula. Kata tita, mungkin cuma lo yg bisa bikin orang begitu. Bukannya saya malaikat, cuma memiliki musuh itu tidak nyaman dibanding memiliki teman. Kalaupun orang sempat melakukan kegilaan dalam melabrak, biasa bukan? Because some people are simply nuts :) Tinggal digoreng dan dinikmati, selagi si kacang masih panas dan crunchy :))

Yang saya bingung, maaf yang menimbulkan dampak kerugian. Dua bulan ini, saya lagi terlibat program yg cukup sinting. Belum pernah saya pegang program se-sinting ini hehe. Suatu hari, salah satu staff yang harusnya membantu saya, resign mendadak di tengah persiapan serangkaian kegiatan yg riweuh lah pokoknya kalau ada yg resign. Dia melakukannya pun dengan tidak penuh etika. Udah mendadak, hari ini resign, besok langsung gak bisa bantu lagi, eh dia gak bantu untuk mencarikan pengganti pula.

Dia datang ke meja saya dengan muka yang takut. Maklum, muka saya memang setelannya jutek :) Ketika dia bilang maaf, saya jawab jujur dengan nada datar. "Maafnya sih saya terima, tapi itu tidak membantu menyelesaikan masalah saya karena kamu resign kan?" Dia minta pengertian saya kalau siang itu dia harus ke depnaker untuk pekerjaan barunya. Saya tidak menjawabnya dengan serentetan omelan, padahal dalam hati membatin, udah gw yg dirugikan, eh dia minta pengertian pulak... Saking speechlessnya, cuma mampu berkata, tolong diberesin kerjaan sebelum resign. Saya minta ini itu, anu ani dibereskan. Ignorance and order. Walhasil, dia nongkrong sebentar di kantor untuk membereskan ini itu.

Cabut Pakunya, Tutup Lubangnya

Buat saya, minta maaf kadang tidak cukup. Ini bukan soal hati yang tidak mampu memaafkan, but it is about cleaning your mess you created. Kita tidak saja harus mencabut pakunya, tapi juga menutup lubang akibat tertancapnya si paku tadi. Baru deh, minta maafnya jadi afdol. Di program yang sama, saya sempat melakukan kesalahan yang cukup fatal. Banyak yang bilang, itu tidak murni kesalahan saya. Buat saya, itu alasan yang mungkin mengurangi tapi tidak membenarkan secara penuh. Tadinya saya bingung, kok saya tidak dibenci atau setidaknya dimarahin hebat. Terus saya runut lagi apa yg saya lakukan setelah kejadian itu.

Seharian itu saya sibuk nelpon sana-sini. Yang pertama saya lakukan adalah menceritakan kesalahan yang saya lakukan, minta maaf, menjelaskan konteks masalahnya kenapa bisa itu terjadi and last but not least, clean up the mess. Mungkin tidak bisa mengembalikan kepada kondisi seharusnya, tapi yang saya lakukan adalah meminimalisir kerugian dan mencarikan jalan keluar. Entah saya dimaafkan karena itu, atau karena semua orang maklum itu terjadi dalam kondisi program yang super sinting (tapi penting, meski ada yg bilang ini kerjaan technicalities.. mudah2an yg bilang gitu tidak bermaksud jadi menurunkan nilai pekerjaan yang saya lakukan karena alasan saya ambil program ini karena komitmen ke lembaga tempat saya bekerja juga :D).

Dalam tingkat yang lebih tinggi lagi, bila terkait dengan tindak pidana. Mencuri, misalnya. Masa iya, habis mencuri terus minta maaf, maka persolan jadi selesai? Masalah alasan si pencuri karena persoalan ekonomi, adalah persoalan yang meringankan si pencuri. Yang dicuri boleh memaafkan, tapi baiknya mencari jalan keluar juga untuk "menghukum" si pencuri. Kalau masalahnya karena miskin, ya kasih pekerjaan sekalian biar gak mencuri lagi. Selemah-lemahnya iman, itulah "hukuman'nya. Kecuali mencuri hati, saya gak ngerti tuh penyelesaiannya gimana hehe.

Udah ah. Ngantuk, mo tidur. Kok penutup tulisannya kaya gini sih? :D

1 comment:

Anonymous said...

yang lebih penting dari memaafkan adalah tidak hanya di mulut saja. Banyak orang bilang memaafkan tapi di belakang orang ybs dia terus saja menceritakan hal-hal negatif tentang orang itu. Gue rasa lebih baik tidak memaafkan dan orang itu tau konsekuensinya, daripada memaafkan tapi masing ngomongin di belakang.

-es-