Thursday, April 9, 2009

Dari Golput-ers untuk Caleg Perempuan


Ada yang berbeda dengan Pemilu 2009. Pertama, saya akhirnya memutuskan untuk memilih! Kedua, saya tidak lagi memilih partai, tapi individu. Ketiga, dan ini yang mungkin paling penting, semua ini adalah gara-gara: perempuan! :-)

Terakhir saya memilih adalah tahun 1999. Pemilu 2004 yang lalu, saya golput. Tadinya, pemilu kali ini pun saya berencana untuk golput, berdasarkan alasan-alasan yang sebelumnya sudah saya ungkapkan di blog ini. Tapi rupanya, ada yg membangunkan salah satu kawanan singa tidur bernama golput ini: caleg perempuan. Hal ini didorong juga dengan file daftar caleg perempuan yang perlu didukung dari mbak Dewi Tjakrawinata APAB (Aliansi Pelangi Antar Bangsa). Daftar caleg perempuan yang selama ini memang terbukti komitmennya untuk memperjuangkan keadilan jender.

Saya memilih mereka, meskipun saya tidak suka dengan partai yang direpresentasikannya. Pilihan saya jatuh pada caleg perempuan yang berasal dari salah satu partai yang kental dengan nuansa Islam (tapi bukan PKS, hehe), namun saya kenal dan tau baik sepak terjangnya selama ini dalam advokasi RUU Pelayanan Publik. Dia aleg yang bersuara lantang dan mampu bersikap tegas dalam rapat-rapat. Dia sangat akomodatif dan selalu menyediakan waktu untuk memahami substansi dari advokasi kita. Dia juga sangat terbuka dengan kritik, ketika pers release yang dikeluarkan oleh Jaringan Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3) membuat Pak Sayuti, konon katanya, kecewa. Dia mampu menerima kritik kami terhadap DPR sebagai lembaga dan secara legowo mengakui kelemahan-kelemahan institusi itu.
Buat saya, ketika kita bicara soal partai yang tidak memiliki platform, yang masih tidak profesional, dan segala masalah lainnya, kita bicara soal sistem. Dan memperbaiki sistem itu, tidak semudah membalikan telapak tangan. Ikut pemilu dan mencontreng nama salah satu caleg perempuan pun, tidak serta merta membuat sistem itu menjadi demokratis. Tapi yang pasti, kita butuh individu-individu yang terbuka dan memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki sistem. Kita membutuhkan individu-individu yang bisa memberikan "sentuhan perempuan" dalam sistem. Membawa semangat keadilan jender di parlemen.
Bicara caleg perempuan tentu tidak bicara soal representasi, jumlah dan muka perempuan di parlemen. Bicara caleg perempuan juga bicara bagaimana caleg perempuan bisa memberikan kontribusi bagi perubahan di parlemen pada tidak saja pada tataran manajemen, namun juga pada tataran aras. Perubahan yang mengajak baik perempuan maupun laki-laki untuk peduli pada isu keadilan jender.

Dan bila ada yang mengatakan, pemilu akan selalu bentuk kompromi untuk memilih yang lebih tidak buruk dari buruk-buruk, maka bentuk kompromi itu buat saya adalah, saya memilih individunya meskipun saya tidak terlalu "sreg " dengan partainya. Tentu saja, tiap kompromi memiliki batas toleransi. Demikian pula dengan pertimbangan partai yang direpresentasikannya. Saya memiliki batas toleransi saya sendiri.

Jadi pemilu kali ini, saya sebagai anggota kawanan golput, bangun hanya untuk menyontreng, demi parlemen dan pelaksanaan fungsi representasi yang berkeadilan jender.

No comments: